tempelkan saja!


Hwaaa.. Mantabz surantab pekan-pekan ini. Lumayan bikin adrenalin cenatcenut. Pergi pagi-pagi banget.. Pulang malam.. Tapi tidak malam-malam banget lah.. 😉

Bekerja adalah suatu pilihan yang harus dilaksanakan sepaket.. Bener nggak?

Sepaket dengan tuntutan,
Sepaket dengan pengorbanan,
Sepaket dengan kelelahan fisik,
Sepaket dengan daya fikir,
Sepaket dengan upah yang didapat..
Hehe 😀

Pokoke.. Sepaketlah.. Ketika kita sudah memutuskan untuk bekerja, maka semua konsekuensi didalamnya harus kita jalani. Walaupun dikit.. Rada ngedumel, muka ditekuk, menyendiri dipojokan.. Atau apalah.. Ekspresi ketidakrasionalan terhadapan semua tuntutan.

Nah, kemarin.. Saya menikmati betapa bercabangnya pikiran saya. Kerjakan ini, kerjakan itu, terus mengurus ini, dan mengurus itu..
Hwalaaa.. What the..!! Berantakan banget sih gue..

Hingga akhirnya saya buat list di buku saya apa-apa saja yang harus saya kerjakan menuju BIG EVENT!

Eh, ternyata Project MonEv (monitoring and evaluation) saya liat catatan-catatan itu.. Akhirnya beliau bilang gini : “mba dian, ditempel aja di mana gitu, biar keliatan, biar nggak ribet-ribet bawa buku.. itu salah penilaian SQM juga mba”.

Hmm.. Bener juga kata beliau. Tapi memang lebih keren lagi.. Dibuat To Do List.. Dengan keterangan Ya (jika dilaksanakan) dan Tidak (jika tidak dilaksanakan).. Tapi sepertinya saat ini saya lebih suka di tempel-tempel biar rame 😀 hohohoho..

Dan beginilah hasilnyaa.. TEMPEL SAJA!!

Hasil tempel menempel.. Alhamdulillah sudah banyak di ceklist. Ayo semangat bekerja! Untuk kontribusi optimal.. Biarin deh berantakan (dikit) neh kantor, karena saya kerjanya bareng laptop dan print.. Demen banget lempar-lempar kertas klo ternyata salah print..

“o, Allah.. Saksikanlah.. Saksikanlah.. Ini untukMu, untukMu Yaa Hayyu Yaa Qoyyum”

 

~Dian Fitriah – Jakarta, 30 Maret 2011~
Nulisnya di bus 510 dan angkot T16, alhamdulillah.. Masih bisa posting tulisan 😉

 

Catatan Bunda Guru #2


Wah.. Saya lagi rapat neh, tapi saya tidak ingin ketinggalan moment untuk menulis apa yang saya rasakan sebagai Bunda Guru 😉 *yahaaaa..

Sepekan terakhir ini kami sebagai Bunda dan Yanda Guru mengajarkan gerak dan lagu untuk seluruh kelas yang ada disekolah. Gerak dan Lagu dilatihkan untuk persiapan Launching sekolah kami yang akan diresmikan oleh pejabat instansi kami dan donatur terkait.

Pagi tadi kembali lagi KBM gerak dan lagu untuk persiapan Launching.
Dan.. Amazing!!
Banyak siswa kupu-kupu yang sudah hafal gerak dan lagunya. Keren.. Keren.. Saya dibuat takjub dengan perkembangan yang ada.
Dimulai dengan Davina, yang berdiri.. Mempraktekan gerak dan lagu.. Untuk membuktikan bahwa ia sudah hafal gerak dan lagu “Terimakasih guru”.
Waw.. Lancar banget 😉

Lalu disusul dengan Ahda, Dwannya, dan Virgin.. Duh, balita ini.. Bikin saya takjub.. Dan seterusnya pada siswa/i yang lainnya.

Setelah itu, kami latihan bersama membentuk lingkaran dan saya memandu mereka.. Dan gerak badan Ahda membuat saya tertawa terpingkal-pingkal.. Lucu,kaku seperti robot.. Namun, itulah khasnya anak-anak balita.

Saya sudah tidak sabar menanti esok untuk latihan lebih khusus kepada siswa/i yang terpilih untuk mewakili penampilan anak saat launching nanti.

“Allah Maha Baik, izin kan saya memasuki dunia anak-anak.. Melatih mereka dan mengajarkan mereka tentang kebaikan.. Izin kan saya untuk masuk dalam urusan saya esok hari” 😉 terimakasih Allah..

~Dian Fitriah – Jakarta, 29 Maret 2011~

Catatan Bunda Guru #1


alhamdulillah, akhirnya disela-sela aktivitas mengajar saya bisa menulis juga. Saya ingin menuliskan semua hal yang terjadi pada perkembangan untuk siswa-siswa saya. Hehe.. 😀 siswa-siswi bersama Bunda dan Yanda Guru di sekolah kami.

Hari ini, Senin 28 Maret 2011

Saya ingin memperkenalkan murid saya bernama : Nadif Fawwas. Seorang siswa kelas Ulat. Boleh yaa, bercerita tentang siswa kecil ini. Kelas Ulat itu berumur 2-3 Tahun. Mengajar dikelas ini lebih banyak bercanda dengan anak-anak. Mereka lucu-lucu dan polos. Celotehannya, ekspresinya, juga gerak tubuhnya.. sering kali membuat saya takjub, waw.. subhanallah deh.

Nadif, begitu saya dan bunda/yanda Guru yang lain memanggilnya. Nadif merupakan siswa yang rumahnya paling jauh. Dia tidak diantar Bunda/Ayah kandungnya, tapi dia diantar oleh pengasuh dan Pak Agus (tukang ojek yang sudah dipesan oleh Bundanya).

KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) untuk pembiasaan sudah berlangsung 2 pekan lebih. Nadif sudah mulai terbiasa juga, dia merupakan tipe siswa yang suka mengamati terlebih dahulu. Saat pertama Nadif masih diam saja. Pekan 2 dia mulai mengikuti apa yang menjadi kebiasaan di sekolah ini. Tiba-tiba pekan lalu setelah pelajaran mewarnai ikan nemo, Nadif menangis.. dia bilang “mau ke Bunda Iis”. Bunda Iis itu adalah orangtua kandung Nadif yang berprofesi sebagai Guru SD. Bunda Iis tidak bisa mengantar juga. Ternyata Nadif menangis karena dia tidak bisa memberikan hasil mewarnainya kepada Bunda Iis, sedang teman-teman satu kelasnya memberikan hasil mewarnainya kepada Bunda yang mengantarkannya.

Disana ada rasa sesal rasanya disalahsatu benak Bunda Guru yang mengajar juga di Kelas Ulat. Karna beliau sempat berkata “Ayo tunjukan pada Bundanya hasil mewarnai tadi”. Dan Nadif langsung ingat kepada Bunda Iis yang tidak ada di sampingnya.. Kaka (pengasuh Nadif) langsung memeluk Nadif, aduh.. saya seperti langsung merasakan apa yang Nadif rasakan. Menyesal sekali saat itu rasanya.. Bunda Guru harus lebih peka lagi, karena anak-anak itu sangat sensitive. Sehingga membuat Nadif rada rewel di KBM selanjutnya.

Oh yaa, hari ini Nadif juga masih rada rewel, ia masih saja mencari-cari Bunda Iis saat KBM berlangsung. Tapi saat baca do’a setelah SNACK TIME Nadif teriak.. “Ayah…”, wah.. ternyata yang jemput Nadif siang ini Ayahnya, bukan Pak Agus ojek pesanan bundanya. Setelah selesai KBM, saya langsung masuk kantor bergabung dengan Bunda Guru lainnya. Lalu tiba-tiba Nadif dan Kaka (Pengasuh Nadif) masuk kedalam kantor dengan membawa bingkisan, Nadif langsung memberikan bingkisan itu ke saya yang duduk didekat pintu, “Bunda Guru.. ini untuk Bunda Guru”, sambil tersenyum malu dan menjulurkan tangan untuk mencium tangan. Wah, amazing.. Nadif ceria banget. Dia ceria banget deh siang tadi. Mendatangi seluruh Bunda Guru untuk mencium tangan. Setelah itu larut dalam permainan yang disediakan sekolah, sampai-sampai betah dan tidak mau pulang. Nadif.. Nadif.. lucunya Balita ini.. 😉

~Dian Fitriah – Jakarta, 28 Maret 2011~

nasihat pagi yang bikin JLEP!


seorang ustadzah berbicara seperti ini pada kami :
“jejaring sosial, dan semua akses internet.. jika tidak ada kaitannya dengan dakwah, maka untuk apa kita terlalu larut didalamnya, mending tilawah..”

dzing!! berasa digetarkan neh tubuh, bagaikan BUZZ! dalam Yahoo Messenger..

benar juga, kadang waktu online lebih banyak dari pada waktu tilawah, bahkan kadang efeknya lebih parah.. target 1 juz per hari aja bisa tidak sampai. 😥 na’udzubillah..

selama ini Allah terus menerus menasehati saya melalui banyak orang-orang berilmu, saat ini saya masih tetap ada dalam bagian dunia internet, karena masih banyak kepentingan saya didalamnya. salah satunya yaa ini, berbagi banyak hal yang menurut saya bermanfaat.

ingin lebih banyak menulis artikel, berbagi inspirasi, dan pengalaman. walaupun belum sehebat mereka yang ‘terkenal’, tapi saya ingin menjadi bagian sejarah seperti orang-orang hebad. yaa, salah satunya, dengan cara saya menuliskan sendiri terlebih dahulu sejarah yang saya alami, hingga suatu hari sejarah sendiri yang akan menuliskannya.. amiiin. *Kalo masalah beginian saya harus NARSIS, untuk jadi orang yang terkenal karena sejarah yang menuliskannya, insyaAllah untuk inspirasi kebaikan, amin*

nasihat pagi itu harus saya coba cerna dengan bijak, saya berharap durasi yang saya sisihkan untuk online merupakan durasi produktif saya untuk menulis, karena begitu banyak hal yang berkecamuk di fikiran saya, seakan-akan ingin membuncah dalam tulisan..

insyaAllah, demi suatu keberkahan.. jika memang tak ada kaitan-nya dengan dakwah, lebih baik di tinggalkan saja.. *ini prinsip bung!*

 

~Dian Fitriah – Jakarta, 27 Maret 2011~

tidak konsisten


Saya suka sekali mempengaruhi orang lain, dalam hal-hal tertentu (insyaAllah tentang sesuatu kebaikan dibidang apapun, entah teknologi, pendidikan, ataupun dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar).
Tapi kadang kala, saya suka menyesal mempengaruhi mereka, jika hanya taklid (ikut-ikut) saja.. Tanpa ada unsur-unsur yang membuat saya merasa dia lebih baik dari saya..
Ah.. Dian, kamu selalu saja tidak konsisten, padahal saat mempengaruhi.. Dirimu seakan berapi-api..

“o, Allah.. Semoga kali ini tidak membuat aku *tidak konsisten lagi*. Semua yang terpengaruhi tidak taklid buta.. Tidak untuk persaingan.. Siapa lebih hebat dari siapa.. Tapi dia bisa tampil sebagai warna baru dalam berlomba-lomba untuk kebaikan”

baitijannati :)


Alhamdulillah.. Maha BaikNya yang begitu memberikan berkah melimpah pada keluarga kami.

Saya ingin bercerita, berbagi kebahagiaan pada readerblog yang hebad!! Ini tentang keluarga, tentang dimana saya tinggal, dan tentang siapa mereka yang begitu saya sayang.

Dulu, ketika saya SMA (sekitar kurang dari 4 tahun yang lalu) keluarga kami selalu mengadakan program “taujih ba’da maghrib”. Program itu adalah salah satu forum bentuk sarana komunikasi kami dalam nasihat menasehati. Biasanya ayah yang menjadi pembicara dalam forum tersebut. Materinya ringan saja, tentang kebersihan rumah, tugas-tugas yang mendukung rumah lebih nyaman, tentang sopan santun pada orangtua, membahas hal-hal yang membuat kami meregang, atau membahas ‘kebandelan’ kakak-saya-adik.

Namun, sayang sekali sudah 2 tahun lebih program itu tidak jalan karena berbagai hal. Salah satunya karena ketidaklengkapan kami dirumah. Saya kuliah dan ngekost di Bogor, juga dirumah mulai disibukkan dengan usaha.

Rasanya memang hambar, sepertinya ada yang hilang. Apalagi saya jauh dari rumah.. Berkomunikasi sekedarnya saja melalui sms dan telepon. Kurang.. Kurang sekali komunikasinya. Hingga muncul berbagai konflik, yang saya yakin itu karena bersumber dari iman-iman kita yang compang-camping.. *na’udzubillah.. jangan terulang*

Namun sejak 6 bulan belakangan ini, Allah tunjukan segala ke-Maha-an-Nya.. Semua tanpa terkecuali. Saya benar-benar menikmati semua proses kehidupan yang harus dihadapi. Mulai dari penyakit yang membuat lemahnya sistem imun saya – kelulusan – berkumpul lagi dengan keluarga – hingga bekerja. Rasanya semua itu indah pada waktunya.. Yaa, walaupun tidak dipungkiri ada masa dimana saya down, pesimis, kecewa, dll.. Ah itu mah biasa.. Tapi gimana kalau kita jadikan luar biasa dengan tidak lagi masuk dalam zona-zona nggak keren itu (hayuuk.. Kerenkan diri kita).

Dan kini, dengan tercetuslah program #baitijannati.. Program ini merupakan program yang bersifat continue.. Berkelanjutan gitu. Walaupun saya atau diantara kakak-adik sudah menikahpun saya berharap program ini tetap harus dilanjutkan.

#baitijannati adalah program keluarga, untuk menjadikan rumah/tempat tinggal kami sebagai sarana untuk melangkah hingga sampai di surgaNya.

Program-programnya #baitijannati yaitu : taujih on 23 (ber- wa ta wa shoubil haq, wa ta wa shoubil shobr.. Saling menasehat-nasehati dalam kebenaran dan kesabaran), dinner-out (makan malam diluar.. Hehe 😀 itu bahasa inggrisnya ngasal bet dah).. Karena rata-rata dari kami baru sampai dirumah maghrib.. Jadi kegiatan-kegiatan di optimalkan pada malam hari.

report kegiatan :

  1. Taujih on 23, tepat jam 11 malam kami berkumpul di ruang tamu.. Semua mendengarkan ayah berbicara. Kali ini ayah berbicara tentang ‘kematian’ yang tiada pernah menjauh, tapi akan terus mendekat.. Dan siap menjemput satu diantara kami atau bahkan sekaligus. Saat itu rasanya saya ingin sekali menatap mereka lebih lama sambil berdo’a : “Rabb, mereka yang kutatap adalah orang-orang yang kucintai karenaMu, jaga mereka.. Dan kumpulkan kami kembali di surgaMu, kami ingin saling mengenal (lagi) ketika di akhirat nanti”. Saya menatap mamah yang menutupi wajahnya dengan buku, Saya tahu.. Ada lelehan airmata yang menetes di kulit wajah yang makin menua itu.. Tapi beliau tetap kelihatan cantik. Ah.. Rasa itu ‘memiliki’ hingga aku belum memberanikan diri berkata ‘siap’ jika harus kehilangan.
  2. Dinner-out at spesial sambel, Depok.Atas rekomendasi saya dan kakak kami pergi ke Special Sambel margonda, depok. Makan malam disana sepertinya rasa kejauhan.. Lama dijalan. Namun, syukur alhamdulillah, cita-cita ku tercapai.. Makan malam bersama di luar.. Amazing! Berharap bisa sebulan sekali seperti ini, meluangkan waktu-waktu itu yang terus mengejar.
  3. Dinner-out at Seafood 48 Cibubur. Baru saja neh.. Kami pulang makan malam bersama. Beuh.. Kepitingnya bikin repot! Makannya susah.. Tapi dahsyat rasanya.. Makyuuuusss. Enak2..!! Saya pimpin do’a makan malam saat itu, ah.. Lengkap-lengkap deh.. Memohon banyak do’a, semoga maqbul yaa Rabb. Kami banyak bahas ini – itu.. Semoga hal-hal kecil yang rutin ini bisa mempererat kekeluargaan diantara kami.

Bagaimana dengan program #baitijannati sobat readerblog semua? Pasti lebih keren.. (Kadang kala saya iri dengan tamasya-tamasaya keluarga yang dilakukan oleh sahabat-sahabat saya, namun rasa iri tidak membuat saya sibuk meratapi nasib, namun saya yakin keluarga saya adalah yang terbaik dengan seluruh dinamika didalamnya.. Alhamdulillah, keyakinan itu terus bertambah dengan dilaunchingnya program #baitijannati keluarga kami).

Mulai sekarang (saat ini : detik ini, menit ini, jam ini).. Mari kita ber-IKRAR dengan meng-azzam-kan hati.. Bahwa :

“Keluarga saya adalah keluarga yang terbaik.

Tempat tinggal saya adalah tempat yang terbaik.

Dan saya adalah anak yang terbaik”

Coba bener-bener masukkan kata-kata itu dalam otak bahkan dalam jiwa dan seluruh elemen dalam tubuh kita.. Jangan biarkan kita terus tersesat dengan sibuknya meratapi takdir-takdir yang menurut kita kurang baik, padahal itu yang terbaik untuk kita.

Tetap Bersyukur,
Tetap Senyum..
Hadapi semua dengan happy!!
Mari merangkai senyum keluarga Indonesia 🙂
*operated by : rumah zakat*

~Dian Fitriah, Jakarta 17 Maret 2011~
*sumpah deh.. Ini mata udah kiyap-kiyep.. Sepertinya gagal untuk menyelesaikan tugas-tugas terlebih dahulu malam ini*

kicauan dianyaa..


lagi liat-liat isi twitt di twitter.. hmmm, ternyata saya bawel juga yaa, lebih banyak ocehannya di twitter dari pada di Facebook. pertanggal 13 Maret 2011 jam 2:39 AM.. twitt saya sudah mencapai 3,196.. ini twitter ke-3 sih dan mulai aktif tanggal 29 september 2010.. berapa bulan tuh? 6 bulan yaa.. 2 twitter sebelumnya udah dihapus.

tak apalah, asyik juga ada tempat buat nyampah.. menebarkan banyak kata-kata, bukan untuk terkenal, cuma pengen menulis apa yang ada di otak. tanpa harus terbebani akan di komentari atau di like this..

semoga aja nggak ada yang terganggu, coz saya merasakan keterganguan membaca timeline baca ocehannya si ULIL (dedengkot JIL). alhamdulillah udah di unfollow.. saya cuma khawatir, kalau pun dia ngomong benar, saya nya yang nggak siap nerima kenyataan kalau dia benar 🙂 *sorry bung, ini dari hati terdalam*

 

~Dian Fitriah – Jakarta, 13 Maret 2010~