2 tahun sudah..


Hari ini, 2 tahun sudah berlalu..

—————-
13 Mei 2009, seminggu sudah sahabat hati saya meninggalkan Bogor menuju kampung halamannya di Purwokerto. Seminggu itu pula, do’a tak henti untuk ibundanya selalu dipanjatkan. Entah skenario apa yang sedang Allah susun untuk ia, ibundanya, dan keluarganya. Saya yakin mereka sudah sangat faham akan arti ikhlas pada takdir yang Allah berikan.

Pagi itu, setelah subuh. Seperti biasa saya harus segera bersiap-siap untuk berangkat kekampus. Pagi itu juga saya sempatkan sms sahabat hati saya tentang keberadaannya dalam perjalanan menuju bogor. Saya tahu ada sahabat hati yang lain yang juga sedang menelponnya dengan tanya yang sama.

Yaa, menantinya kembali di kota hujan. Saya dapat kabar ia sudah sampai Cibinong, sebentar lagi sampai pikir saya.

Namun, beberapa menit kemudian. Ia menelpon, sambil terisak tangis.. Rasanya saya tak perlu lagi bertanya, “ada apa sahabat?”. Karena saat mendengar tangisnya, seakan-akan saya tahu.. “Ia telah kehilangan seorang bunda yang sangat ia cintai”. Saya terdiam, mencoba merasakan apa yang sedang ia rasakan, hingga seakan-akan.. Saya memeluk erat dikejauhan.

Setelah itu, saya buru-buru mengambil jaket, memakai kaos kaki, dan bersiap-siap keluar di pagi Bogor yang dingin. Saya ingin menjadi yang pertama, yang pertama memeluknya saat ia turun dari bus. Saya berburu-buru menuju jalan padjajaran untuk menaiki angkot. Menyegerakan diri menuju daerah warung jambu.

Saya sudah janjian dengannya didepan suatu bank didaerah itu. Saya sudah melihatnya duduk seorang diri, aduh.. Rasanya tak kuat saya mendekatinya, membayangkan tangisnya.. Arrrgghhh.. Tapi betapa inginnya saya memeluknya erat.

Benarlah, tangis kami memecahkan pagi di Kota hujan yang cerah namun dingin. Kendaraan sudah banyak berlalu lalang, karena hari sudah semakin pagi untuk beraktifitas. Saya memeluknya, erat! Saya rasakan tangannya begetar, matanya sudah basah bahkan merah karena saya yakin ia menangis sudah terlalu lama. Saya tak tahu harus berkata apa, karena semua rasa sedang ia alami saat itu, hingga saya tak mampu mengucapkan apa-apa untuknya. Namun, tubuh yang saling berpeluk erat semoga bisa saling berkomunikasi dengan bahasa tubuh ini.

Saya membawanya menuju masjid Al-Ghifari, masjid penuh dengan sejarah bertemunya kami di kota hujan. Sambil menunggu pamannya yang akan datang menjemput. Saya dan dia duduk diselasar akhwat dibagian kiri masjid. Saat itu juga, jemari saya terus mengSMS sahabat-sahabat hati saya yang lain. Hingga berdatanganlah satu per satu sahabat hati untuk kembali memeluknya erat, meneguhkan rasa, agar ia tahu kami ikut merasakan apa yang ia rasakan.

Ingin sekali saya ikut menuju Purwokerto, tak peduli dengan padatnya kuliah hari itu hingga beberapa hari kemudian. Tapi sayang, ia menolak saya ikut. Mungkin ia khawatir saya akan tertinggal kuliahnya atau melalaikan agenda-agenda yang ada. Sedih, namun apa boleh buat.. Memang tidak memungkinkan saat itu.

Saya harus mengantarkannya pergi ke Purwokerto, kembali ke kota satria untuk mengantarkan ibundanya menuju haribaanNya.

—————
13 mei 2011 » semalam pukul 22.20 ia sms, begini isinya :
“2 tahun yg lalu…
Dengan berat hati meninggalkan rumah dengan niat menuntut ilmu. Tepat jam segini bus istirahat dan makan malam,lalu 1 mansetku hilang di bus, alhasil ndak pakai manset.
Tepat 13mei..jam 6.10 pagi memasuki kota bgor dan ada telepon dari rumah… hati sudah ikhlas dengan segala kemungkinan. Dan bumipun terasa berhenti berputar hari itu..
Masihkah kau ingat, hari itu, kau datang dan menguatkan aku di dpan sebuah bank kita termangu berdua.. melihat mobil hilir mudik dengan tetesan airmataku.
Mpodhaykangendirimu.”

Semalam saat baca sms itu, saya sudah bersiap diri untuk tertidur. Saya ingin sempatkan pagi-pagi di 13 mei 2011 mengSMSnya. Tapi terlebih dahulu ia mengSMS saya. Mengingatkan tentang 2 tahun sudah yang berlalu.. Saya sangat ingat, ingat sekali. Sejak memasuki bulan Mei, maka ingatan-ingatan saya tertuju pada bulan Mei 2009. Karena banyak hal yang terjadi di bulan itu, banyak sekali, hingga satu per satu bermunculan layaknya sebuah video yang diputar kembali.

——
2 tahun tak terasa, ibunda mba nur wafat. Tak terasa kulihat kamu begitu sangat tegar, mungkin ini akibat keimananmu yang semakin kuat, hingga semua bisa sukses kamu lalui.. Luv u sist.. Semoga hari ni penuh berkah berkunjung ke makam ibu 🙂

»Aku menyayangimu,mba nur. Dengan cara yang kufahami, dengan do’a yang kupanjatkan. Semoga Allah mempertemukan kita kembali, saat iman, saat taqwa kita dalam kondisi yang sangat baik, semoga berkahlah nanti pertemuan kita«

Aku yakin, TIRAI-D5 pun menyayangimu, seperti halnya aku, bahkan mereka lebih dan lebih menyayangimu. Bersyukur, aku mengenalmu, mengenal TIRAI-D5 dengan problematikan didalamnya. Bunga-bunga itu bagai sedang kuncup-kuncupnya.. Seakan-akan didewasakan bersama dalam “menyemai ukhuwah diderasnya kota hujan”.

~kematian tidak akan pernah menjauh, ia terus mendekat, dan mendekat. Lalu siapkah kita menyambutnya datang? Tanyakan pada diri kita, coba tanyakan, dan jawablah dengan kejujuran..

dianyaa^^ | shinning like a star..

Iklan

2 pemikiran pada “2 tahun sudah..

  1. ya dhay mei penuh cerita dan tetesan airmata…terimakasih telah menjadi orang yang pertama memelukku dan menenangkanku saat itu hingga saat ini kuharap esokpun sama…menjadi orang pertama yang mengerti akan apa yang kurasakan walaupun kita berjauhan kawan, sahabat hati….^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s