Saya anak kota, yang merindukan suasana desa


Sudah lebih dari 21 tahun saya hidup di gemerlapnya kehidupan ibu kota, Jakarta. Mulai dari di daerah Pancoran Jakarta Selatan, hingga pindah ke daerah pinggir Ibu kota Ciracas Jakarta Timur. Ketika di Pancoran saya hidup di daerah padat penduduk, yaa.. sangat padat. Rumahku mungil, tipis rasanya.. rumah yang berada di pojok gang buntu, berlantai 2, dan kanan kiri menempel dengan rumah penduduk lainnya.. tak jauh dari rumah, ada sungai berwarna hitam yang mengalir, kalau sore saya suka bermain kesana bersama teman-teman yang sudah tak saya kenali sepertinya, wajah dan namanya saya tidak ingat dengan jelas. Menghabiskan masa-masa balita disana hal yang paling mengasyikan. Maklum saja, dikawasan padat itu saya memiliki banyak teman seusia saya.. kalau turun hujan, jika dibolehkan mamah atau tidak ketahuan saya akan memanfaatkan untuk berlari-lari didepan rumah sambil bermain hujan.

Hal yang paling saya ingat saat tinggal di Pancoran itu.. saat sore hari saya mengambil selendang panjang dan menggunakannya untuk menutupi kepala, dan mengajak teman-teman untuk mengaji di mushala.. entah, kekuatan apa yang ada dalam diri saya, belum ada genap umur saya 4 tahun, keinginan untuk mengaji sudah sangat terpatri dalam diri, ayah dan mamah tidak pernah menyuruh, mungkin karena umur saya yang memang masih balita tersebut, padahal ketika mengajak ngaji saya harus berhadapan dengan orang dewasa, orang tua dari teman-teman yang akan saya ajak mengaji, saya lupa bagaimana dulu cara saya mengajak mereka.. hehe. Tapi saat itu saya sangat iri melihat kakak-kakak yang sudah di bangku SD tiap sore pakai kerudung bawa al-qur’an berjalan ke mushala. Rasanya hebad banget.

Ketika umur saya tepat 4 tahun, saya pindah ke daerah Ciracas. Dulu, masih banyak kebon pisang yang harus saya lalui menuju rumah saya. Masih ada empang dekat rumah, dan juga masih ada sawah yang luas.. hamper tiap sore sepulang mengaji saya mengitari sawah dan bermain disana, walaupun agak jauh.. tapi taka pa, karena pulang saya akan membawa ilalang. Kadang takut juga sih bermain di sawah, karena sering mendengar di sana ada siluman buaya putih, dan sering kali ada anak kecil yang tenggelam. Siluman buaya putih? Hahaha,, hal yang sering saya dengar, karena dulu mamah menggunakan alasan itu agar saya tidak bermain di sawah. Sampai suatu hari saya pernah menangis kejar, gara-gara saat kelas 4 SD ada gossip.. ada hantu bernama MISTER GEPENG yang muncul tiap hari kamis, dan akan memangsa orang yang namanya berawal dengan huruf A-I-U-E-O. Duh, betapa polosnya masa kecil itu.

Dan, sekarang saya sudah 21 tahun hidup di kota yang hamper seluruh suku bisa ditemukan disini, lalu suku saya? Entahlah.. saya menganggap, diri saya suku netral. Hehe. Tak ikut suku apapun. Saya orang Jakarta, yang tak memiliki suku. Semua sudah berubah, kebun pisang itu berubah menjadi rumah – rumah gedong yang elit. Empang itu juga sudah berubah menjadi kontarakan dengan 5 pintu. Sawah pun sudah berubah menjadi pabrik tahu, rumah, bahkan jadi universitas. Tambah sempitlah kurasa hidup di kota metropolitan ini. Polusi makin banyak, karena hampir seluruh penduduk memiliki kendaraan pribadi minimal motor yang bertengger di halaman rumah mereka. Maka tak aneh ibu kota yang sibuk ini bener-bener sibuk dengan kemacetan yang tak bisa dihindarkan. Penduduk ibu kota bisa dibilang besar dan tua di jalanan, haha :D. perjalanan menuju salah satu daerah yang masih daerah ibu kota sama saja seperti ke luar kota, bukan karena jaraknya yang jauh, tapi karena perjalanan yang tidak lancar, alias banyaknya kendaraan yang berebut untuk mengambil posisi di jalan raya ibu kota.

Saya sangat jenuh dengan lingkungan yang seperti ini, jujur saya saya sangat ingin mendapatkan hal baru di daerah lain yang tak sepadat ibu kota ini. Banyak kekhawatiran ketika keluar rumah, tindak kriminal yang tinggi, dan juga bernafaspun tak bebas, karena saya takut bakteri dan kuman dari polusi itu dapat melukai paru-paru saya (lagi).Oke, tak saya pungkiri, di ibu kota segala fasilitas semua ada, teknologipun tak tertinggal, hanya 1 yang tak ada : kedamaian. Kedamaian memang hanya kita sendiri yang bisa menciptakan, namun factor diluar juga harus mendukung, kan? Saat ini ketika saya dengar kata “kedamaian”, maka yang terlintas dalam otak saya adalah DESA, yaa.. suasana per-desa-an.. yang dikelilingi sawah-sungai-pegunungan dan keramahan penduduknya. Oh.. betapa inginnya saya berada dalam suasana seperti itu.. ada yang mau ngajak? 😀

InsyaAllah, suatu hari nanti.. saya akan membangun rumah belajar di desa-desa ataupun di kota.. rumah kedamaian.. agar rumah itu bisa dinikmati juga oleh tetangga khususnya taman bermain untuk anak-anak :D.. secara di Jakarta, nyari tempat buat main galaxy udah susah.. haha 😀 , masih ingat permainan galaxy??

 

~ Dian Fitriah – Jakarta, 27 Januari 2011 ~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s