[copas banget] mimpinya tentang kampus madani


Saya menemukan ini di blog ridwansyahyusufachmad.wordpress.com – blog ini bukan blog asing bagi saya, sejak menyelami dunia kampus 3 tahun yang lalu, saat itu juga saya menjadi penghuni setia blog tersebut.. begitu banyak inspirasi kampus yang bisa saya ambil sebagai oleh-oleh ketika menjelajah dunia maya. Kali ini akan saya coba teruskan untuk menyebarkan salah satu postingannya yang membuat saya jadi terinspirasi membuat sekolah madani..

Lets read..

—————–

Asholaa tu khoiyyum minna naum….

Asholaa tu khoiyyum minna nauuum…..

Allahu Akbar… Allahu Akbar….

Laa ilaaha ilallah…..

 

Lantuntan azan yang mendayu membangunkan pagi, seperti muslim lainnya, meski dalam keadaan setengah sadar, aku bergegas ke masjid untuk ibadah subuh berjamaah. Udara dingin yang menusuk kulit seakan menjadi godaan tersendiri bagi umat muslim untuk sholat di masjid.

 

Kawan, pagi itu selepas subuh aku kembali lagi ke rumah untuk mempersiapkan kuliah pagi ini. Kawan, ini adalah hari pertama bagiku untuk mengajar di kampus yang telah mendidik ku menjadi seorang sarjana yang tangguh. Dan ternyata Allah mengizinkan diriku untuk kembali menguatkan dakwah kampus.

 

Aku memulai pagiku dengan merapihkan rak buku, memilah antara buku yang berhubungan dengan akademik, buku agama, dan buku umum lainnya. Dalam tumpukan buku-buku agama, terselip sebuah buku, buku yapagng sangat berkesan untukku, kawan itu adalah buku Sayyid Qutb yang berjudul petunjuk jalan.  Pagi itu aku terbawa pada masa-masa silam dimana buku berwarna hijau itu aku baca saat masih mahasiswa. Sebuah mimpi akan seorang revolusioner muslim yang sangat kuat, Imam Sayyid Qutb telah mengubah pemikiran anak muda sesuai saya dulu menjadi pribadi yang terus dan terus ingin berjuang.

 

Dalam indahnya khayal buku tersebut, aku berpikir “apa yang bisa aku lakukan sebagai seorang dosen untuk membuat kampus ku menjadi kampus yang madani”. Pikiran ku pun terbawa pada sebuah angan masa lalu, kampus madani. Sebuah cita-cita mulai seorang mahasiswa yang ingin melihat kampusnya penuh nuansa Islam.

 

Aku pun terbawa suasana mimpi kampus madani sembari merapihkan rak buku kayu yang sudah berdebu. Aku coba bersihkan setiap debu yang melekat, menyusun buku demi buku sehingga menjadi rak buku yang nyaman untuk digunakan. Tak lama setelah itu, aku bergegas membuka laptop ku dan menyiapkan mata kuliah hari ini, “hmm.,perencanaan wilayah dan politik dalam perencanaan , dua mata kuliah, oke, bismillah”.

 

Pagi itu hingga menjelang dhuha aku mencoba menyiapkan dengan sepenuh hati presentasi dua kuliah ku hari itu. Sebenarnya rasa inginku untuk bergegas ke kampus semakin penuh semangat karena rasa penasaran dari diri untuk mengetahui apa yang bisa aku lakukan untuk membuat kampus madani. Aku sudah berjanji dengan adik-adik ku yang masih mahasiswa, bahwa aku akan membuat legenda bersama mereka. Bukan hanya sekedar legenda, melainkan realisasi akan harapan besar dakwah di kampus ini.

…..

Dengan mengendarai sepeda motor aku melaju ke kampus dan berencana memakirkan sepeda motorku di parkiran kampus. Sebuah pemandangan sangat menakjubkan aku rasakan, senyum sapa dan salam yang sangat tulus terlontar dari petugas parkir di kampus. Tiada keluhan atau omelan kepada pengendara yang memarkirkan motor tidak rapih. Mereka menegur dengan sangat santun dan membantu merapihkan motor dengan baik. Tiada kata kasar atau mimik marah yang terpancar, ketulusan melayani sangat terasa dalam setiap gerak-gerik mereka merapihkan motor.

 

Saya tertarik pada sikap mereka, sembari merapihkan motor saya mengajak mereka berbincang santai,

“Aa Damang ? sibuk nih ya Aa, banyak motornya”saya memulai menyapa

“ah udah biasa mas, namanya mahasiswa, mereka udah susah susah kuliah, kita harus dukung mereka biar kuliahnya bener”

“wah si Aa bisa aja, enak ya Aa kerja di kampus ? gaji naik kah? Hehe”

“alhamdulillah mas, sekarang bisalah kita hidup lebih baik, meski cuma juragan parkir, kampus bener-bener merhatiin kami”

“alhamdulillah ya Aa, maaf nih Aa kalo adik-adik mahasiswa kadang suka gak rapih, saya duluan ya Aa”

“iya mas, kami senang bantu mahasiswa, hati-hati mas”

 

Percakapan singkat tersebut sangat menyentuh hati saya, dan saya menjadi berpikir bahwa kampus ini sudah sangat memperhatikan kesejahteraan civitasnya, bukan hanya dosen dan karyawan, melainkan keseluruhan sistem kampus. Bahkan hingga petugas parkir sudah diberikan kelayakan pendapatan.

 

Saya kembali teringat dengan wajah tulus yang diberikan oleh petugas parkir, mereka tiada ada rasa jengkel terhadap ulah mahasiswa yang tidak rapih, mereka telah menyadari bahwa mereka memiliki tugas yang sangat mulia yakni memberikan rasa aman bagi para calon pemimpin bangsa kelak, para mahasiswa. Subhanallah, saya hanya mampu mengucapkan lafadz itu, betapa indahnya kampus ini ketika penghuninya sudah memiliki visi yang mulia dalam menjalani kehidupan.

……

Perjalanan ke program studi perencanaan wilayah dan kota cukup dekat dari parkiran, memakan waktu hanya sekitar sepuluh menit dengan berjalan santai. Aku pun menikmati pemandangan yang sangat indah di kampus ini, tempat kumpulan ATM di kampus telah berubah, beberapa label syariah sudah menyertai nama bank yang ada disana. Saya pun memperhatikan, tampaknya yang menggunakan bank konvensional hanya non-muslim. Saya memprediksi dari wajah mereka, dan saya yakin mereka bukan seorang muslim.

 

Sangat wajar saya berpikir, kenapa antrian di bank syariah menjadi sangat panjang, karena semua muslim telah menggunakan bank syariah. Saya pun menyapa seorang mahasiswa jurusan saya, seorang mahasiswa tingkat dua yang kebetulan pernah bertemu sebelumnya,

“Assalamualaikum” saya menyapa

“waalaikumsalam pak yusuf” ia menjawab salam ku

“lagi antri di bank ya ? ikutan bank syariah ya ?” saya bertanya iseng ingin tahu

“iya pak, sejak beberapa tahun lalu. Saat pendaftaran, setiap mahasiswa boleh memilih untuk menggunakan kartu tanda mahasiswa dari bank syariah atau konvensional”

“wahhh, subhanallah… mantabbb… trus jadi yang muslim banyak yang ke syariah ya?”

“tidak hanya muslim pak, bahkan beberapa non-muslim juga pada ikut pengen punya KTM bank syariah” ia menjawab dengan penuh semangat

“wah hebat, oke..oke.. lanjtin antrinya,, jangan telat kuliah saya ya nanti”

“iya pak yusuf, insya Allah”

 

Kami pun berpisah, saya tertawa sendiri mengetahui informasi barusan, ternyata lingkungan pendidikan di kampus ini sudah mendukung keberadaan bank syariah. Dan caranya pun tidak memaksa, mereka memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memilih apakah ingin menggunakan perbankan syariah atau tidak.

 

Rasa syukur pun aku panjatkan, betapa tidak. Perbankan syariah yang telah dibuat oleh para yahudi telah membuat ekonomi dunia menjadi ekonomi yang kosong. Jumlah mata uang yang dicetak telah melebihi jumlah cadangan emas sebuah negara. Bagaimana mungkin harga emas ditukar hanya dengan selembar kertas. Dan sistem syariah yang sesuai dengan ketentuan Islam dapat menyelamatkan dunia dari bubble economic development.

 

Kawan, ini cerita tentang sebuah kampus yang telah berhasil menanamkan ekonomi syariah dengan cara yang baik, bahkan non-muslim menjadi nyaman untuk menggunakannnya. Dalam hati aku berpikir “inikah kampus madani?”.

………

Pagi yang cerah di iringi daun mahoni yang beguguran, dedaun kering pun berjatuhan basah karena hujan yang mengguyur kota kembang semalaman. Petugas kebersihan menyapu daundaun kering itu dengan riang seakan sedang bermain. Aura bahagia sangat terasa pada diri mereka. Para mahasiswa yang akan melewati daundaun yang akan disapu pun tampak sopan, mereka sedikit membungkukan badan sembari menyapa petugas kebersihan dengan “punten Aa”. Sebuah kebiasaan yang sangat baik, mereka benar-benar menghormati setiap orang.

 

Dalam asyiknya menyaksikan kesopanan mahasiswa itu, saku teralihkan pada pemandangan yang lain. Aku melihat seorang mahasiswa yang memegang bungkus bekas makanan sembari berjalan. Aku pun menjadi bertanya dalam hati “mengapa tidak dibuang aja sampahnya”. Mata ku mengikuti mahasiswa itu berjalan, hingga ia membuang sampahnya pada tempat sampah bertuliskan “sampah anorganik”. Pemandangan yang sangat cantik, seorang mahasiswa rela memegang cukup lama seonggok sampah demi membuangnya di tempat sampah khusus untuk plastik. Ia rela melewati beberapa tempat sampah yang organik untuk menjaga kualitas lingkungan kampusnya. Atau dengan kata lain -saya berpikir- jiwa kampus yang berwawasan lingkungan bukan lagi sekedar pembangunan infrastruktur melainkan sudah menjadi kebiasaan hidup dari mahasiswa.

 

Langkahku pun berlanjut ke arah program studi tempat aku mengajar, sambil memandangi beberapa majalah dinding di kampus. Tempat mahasiswa menempelkan publikasi kegiatannya. Aku memperhatikan dengan seksama, tiada ada lagi saling meniban atau merusak publikasi kegiatan lain. Semua tersusun dengan sangat baik sehingga orang-orang dapat membaca dan menyerap informasi dengan sangat baik.

 

Aku juga memperhatikan tidak ada propaganda gelap yang isinya berupa provokasi yang cenderung desktruktif. Bisa jadi memang aspirasi sudah bisa di sampaikan dengan baik kepada yang bersangkutan atau yang bertanggung jawab, sehingga tidak perlu lagi ada “surat kaleng” atau “kampanye gelap” yang hanya menggangu ketentraman mahasiswa.

 

Langkahku pun terhenti di depan lift program studi ku. Dan aku pun kembali memandang sekeliling sembari merenungkan kembali makna kampus madani. Dan aku pun menyimpulkan,

 

“kampus madani bukan hanya sekedar keadaan dimana semua muslim menjalankan ibadah dengan baik, tetapi lebih mendalam dari itu, sebuah keadaan dimana Islam telah diterima oleh semua civitas academica baik muslim dan non-muslim. Islam telah menjadi sistem sosial dari kehidupan kampus.”

………

Kuliah pagi ini adalah kuliah pertama bagiku sebagai seorang dosen. Seperti orang pada umumnya, sesuatu yang pertama selalu penuh gairah. Seperti yang iklan sering sampaikan, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Ya, aku pun ingin menyiapkan kuliah pertama dengan baik, memberikan kesan yang baik bagi mahasiswa. Aku datang ke ruang kuliah lebih awal sekitar 5 menit, untuk menyiapkan segala kebutuhan perkuliahan.

 

Setiba di ruangan, aku segera menyalakan laptop ku, dan memeriksa kembali presentasi perkuliahan yang akan disampaikan. Saat sedang asyik melihat dan mengecek presentasi, seorang mahasiswa datang, “anak mesjid nih tampaknya” aku membatin dalam hati seketika setelah melihat tampilannya yang bercelana  bahan.

 

Mahasiswa itu pun menyapa ku dengan senyuman yang tulus, “kuliah perencanaan wilayah pak?”

Aku terkaget menjawab,”iya, silahkan duduk, saya menyiapkan laptop dan infocus dulu ya”

Tetapi mahasiswa ini bukannya duduk, ia justru menghampiri ku seraya berkata pendek “saya bantu ya pak”

Aku  pun kaget kembali, “makasih yaa, saya atur laptop saya dulu”.

Sambil ia mengatur infokus ia pun bertanya pada saya “pak yusuf ya? yang dulu pernah jadi presiden mahasiswa?”

Aku menjawab dengan senyum, “iya, saya ridwansyah yusuf PL 2005, hooo, iya kabarnya saya pernah jadi presiden mahasiswa, hehee”  aku menjawab setengah bercanda

 

Mahasiswa tersebut berkata kembali , “wah pak, saya pernah membaca buku bapak, ternyata sekarang orangnya jadi dosen saya” ia berkata bersamaan dengan ia mencolokkan kabel infokus ke laptop ku

 

“ah berlebihan kamu, cerita masa lalu, hahaha”.. pembicaraan kami pun berakhir dengan mulai berdatangannya mahasiswa ke kelas. Aku memperhatikan mahasiswa barusan duduk di barisan terdepan dan bergegas menyiapkan buku catatannya.

 

Aku pun memulai kelas ini dengan memperkenalkan diriku sebagai seorang dosen muda yang baru mengajar. Tak kusangka, beberapa dari mereka tampak mengenalku –setidaknya namaku-, “mungkin mereka aktivis mahasiswa”.

 

“perkenalkan nama saya ridwansyah yusuf achmad, dulu pernah seperti Anda semua jadi mahasiswa di teknik planologi, saya angkatan 2005, ada pertanyaan untuk sesi kenalannya?”

Seorang mahasiswi di barisan tengah mengacungkan tangan dan bertanya, “S2 dan S3 nya dimana pak?”

“saya kebetulan mengambil master ekonomi regional di london school of economics and political science dan mengambil doktornya di kebijakan publik di kennedy school of goverment di harvard unversity, ini baru saja selesai bulan lalu, alhamdulillah”

Seorang mahasiswa di barisan belakang bertanya lagi, “pak dipanggilnya siapa?”

“panggil yusuf saja, gak harus dipanggil pak juga, saya sih santai saja, yang penting kita saling menghormati ya… oke. Kita mulai perkuliahan ya”

 

Perkuliahan pertama bagi aku tampak cukup menyenangkan, aura mahasiswa yang masih semangat kuliah menjadi energi tersendiri bagi ku dalam menyampaikan ilmu yang pada diriku. Aku memperhatikan dalam kelas, beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang duduk di barisan depan adalah mereka yang tampaknya seorang aktivis dakwah, dan mereka sangat aktif bertanya di kelas, begitu juga teman-teman yang lainnya. Pertanyaan datang bertubi-tubi dan membuat susana kelas sangat dinamis.

 

Aku kembali berpikir di tengah perkuliahan, “sepertinya semua mahasiswa sudah memahami hakekat mereka sebagai mahasiswa, seorang yang tidak pernah haus untuk mendapatkan ilmu. Memang benar firman Allah yang pertama “bacalah”, memang Allah memerintahkan kita untuk selalu terus menambah ilmu”

 

“Kawan, kampus madani bukan hanya sekedar tentang simbol-simbol Islam yang terpampang dengan besar, melainkan adanya pembudayaan nilai-nilai Islam kepada seluruh civitas academica, ketika semua mahasiswa –tak pandang bulu baik muslim maupun bukan- memaknai menunut ilmu secara syamil , maka salah satu mimpi kampus madani telah terwujud.”

 

Pelajaran pun usai dengan energi positif yang terpancar dari mata mahasiswa, mereka tampak sangat bergairah untuk mengikuti perkuliahan. Buat aku pun menjadi modal besar yang setidaknya membuat diri ini semakin percaya diri menjadi seorang pendidik.

 

Dalam kesibukan merapihkan infokus dan laptop, aku tertarik pada pemandangan yang unik diantara para mahasiswa. Mereka mendiskusikan kembali perkuliahan yang telah disampaikan, dan mereka saling mengecek ulang catatan perkualiahan diantara mereka. Aku melihat seorang muslimah yang berjilbab lebar tampaknya menjadi teladan dalam hal catat-mencatat perkuliahan, ia cukup banyak dikerumuni oleh teman-temanya yang lain.

 

Aku pun tersenyum dalam hati,”alhamdulillah ternyata para aktivis dakwah sudah memahami pentingnya menjaga kualitas akademik, tentu mereka telah jadi teladan untuk teman-temannya”

………

Siang setelah kuliah pertama aku menaiki tangga menuju lantai lima gedung program studiku, disana terdapat ruangan kerja untukku. Ruang kerja yang berukuran panjang dan lebar tiga meter. “cukuplah untuk dosen muda”, saya merapihkan ruangan yang akan saya tempati kedepannya. Sebuah komputer sudah tersediakan dengan spesifikasi yang baik, rak buku tersedia, dan aku tinggal memindahkan buku di kardus dan merapihkan ke rak buku. Ku beri sedikit hiasan di dinding ruangan yang baru saja kubeli di toko, dan tentu tak lupa foto istri tersayang di meja kerja.

 

Siang itu aku punya waktu sekitar dua jam sebelum kuliah selanjutnya, dan aku putuskan untuk mengisi waktu itu dengan merapihkan ruang kerja dan bertemu dengan adik-adik Keluarga Mahasiswa yang telah menghubungiku malam sebelumnya.

 

Waktu menunjukkan pukul 12.30, bunyi jarum jam menemani siang itu. Angin berhembus meniupkan pohon-pohon rindang dan memberikan pemandangan indah dai jendela lantai lima. Dalam lamunan menikmati keindahan, tiba-tiba pint ruangan ku berbunyi, seseorang mengetok pintu tersebut.

“tok tok tok”…”assalamualaikum bang yusuf”

“waalaikumsalam, masuk masuk, buka aja pintunya”

“permisi bang, maaf nih ganggu waktunya”

“mangga mangga, santai aja.. silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?”

“ini bang, kami berencana membuat seminar di dalam kampus tentang pemuda dan peradaban, kami rencananya ingin mengundang bang yusuf sebagai pembicara, kami berharap  bang yusuf bisa menyampaikan tentang bagaimana dunia internasional memandang Indonesia, dan kesempatan indonesia untuk menjadi bagian dari pemimpin peradaban dunia”

“acaranya kapan ya ?”

“dua pekan lagi, hari sabtu”

“okelah, saya agendakan insya Allah, oh ya gimana Keluarga Mahasiswa sekarang ? animo mahasiswa seperti apa dengan kemahasiswaan”

“alhamdulillah bang, sekarang mahasiswa sudah lebih bisa kritis dengan isu bangsa. Mereka sudah bisa menempatkan mimpi mereka menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Acara yang akan kita adakan, tahun lalu juga kita adakan dan sekitar 3000 mahasiswa hadir”

“wah mantabb yaa, bentuk gerakan mahasiswa gimana ? masih hobi demo kah ?”

“hehehe, aksi massa sekarang tetap ada bang, cuma lebih rapih dan terencana. Kita bisa buktiin ke masyarakat kalau mahasiswa bisa menyuarakan aspirasi dengan cara yang sopan dan tertib. Gerakan sosial masyarakat juga berkembang, mahasiswa sekarang sangat senang mengikuti semacam KKN mahasiswa yang membuat mereka lebih dekat sama masyarakat”

“wah seneng yaa, coba dari dulu udha seperti ini”

“ya Alhamdulillah bang, kan ini juga berkat efek bola salju angkatan 2000an”

“hahaha, bisa aja kamu, oh ya konflik pemikiran gimana di kampus sekarang ? makin seru ?”

“masih bang,  tapi sekarang elegan bang perdebatan pemikirannya, kita bertarung hanya dipanggung politik aja. Selebihnya kita akrab. Dan kita sudah bisa menerima perbedaan pandangan yang ada. Temen-temen yang pemikirannya Islam juga semakin bisa menebar pemikirannya dengan cara yang elegan sehingga mahasiswa menerimanya dengan sangat baik. Pada akhirnya, kita sadar kalau Islam lahir bukan untuk di paksakan, tetapi untuk disentuh dengan hati”

“hoo, nice… terus sekarang berarti pemikiran ideologi Islam diterima temen-temen?”

“yah begitu bang, mereka bahkan yang non-muslim bisa menerima sistem Islam tidak hanya sekedar melihat sisi ritual ibadah saja, tetapi mereka bisa menerima Islam sebagai sistem tata kehidupan yang komprehensif, akhirnya dengan proses dialekta yang ada. Semakin banyak mahasiswa yang menjadikan Islam sebagai prinsip hidup”

“wah hebat yaa… perjuangan berat ya pastinya, saya dari dulu merindukan yang kayak begini, toh memang pada akhirnya kan Islam itu rahmatan lil ‘alamiin. Saya pikir keadaan sekarang sangat baik, kalo temen-temen udah bisa memandang syiar Islam bukanlah syiar ibadah saja, tetapi syiar pedoman hidup,, okelah… sukses yaa gerakannya”

“siap bang, mohon bimbingannya”

“iya Insya Allah, kabari aja kalo butuh bantuan”

“Kawan, Kampus madani bukan berarti kita mendoktrin Islam secara paksa kepada civitas academica, kampus madani berarti adanya sebuah kebutuhan dan keinginan dari para civitas untuk mengenal Islam dengan kesadaran diri. Pada akhirnya bila Islam kita yakini yang terbaik, Islam dapat menjadi pemersatu dari semua pemikiran yang ada.”

………

Sekitar pukul satu siang aku memasuki ruang kuliah lagi untuk  mengajar mata kuliah kedua hari ini. Ini merupakan mata kuliah pilihan yang di ikuti oleh lima belas mahasiswa. Sebuah kelas eksklusif memang dari sejak aku mengambil mata kuliah ini dulu. Biasanya hanya para aktivis yang mengambil mata kuliah politik dalam perencanaan.

 

Aku memulai perkuliahan ini dengan mencoba memaparkan dua buah buku yang sangat fenomenal di bidangnya, il principe karya machiavelli dan das capital karya karl marx.  Aku mencoba mengajak peserta kuliah untuk berpikir tentang urgensi dasar berpolitik.

 

“coba kita ekstraksi pemiikiran kita, apakah politik yang kuat  bertujuan untuk membuat stabilitas ekonomi, atau ekonomi yang kuat untuk membentuk stabilitas politik”

 

Seorang mahasiswa menjawab,  “ pada dasarnya keduanya berkaitan, saling berdampak satu sama lain, tetapi saya berpendapat bahwa politik lah yang akan menentukan stabilitas ekonomi”

 

Jawaban mahasiswa tersebut di balas dengan pendapat lain dari seorang mahasiswi, “tetapi bukannya pembangunan ekonomi yang baik akan berdampak pada kelanggengan politik sebuah pemerintahan?, jadi ekonomi yang memainkan politik itu sendiri”

 

Sseorang mahasiswi mengacungkan tangan dan langsung menyampaikan pendapatnya, “Ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, bahkan pemegang prinsip laissez-faire sendiri percaya bahwa negara seharusnya tidak mengintervensi pasar. Dalam hal ini kita memakai istilah ekonomi politik yang menangkap esensinya baik secara lokal maupun global . Titik temu antara ekonomi dan politik yang membahas tentang keinginan tanpa batas di dunia yang ditandai dengan terbatasnya sumber daya pemenuh. Kapitalisme merupakan bentuk produksi atau ekonomi politik yang tumbuh di Eropa dari Abad Pertengahan hingga masa Renaissance yang menggantikan feodalisme”

 

Seorang mahasiswa lain tak ketinggalan ingin berpendapat, kali ini ia menggunakan pendekatan Islam yang mencoba mensintesakan semuanya, “seorang pemikir Islam Dr. Abdurrahman al-Maliki pernah  menyatakan bahwa politik ekonomi Islam adalah sejumlah hukum atau kebijakan yang ditujukan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan primer setiap individu dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pelengkap sesuai dengan kadar kemampuannya. Artinya, politik yang bentuk produknya adalah kebijakan bertujuan untuk meningkatkan ekonomi rakyat”.

 

Aku pun hanya mampu terperangah melihat luasnya wawasan yang dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswi ku, dan aku hanya mampu memberikan komentar “aplaus dulu untuk pendapat kita semua, sangat cerdas”. Dan para peserta kuliah merespon dengan memberikan aplaus untuk mereka sendiri.

 

Mata kuliah ini memberikan sebuah kacamata baru bagi diriku, bahwa memang ternyata pemikiran Islam bila disampaikan dengan data dan fakta dan tentunya bukti yang relevan akan menjadikannya sebagai sebuah pemikiran yang bisa di terima oleh siapapun.  Dari sebuah mata kuliah yang sedang aku ajar, ternyata pemikiran Islam mampu memberikan sebuah sentuhan yang dapat diterima oleh banyak orang.

 

Aku menjadi terpikir, bila semua aktivis mampu mengaitkan Islam dengan kompetensi akademik yang dimiliki atau isu yang sedang beredar di masyarakat, tentu akan menjadi sebuah nilai tambah tersendiri bagi syiar Islam yang dilakukan di kampus. Sebagai seorang dosen, aku juga mampu mengarahkan pemikiran mahasiswa kepada pemikiran yang Islami. Tetapi tentunya aku butuh banyak belajar agar pengiringan opini ini tidak menjadi doktrin, melainkan sebuah pemikiran yang memang bisa diterima oleh banyak orang.

 

“Kawan, Kampus Madani tercermin dari teladan para da’i nya dalam menjalankan kehidupan di kampus. Ia menjadi teladan dan panutan secara sikap, ia menjadi inspirator atas pemikirannya dan ia berusaha memanfaatkan segala kondisi dan situasi untuk menyebarkan nilai Islam yang sangat komprehensif”

……….

Sore hari menjelang, aku masih punya sebuah agenda lagi selepas magrib, mengisi kelompok mentoring mahasiswa tingkat lanjut. Aku sangat bersyukur masih di izinkan untuk memiliki binaan yang masih muda. Dan malam ini, akan jadi pertemuan perdana untuk kelompok binaan ku ini.

 

Senja sudah semakin terasa, mentari pun tampak sudah mulai menutup diri, aku menikmati kampus ku di sore hari sembari mengenang masa-masa lima tahun sebagai mahasiswa. Sangat ingat di benakku saat aku memimpin apel siaga di lapangan kampus, atau membuka kegiatan besar saat menjadi presiden mahasiswa. Aku mendatangai boulevard kampus, tempat dulu aku melakukan kampanye presiden, dan mengingat-ingat masa menempel poster kegiatan di mading kampus.

 

Mata ku tertarik untuk melihat sebuat poster sebuah acara yang bertajuk “toleransi agama, fondasi peradaban Indonesia”, kegiatan ini di adakan oleh sebuah unit bernama interfaith. Aku berpikir, “ini seperti unit lintas agama, dulu aku pernah ingin menginisasi semacam ini, Cuma dulu sangat sulit”. Aku tertarik dengan unit ini, dan setelah bertanya-tanya ke mahasiswa yang kutemui di jalan, aku jadi mengetahui dimana sekretariat dari unit tersebut.

 

Aku menghampiri sekretariat unit tersebut di pusat kegiatan mahasiswa yang mana terdapat puluhan unit mahasiswa yang memiliki sekretariat disana. Di depan sekretariat unit interfaith terdapat tulisan “sahabat, mari kita bersama membuat Indonesia Tersenyum”. Aku jadi teringat visi saat menjadi presiden mahasiswa, “indonesia tersenyum”. Aku melihat beberapa mahasiswa di selasar sekretariat mereka, ada seorang muslimah berjilbab, ada seorang yang berwajah tiongkok, ada seorang pria nasrani yang tampak religius, dan beberapa mahasiswa lain dengan aura agama yang berbeda.

 

Aku memperkenalkan diri dan menanyakan siapa ketua unit ini, dan ternyata seorang muslimah berjilbab lebar inilah ketua dari unit ini, saya dipersilahkan untuk duduk dan akhirnya kita berdiskusi bersama-sama dengan para mahasiswa lain yang tergabung di unit interfaith.

“perkenalkan saya yusuf, dulu saya PL 2005, sekarang jadi dosen di sini”, saya memulai pembicaraan

“wah kang yusuf presiden ya?”, jawab ketua unit tersebut

“ah, iya saya pernah jadi presiden mahasiswa di kampus ini dulu, oh ya saya mau tanya-tanya tentang unit ini boleh? Saya tertarik dengan unit ini, kok bisa terbentuk? Bagaimana mulanya?”

Seorang yang beragama hindu menjawab, “mas saya gede, jadi begini mas awalnya ini di inisiasi oleh unit agama islam, mereka mengajak unit agama lain untuk bersama-sama membuat kegiatan bakti sosial. Dari situ lah diskusi tentang agama dan toleransi berkembang”

Penjelasan gede dilanjutkan oleh victor seorang nasrani, “ya mas, kami setelah itu mulai banyak diskusi tentang lintas agama, bukan untuk mencari perbedaan dan menimbulkan konflik tetapi untuk mencari kesamaan yang bisa membuat kita bersatu”

“kami meyakini bahwa saatnya kita hidup bersama dalam sebuah tujuan yang untuk membangun Indonesia, indonesia membutuhkan kesatuan semua umat beragama, dan dari unit ini kami mencoba mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersatu dan bekerja untuk bangsa”, dilanjutkan oleh ketua unit interfaith.

Aku bertanya kepada mereka, “jadi apa saja kegiatannya?”

Salah seorang dari mereka menjawab “kegiatannya banyak dalam bentuk seminar, kampanye sosial dan kegiatan bakti masyarakat”

 

Pembicaraan diantara kami berlanjut hingga membahas berbagai hal yang terkait mengenai kesatuan umat beragama dan pembangunan Indonesia. Aku sangat senang tentunya melihat keberadaan unit ini, sehingga lingkungan kampus tidak perlu ada friksi antar agama lagi, dan tentunya bisa menjadi contoh bagi umat beragama di Indonesia.

 

Saat aku akan meninggalkan sekretariat, aku diantara oleh dua orang anggota unit tersebut, keduanya muslim. Mereka bertanya padaku, “kang dulu pernah jadi kepala lembaga dakwah kampus kan ?”

Saya menjawab, “iya dulu pernah, kok tahu?”

“iya kang yusuf kan ? wah kang, ini unit sebenarnya ide dari temen-temen lembaga dakwah kampus kang, kita mencoba ingin mengenalkan sistem Islam, dan pola pikir Islam ke temen-temen yang non-muslim juga. Dan Alhamdulillah dengan pendekatan yang persuasif, kita para aktivis bisa meyakinkan bahwa Islam adalah agama terbuka dan siap menerima perbedaan”

Ketua unit interfaith menambahkan, “iya  kang alhamdulillah strategi ini berhasil, dan saat ini kampus berhasil memiliki sentuhan nuansa Islam dengan baik. Di Badan Eksekutif Mahasiswa juga, kepemimpinan kita bisa diterima bahkan sangat di apresiasi oleh semua kelompok”

 

Aku tersenyum lebar mendengar penjelasan dari mereka, aku sangat bersyukur menjadi saksi atas kerja keras para aktivis dakwah dalam membangun mimpi kampus madani. Sambil berjalan menuju masjid kampus, aku pun tersenyum bahagia.

 

“kawan, kampus madani adalah sebuah lingkungan yang penuh dengan nilai Islam di dalamnya. Ketika Islam bisa diterima oleh semua orang bahkan yang berbeda agama, mereka menikmati dan hidup bersama dalam kepemimpinan Islam di kampus”

…………

Assalamualaikum warahmatullah

Assalamualaikum warahmatullah

 

Salam imam mengakhiri sholat magrib ku di masjid salman. Selepas itu aku berdoa seperti biasa dan kembali memandang sekeliling. Masih banyak muslim yang tetap di masjid untuk membaca Qur’an atau diskusi santai dengan teman-temannya. Masjid benar-benar telah menjadi tempat untuk beraktivitas, masjid lebih dari sekedar tempat ibadah ritual saja, melainkan sudah menjadi pusat dari diskursus tentang peradaban.

 

Malam ini aku akan mengisi sebuah kelompok mentoring, sebuah lingkar peradaban, buat ku ini adalah embrio peradaban Islam yang terus berkembang setiap waktunya. Seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa yang peduli akan Islam dan Dakwah Islam. Dalam senandung tilawahku, seseorang menepuk pundakku dan menyapa, “kak ridwansyah yusuf?”

Saya menjawab, “ya saya yusuf”

Beliau kembali berkata “kak, kita yang mau mentoring sama kakak, saya yang tadi malam menghubungi kakak melalui sms”

“oh iya, yuk kita ke koridor masjid saja biar lebih tenang”

“iya kak, apa nih kak untuk tema mentoring perdana kita”

 

Sebuah pertanyaan yang dulu pernah aku tanyakan juga kepada mentor ku saat masih kuliah, seperti yang telah aku sampaikan kawan, aku selalu bersemangat untuk sesuatu yang pertama, dan dengan tegas dan penuh senyum aku menjawab pertanyaan tersebut dengan,

 

“dari kampus madani menuju Indonesia madani”

………..

Kawan, ini mimpi ku kawan. Sebuah mimpi yang kucoba tuliskan untuk kawan-kawan semua para aktivis dakwah kampus di Indonesia. Yakinlah kawan, keberadaan kampus madani adalah salah satu langkah untuk mewujudkan Indonesia yang madani.

Kawan ini mimpi ku, apakah kamu memiliki mimpi yang sama ?

Kampus Madani

Indonesia yang Madani…

…………………………

Bandung, 19 Oktober 2010

Ridwansyah Yusuf Achmad

**************

Dan hal ini yang memacu saya membuat mimpi tentang : SEKOLAH MADANI..

Coming soon,, sekolah madani sebagai penopang terciptanya kampus dan Indonesia madani.. insyaAllah.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s