womenrider..


Awalnya saya sempat melebelkan diri saya sebagai “angkoters”. Yaaa.. seperti yang lainnya, melebelkan diri karena terlalu sering menggunakan fasilitas umum bernama angkot. Sejak SMA sudah latihan mengendarai motor, namun selalu saja merasa trauma dan trauma. lihat mamah yang memar-memar tubuhnya karena jatuh ke got, dan banyak kejadian disekitar yang membuat saya memupuk dalam-dalam niat untuk bisa mengendarai kendaraan beroda dua itu.

Begitupun saat kuliah di Bogor, larangan ayah untuk mengendarai motor membuat saya makin yakin aja, kalau tidak akan mengendarainya. Mungkin lebih tepatnya saya berfikir bahwa saya ini ditakdirkan untuk diboncengi bukan untuk mengendarai.. okey, mindset tersebut berhasil.

Suatu hari saya berbincang oleh teman yang kuliah di daerah Ciputat. Nawang nanya : “ian, kamu bisa mengendarai motor kan?”, dian : “tidak berani wang..”, Nawang : “lho, kenapa ian?”, dian : “Trauma wang”, Nawang : “dikampusku akhwat bisa mengendarai motor, jadi salah satu muwashofat kader lho..”, dian : “oh yaa? agar mobilitasnya lebih flexsible ya wang?”, Nawang : “Iya ian, ayo jangan takut”. Hmm.. saat itu saya hanya bisa membayangkan saya berkendara di jalan raya besar dimana para pengendara para berebut dengan kecepatan kencang.. aduhai, membayangkannya membuat saya makin membenarkan mindset, bahwa saya adalah “angkoters”, not rider.

Sampai pada saya kembali ke Jakarta, bergabung bersama keluarga dan mencari nafkah di kota metropolitan ini. Angkutan umum yang tidak waras itu membuat saya khawatir, dan muak sekali dengan gaya kondektur yang sering kali membuat penumpang bagai ikan pepes didalam, mepet banget.. berdiri tidak sempurna, atau bahkan berdiri di bibir pintu bus. huft.. ini yaa JAKARTA ibu kota INDONESIA?? masih banyak yang harus diperbaiki untuk sistem transportasinya.

Akhirnya saya dapat motivasi besar dari seorang rekan kerja bernama SETIA. Dia yang selalu memotivasi untuk bisa berani berkendara di jalan raya. Sudah ada peningkatan, saya mau lagi belajar motor, minimal disekitar rumah, atau saat beli makan siang di kantor dengan meminjam motor. Alhamdulillah.. ketika SIM sudah jadi makin mantab-lah saya untuk berkendara.

Banyak hikmah juga ternyata, saya lebih merasa mobile kesana-kesini, dengan perkiraan waktu perjalanan yang lebih akurat, dan lebih enaknya.. saya merasa lebih bermanfaat lagi untuk orang lain. Kalau disuruh mamah bli ini – itu jadi lebih cepat, dan silaturahim makin lancar. Ingin sekali mengunjungi sahabat hati yang di Rawamangun, ingin sekali membawa 2 sahabat hati lainnya mengunjungi dia yang di rawamangun, seorang womenrider juga yang membuat saya terinspirasi. 😀

o, Allah.. berkahi kendaraan yang saya kendarai, jadikan ini sebagai amanah agar semakin tertanam dalam hati, bahwa kendaraan-pun akan Engkau mintai pertanggungjawabannya, semoga tak ada lagi alasan telat datang – tidak bisa menghadiri acara kebaikan tanpa alasan syar’i – atau berkelit lidah saat harus silaturahim. Allah.. jangan jadikan saya pendusta nikmat, jangan! aku mohon..

fabiayyi aalaa-I rabbikumaa tukadzdzibaan?”, “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Now.. I’am womenrider, but occasionally I’am angkoters..

 

Dian Fitriah
8 Juni 2011
shining like a star

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s