konferensi Litbang #ilunirohis58


Hmm, alhamdulillah ada tiap perwakilan Badan Fungsional yang hadir. Masih banyak yang harus kita perbaiki untuk kinerja kita, untuk 58 kita.

Yang kita butuhkan : sinergisitas seluruh Badan Fungsional dan individu yang ada didalamnya untuk saling mengingat.

——
Catattan dian tentang ILUNI Rohis 58 :
Kawan, sudah 3 bulan perjalanan dakwah kita dalam tubuh ILUNI rohis 58. Yaa, organisasi yang April lalu diresmikan ini, perlu kita sadari.. Begitu banyak yang harus kita evaluasi menuju kemandirian organisasi. Bukan untuk menghakimin siapa yang lebih bersalah dari siapa, tapi disini.. Kita coba sinergikan semua hal agar tetap berjalan sesuai dengan mimpi yang kita punya.

Kita butuh pengingat, kita butuh penguat akhy wa ukhty..

Maka, tetaplah disini, semoga kita bisa berdamai dengan ego, berdamai dengan hati, untuk saling berangkulan..

Yakinlah, kita akan merasakan manisnya perjuangan yang kita lalui bersama, suatu saat nanti..

.. Ini perjuangan, maka kita harus berjuang, sampai titik darah penghabisan, hingga nafas ini terhenti, dan nyawa kita dicabut oleh Sang pemilik asmaul husna..

Jakarta, 31 Juli 2011
Dian Fitriah
..shining like a star..

fakta tumblr


Abis blogwalking ke blognya teman-teman di tumblr. Ada beberapa fakta yang akan saya uraikan tentang tumblr :

  1. Postingan di tumblr itu kebanyakan reBlog atau copy paste hasil postingan orang lain juga di tumblr. Hmm, bikin tidak kreatif sang BlogWriter. Bahkan saya pernah temui salah satu blog tumblr, yang isi blognya hampir 85 persen isinya reBlog 😦 oh no! I don’t like it. But, this is just my analisist.
  2. Saya sangat suka gambar-gambar yang dibuat para akun tumblr, kreatif! Secara design sangat dinamis, dan kata-kata yang tertulis simpel namun bisa dimengerti maksudnya. Juga dalam beberapa foto yang sangat apik pengambilannya. Blog saya di wordpress ini, banyak gambar yang saya upload, yang gambarnya merupakan gambar-gambar dari tumblr, lihat aja copyrighter-nya tertulis –> “………………… | tumblr”
  3. Tumblr cocok banget bagi blogger-blogger yang sangat butuh privacy dalam menulis. Di tumblr blogger bisa follow blog tumblr lainnya, atau cukup menjadi silentblog tanpa memfollow blog tumblr lainnya. Tumblr juga memiliki comment terbatas, karena hanya bisa saling berkomentar bagi yang punya akun tumblr saya. Jadi blogger yang takut comment, aman disini 🙂 pokoknya area bebas ngoceh banget deh..
  4. Tumblr like multiply. Why? Karena dalam memposting, tumblr itu membagi/mengklasifikasikan jenis postingan berdasarkan isi potingan. Misal, jika blogger hanya ingin menulis artikel, bisa memposting melalui Text. Khusus memposting gambar, bisa posting di Photo. Ada juga Qoute, Link, Audio, Video, dan Chat.
    Ini sama halnya dengan multiply, yang juga membagi-bagi jenis postingan, dan jenis pembagiannya hampir sama dengan tumblr.
  5. Kadang kala inspirasi menulis saya, dan beberapa kutipan yang saya masukkan dalam tulisan itu berasal dari tumblr, hehe 😉 karena di tumblr banya kata-kata yang inspiratif.

Sekian dulu analisis singkat tentang tumblr, pada intinya tumblr belum terlalu terkenal dikalangan blogger Indonesia, dibandingkan dengan wordpress dan blogspot, tapi perlahan bermunculan beberapa id-INA yang ternyata sudah cukup lama menggunakan domain tumblr. Yaa, semua itu pilihan, dimana tempat nyaman bagi para blogger, termasuk saya yang mempunyai banyak akun blog, walaupun kadang hanya sekedar mau tau saja seperti apa didalamnya..

Happy bloging!~

Jakarta, 30 Juli 2011

dianyaa^^ | shining like a star.. ☆☆☆

sekilas info.. *norak dan pamer*


Kamis siang kemarin (yaa, kemarin karena sekarang sudah pukul 01.20 hari jum’at, hehe 😀 ) saya sepedaan dong di Ragunan. Sambil outing, saya dan teman-teman kantor mengambil kesempatan untuk sepedaan, jarang-jarang kan bisa seperti ini, karena tidak punya sepeda, adanya scuter matic :D.

Seneng banget saat itu saya pakai polygon berwarna abu-abu, mengelilingi kebun binatang Ragunan. Ah, pokoknya mah seneng, bisa sepedaan di siang hari, udah lama nggak maen sepeda, pengen lagi. “Pengen beli sepeda”.

Sepedaan yuk sepedaan.. *lagi marak-maraknya sepedaan, membuat saya pengen ikutan juga, sekalian mengkampanyekan : bike to work, bike to campus, bike to school, and go green! hoohoo 😉 *

Jakarta, 29 Juli 2011
Dian Fitriah
..Shining like a star..

bertemu diLLa..


Cerita ini sudah sepekan yang lalu, tapi karena begitu banyak request dari teman-teman (kalimat berlebihan :D, yang request ada 1 orang, yang mau baca ada 4 orang), saya memutuskan untuk tetap menulis cerita pertemuan saya dengan seorang sahabat dari makasar, Fadillah Ridhayanti. Teman-teman biasa memanggilnya, dilla.

Oke, mulai yaa, dikisahkan.. *bergaya seperti dalangnya OVJ*

————-

Hampir 1 tahun sudah saya dan dilla tidak bertemu, kelulusan dari kuliah itu yang membuat saya dan dilla berpisah. Saya memutuskan untuk balik ke Jakarta, begitupun dilla yang juga mengambil keputusan untuk kembali ke kota asalnya di Pangkep, Sulawesi Selatan.

Selama berpisah saya dan dilla hanya berkomunikasi melalui mobilephone, dan social networking (dalam hal ini yang saya maksud adalah Facebook). Ia bekerja di salah satu perusahaan terkenal di daerah Gowa. Sampai suatu hari ia sms dan bertanya :
Dilla : “dhay, tempat kerjamu dekat dengan bintaro nggak?”
Dian : “iya dil, dekat. Kenapa dil?”
Dilla : “insyaAllah kalau jadi tanggal 20-22 Juli 2011 aku ke bintaro mewakili kadep (ketua departemen) ku dalam rakorda di bintaro”
Dian : “hwaaaa, asssyyyikk, kita ketemuan yuk dil..”
Dilla : “iya dhay, rencana aku juga seperti itu.. Nanti aku sms lagi yaa, jadwal aku, nanti kita janjian ketemu di hotel tempat aku nginep aja”
Dian : “okey dil, aku kangen banget sama kamu, kita harus ketemu, masa kamu udah ke Jakarta,kita tidak ketemu juga..”
Dilla : “iya dhay, kita harus ketemu. Nanti klo kamu ke makasar juga harus temui..”

Selesai berSMS ria, saya langsung berfikir-fikir, apa hadiah yang akan saya kasih untuknya. Saya langsung cerita sama mamah, kalau sahabat dari makasar mau datang ke Jakarta, dan minta pendapat kasih hadiah apa.

Dian : “Mah, dian kasih hadiah apa neh?”
Mamah : “apa yaa ian.. Yaa,terserah dian” (hmm,si mamah.. Wong anaknya bingung.. Malah dibalikin lagi)
Dian : “Yah mamah, kan dian tanya ke mamah..”
Mamah : “eh ian, liat ke rumah rohana deh, dia jualan tuh, kita liat kesana yuk, kali aja ada hadiah bagus disana”
Dian : “memang mpok rohona jualan apa ma? Coba dian intip-intip dulu”
Mamah : “nggak tau juga, tapi tadi kata ibu-ibu jualan lampu-lampu, kesana yuk”
Dian : “ayo deh, kita liat-liat”

Ternyata mpok Rohana jualan lampu-lampu hias yang lucu-lucu, bentuk-bentuknya juga lucu. Wah, kebetulan banget bisa buat hadiah untuk dilla. Akhirnya saya memilih salah satu lampu yang ada jam digital menjadi hadiah untuk dilla.

Tiba saat dilla sampai di Jakarta. Dia mengkabari saya bahwa dia menginap di Hotel Tropic Grogol. What? Kok Grogol yah? Kan sebelumnya dia bilang di Bintaro. Dari Ciputat ke Grogol lumayan jauh, dan saya tidak tau rute kesana gimana 😦

Saat itu.. Rasanya sedih sekali, ada fikiran, bahwa saya dan dilla tidak jadi ketemuan. Karena ternyata dia rakor-nya di bintaro tapi menginapnya di Grogol. Akhirnya dilla telepon dan mencoba berfikir bersama cari solusi untuk tetap bertemu. Yahaa, tiba-tiba dia bilang : “gini aja dhay, kita ketemuan hari jum’at sore aja saat aku mau ke bandara. Nanti kan aku naik taksi, jadi bisa jemput kamu dulu, jadi kita ke bandara bareng-bareng, aku jadi ada temannya”. Sepakat seperti itu. Ini menjadi pencerah, dan harapan untuk tetap bertemu.

Pada hari jum’at, 22 Juli 2011 tiba-tiba dilla sms : “dhay, aku dianter pakai bus kantor ke bandara bareng yang lainnya. Trus gimana neh rencana pertemuan kita? Kamu nyusul ke bandara aja gimana? Aku berangkat jam20.20, lumayan lama jadi kita bisa ngobrol-ngobrol“. Hmm, saat itu saya bingung, bagaimana ini, tapi hati sudah bertekad untuk bertemu.

Jum’at selalu menjadi hari yang sibuk, pagi saya pergi ke condet untuk tes tahsin, lanjut ke SMAN 58 Jakarta, ba’da jum’atan ke SMPN 9 Jakarta. Rasanya badan rada lelah karena beberapa hari sebelumnya saya pulang dari kantor malam terus, sakitnya orang berkendara motor adalah masuk angin, hehe :D. Buru-buru pergi ke cibubur, karena saya liat disana ada sendal pink bergambar sapi, dan warna pink itu, dilla banget deh. Sebelum ke cibubur saya sempatkan diri membeli beberapa kue untuk jadi oleh-oleh. Setelah itu balik kerumah, bungkus hadiah, dan siap-siap berangkat lagi ba’da ashar.

Hwaa, nyampe kp.rambutan DAMRI-nya udah berangkat, tapi kata bapak petugas DAMRI-nya masih dekat, saya disuruh mengejarnya. Okelah, saya langsung bergegas lari mengejar DAMRI, alhamdulillah terlihat juga, saya berlari agak kencang sambil teriak “Damri, damri, tunggu” (haduh.. Berasa kayak adegan film-film India yang ditinggal kekasihnya, hehe 😀 ). Masuk juga ke dalam DAMRI, saya perkirakan mungkin perjalanan, 1,5 jam. Dan ternyata sodara-sodari.. Maceeeeeeettttttt banget arah Soetta. Saya sampai bosen di dalam DAMRI, udah berupaya untuk tidur, berganti posisi tubuh, makan permen karet, dll.. Tapi tak juga sampai 😦 saya khawatir tidak bisa bertemu dilla :(.

Oke, setelah bermacet ria 2,5jam.. Finally, nyampe juga di Soetta Terminal 1A, :D. Cukup mudah cari dilla, tadinya mau ngagetin dilla, eh dia udah nengok duluan. Yahaa, berasa puluhan tahun nggak ketemu, rada norak disini. Pelukan dan saling bercerita tentang kabar ke-kini-an, menjadi agenda pertama. Lanjut kita makan baso (please deh, jauh-jauh ke Bandara, makannya baso juga.. Hadeh, beginilah ulah para pecinta baso).

Dilla kulitnya lebih bersih, dan nampak dewasa 🙂 . Tapi dia kurusan, tidak menyangka saya 😦 . Semoga tetap sehat yaa dil, 😀

Saya sampaikan salam teman-teman padanya, saya yakin begitu banyak orang yang ingin bertemu dengan dia, namun yang mempunyai kesempatan bertemu saat itu hanya saya, jadilah saya perpanjangan tangan mereka. Semoga bisa tersampaikan salam rindu dari teman-teman.

Sudah jam20.00, dilla harus bersiap-siap masuk. Sebelumnya saya dan dilla agak curiga, kayaknya pesawat ke makasar akan delay. Tapi khawatir kecurigaan kami salah, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah, saya juga khawatir kemalaman pulangnya. Yah, perpisahan.. Lagi-lagi, bertemu-berpisah, begitu seterusnya, sunatullah.

Sedih, tapi tak boleh ada airmata, yakin.. Nanti akan bertemu lagi, insyaAllah. Pelukan dan cipika-cipiki, terus mengamati dilla masuk kedalam sampai tak terlihat lagi.

Waktunya pulang.. DAMRI jurusan kp.rambutan banyak terjebak macet, walhasil 1 jam kemudian baru naik DAMRI 😦 ya sudahlah, yang terpenting sudah bertemu dilla, tenang 🙂

“Rasanya tak pernah ada lelah dalam mengejar persahabatan. Sahabat itu anugerah, maka harus disyukuri dengan terus menjaganya dalam kondisi apapun”

Entah seperti apa saya dimata sahabat, yang jelas.. Boleh saya lantangkan suara, untuk berkata “dilla, aku mencintaimu karena Allah.. Begitupun juga aku mencintai sahabat-sahabat yang lainnya. kita bertemu dan berpisah, semoga menjadi penguatan dan keyakinan akan bertemu kembali di surgaNya kelak”

Salam cinta dan rindu dari sahabat-sahabatmu di kota hujan, semakin deras hujan yang turun, semakin aku merindu tentang sahabat, karena aku pernah.. Menyemai ukhuwah diderasnya kota hujan”

Jakarta, 29 Juli 2011
Dian Fitriah
(3 hari menjelang 1 Ramadhan)
..shining like a star

sebuah cerita » Aku Ingin Kembali..


share untuk renungan aja, silahkan dibaca, ini hasil karya orang lain yang saya kutip di sini : Artikel ini diambil dari :
http://www.islamedia.web.id/2011/07/aku-ingin-kembali.html?m=1

————————

AKU INGIN KEMBALI..

”Hey, gak boleh melamun!” aku menyikut Aldisa, adik kelasku di SMA dulu. Kini ia sedang mengurus administrasi di kampus yang sama denganku.

“Eh iya, Mbak.” Ia tersenyum, tapi lalu mengembalikan tatapannya ke posisi semula. Aku sadar betul apa yang diperhatikannya. Seorang wanita berjilbab besar dengan gamis marun sedang khusyuk membaca Al-Qur’an. Ia memang tampak menyejukkan di tengah KRL ekonomi yang pengap dan gersang. “Aku kagum mbak sama mereka itu.” Ujar Aldisa bersemangat. “Kemarin, waktu aku pertama kali nyampe Jakarta, aku ketemu sama mbak-mbak kayak gitu. Nyapa aku ramah banget, mungkin kasian liat wajah ndeso-ku ya mbak.” Tambahnya lugu.

“Hati-hati, Nduk. Mereka nyapa ada maunya!” jawab Rina sahabatku dengan ketus, menatap sinis ke arah wanita yang mengaji itu.

“Lho, maksudnya mbak?”

“Iya awalnya mereka ngajak kenalan, trus lama-lama ngajakin kamu ngaji di pengajian mereka.”

“Lah, emang kenapa toh mbak aku ndak boleh ikut ngaji sama mereka? Aku kan mau jadi sholehah juga kayak mereka..”

“Sudahlah, nanti kamu akan tahu sendiri.”

“Cukup, Rin.” Aku memutus pembicaraan itu.

Aldisa mengangguk seolah mengerti maksud kami. Aku faham betul, Rina sahabatku dua tahun terakhir ini memang tidak suka wajah-wajah sok alim mereka, tidak suka sapaan ramah yang dibuat-buat katanya, intinya ia tidak suka dengan para aktivis mesjid itu.

***

“Kamu mau pergi kemana toh, Dis? Temenin mbak pergi ke toko buku yuk hari ini!” aku memperhatikan Aldisa yang tengah bersiap di depan cermin, mematut-matutkan wajahnya dengan jilbab merah muda yang katanya baru dibelinya kemarin,

“Cantik ndak mbak kalo aku pake ini?” tanyanya masih sibuk di depan cermin. Aku mengangguk acuh, “Setiap wanita muslimah berjilbab itu akan terlihat lebih cantik, Dis.”

“Iya mbak? Wah kata-kata Mbak Ayu mirip dengan kata-kata mbak Aini, mentor ngajiku.”

“Ngaji?”

“Iya mbak, aku mulai ngaji sejak minggu lalu sama mbak Aini. Mbaknya baik, aku belajar banyak tentang Islam. Mbak Aini juga yang bikin aku mantep pake jilbab ini, insya Allah ini akan seterusnya mbak.”

Aini Althafunissa, aku mengenalnya baik saat satu organisasi di tingkat satu dahulu. Semua orang menyebut kami dua serangkai karena kami selalu terlihat bersama. Kami sama-sama menjalankan amanah dakwah kampus, mengikuti halaqoh rutin tiap pekan, berlomba mengikuti kajian rutin di mesjid kampus. Sampai saat itu,

“Ayu, aku pikir kamu sudah terlalu dekat dengan Aldi.”

“Aku cuma temenan sama dia, gak ada hubungan apa-apa. Kamu tenang aja ya Aini…” saat itu aku menenangkannya yang berwajah cemas. Meskipun wajahnya masih menyimpan kekhawatiran, ia mengangguk juga, “Iya aku percaya sama kamu, Yu. Kita sudah dewasa, sudah paham mana yang baik dan yang buruk.”

Aku mengangguk mengiyakan.

Tapi hubunganku dengan Aldi memang tidak berjalan seperti teman biasa, ia tambah sering mengirimkan sms padaku, menelponku bahkan untuk membahas hal yang tidak penting. Pembicaraan kami berubah dari masalah kader, syuro, amanah, menjadi rayuan gombal pria dan wanita. Sadar bahwa hubungan kami salah, sadar bahwa orang-orang di sekeliling akan memprotes kami, maka aku pun menjauh perlahan dari komunitasku. Aku jarang hadir di kajian, halaqoh pekanan jadi prioritas ke sekian, hingga akhirnya ke anehanku tercium juga. Aku diputihkan dari amanah setelah aku bersikukuh mempertahankan hubungan tanpa statusku dengan dia.

“Dia berjanji akan menikahiku setelah lulus.”

“Kami tidak pernah jalan berdua layaknya orang pacaran.”

“Lagipula kami hanya tinggal menunggu waktu sampai menikah nanti.”

Begitu kalimat-kalimat pamungkasku ketika teman-teman bertanya perihal hubungan kami. Aku tersenyum kecut setiap mengingatnya.

“Mbak, aku berangkat ya. Assalammu’alaikum..” suara Aldisa mengembalikan kesadaranku yang sempat melayang ke masa lalu tadi.

“Eh, iya.. wa’alaikumsalam..” aku menghela nafas, mematikan televisi dan memilih merebahkan tubuhku di atas karpet beludru. Ada rasa aneh menyeruak di hatiku.

***

“Ayu, malem minggu nanti kita karokean yuk!” ajak Rina membuyarkan lamunanku sambil mencomot kacang kulit yang kuhidangkan di piring tadi sebagai teman nonton dvd. Aku menggeleng pelan, “Lagi gak mood..”

Alis Rina berkerut, “Kamu aneh belakangan ini. Diajak jalan selalu menghindar, ada apa sih? Padahal kemarin itu aku mau kenalin kamu sama David, kayaknya dia naksir kamu tuh.”

“Gak minat.” Jawabku pendek.

“Hey, kalo gini terus, gimana kamu mau ngelupain Aldi??” ujarnya sewot.

“Jangan pernah sebut nama itu lagi di depanku.” Mataku menyala, ada yang terluka di sini, tepat di ulu hati setiap nama itu terdengar di telingaku. Kenangan buruk itu selalu terasa menyakitkan,

“Ibuku tidak menyetujui hubungan kita, Yu.”

“Bukankah sejak awal begitu? Dan kau berjanji akan tetap memperjuangkanku hingga ibumu luluh?”

“Awalnya seperti itu, tapi sekarang tidak bisa..”

“Maksudmu, kau akan meninggalkanku?”

“Aku tidak mau melawan ibu.”

“Hey, Aldi yang kukenal tidak selemah ini! Kemana Aldi yang mempertahanku meski orang-orang menolak kita? Apa dia sudah tenggelam ke laut?!”

Tepat sebulan setelah pertengkaran itu, undangan berwarna merah marun mampir ke tempat kostku. Nama seseorang yang sangat kukenal tertera disitu, Aldi Pratama dan nama gadis yang disandingkan dengan namanya semakin menyesakkanku. Layla Fatimah, adik tingkatku, sempat satu kepanitian denganku saat aku masih aktif di DKM. Aku hampir gila. Belum lagi membayangkan bisik-bisik teman-teman dan komunitas rohis yang kutinggalkan dahulu.

Saat kondisiku tengah terpuruk itulah, aku mengenal Rina lalu akrab hingga kini. Sedikit demi sedikit, atribut ‘keakhwatanku’ terkikis. Jilbab tebal dan lebarku sudah tidak terlihat indah di pandanganku, kajian rutin per pekan tak terlihat menarik lagi dibanding kongkow di mall atau nonton di bioskop. Rok panjangku terasa membatasi. Jadilah kini jeans, kaos ketat dan jilbab modis menemani keseharianku.

“Hey, Disa… mau kemana? Malem mingguan ya?” Tanya Rina penasaran, aku memperhatikan Aldisa sudah rapi dengan jilbabnya keluar dari kamar.

“Iya Mbak, malem mingguan sama temen-temen ngaji, aku mau mabit Mbak.” Aldisa tersenyum cerah sekali, dan aku baru menyadari rok hitam panjang yang dikenakannya. Bukankah baru kemarin ia bilang tak punya satu potong rok pun dalam lemarinya.

“Roknya baru?” tanyaku menyelidik. Aldisa tersenyum, “Dikasih Mbak Aini…” jawabnya malu-malu, “Tapi aku janji kalau punya uang nanti, aku mau beli rok yang banyak..” ujarnya semangat.

“Buat apa? Jeansmu memang pada kemana?” Tanya Rina menunjukkan gelagat tidak suka.

“Aku berniat pake rok untuk seterusnya Mbak…soalnya aku gak nyaman pake jeans yang membentuk, gak nyar’i banget!”

Rina mengangkat bahu. Aku seperti disengat aliran listrik. Lagi, ada sesuatu yang memberontak di hatiku.

***

Senin sore, sepulang kuliah, aku dan Rina memilih makan di sebuah warung tenda dekat kampus. Sore ini agak lenggang, suasana ujian membuat para mahasiswa lebih memilih tinggal lebih lama di kamar masing-masing bersama bahan ujian dan catatan kuliahnya. Rina tengah menceritakan pria incarannya yang baru ia kenal minggu lalu, sampai tiba-tiba aku melihat sosoknya, Aini Althafunnisa.

Ia mengucapkan salam dan menyalamiku serta Rina seperti biasa tanpa rasa kikuk. Aku salah tingkah, Rina melirik sinis masih dengan kebenciannya dengan para aktivis.

“Apa kabar Yu?” tanyanya ramah seperti biasa.

“Baik.” Jawabku salah tingkah. Ia mengangguk, agak lama kami hanya saling diam.

“Kamu sekostan sama Aldisa yah, Yu? Salamin ya..”

“Iya.” Jawabku singkat. Aini mengangguk lagi, mungkin ia pikir aku tak mau berbicara dengannya. Padahal aku hanya sedang speechless, jujur aku lebih ingin memeluknya dari pada ngobrol panjang dengannya. Aku lebih ingin menangis di pundaknya ketimbang berjabat tangan dengannya.

Ia pergi setelah menerima bungkusan pesanan makanannya dan mengucapkan salam untuk pamit. Aku memperhatikan punggungnya yang semakin mengecil.

Sepulang dari warung tenda, aku mampir ke kostan Rina untuk meminjam beberapa buku bahan ujian. Kostan Rina tampak lebih mentereng dari kostanku, maklum ia salah satu anak pejabat pemerintahan di kota asalnya. Ia membiarkan aku merebahkan tubuh di tempat tidurnya yang empuk sementara ia keluar sebentar untuk membeli cemilan. Kuperhatikan tiap sudut kamarnya, meskipun ini bukan pertama kali mampir ke tempatnya, aku selalu senang memperhatikan detail kamarnya. Foto-foto yang terpajang, buku-buku yang berserakan di mejanya sampai yang tersusun rapi di rak bukunya, album-album kenangannya, koleksi kaset dan CDnya.

Mataku menyipit, menangkap satu kaset bersampul grup nasyid yang sangat kukenal. Letaknya memang berada di pojok, hampir berdebu karena mungkin jarang dikeluarkan dari tempatnya. Sejak kapan Rina suka nasyid? Perlahan kubuka kaset itu, rupanya ada sebuah foto di dalamnya. Tiga orang gadis berjilbab besar berbaris rapi, salah satunya berwajah sangat familiar.

Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakan syariah dalam kehidupan
Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintaNya
Tunjukilah jalan-jalanNya
Terangilah dengan cahyaMu yang tiada pernah padam

                                              Divisi Keputrian SMAN 1 Probolinggo

Penggalan do’a rabithoh tertera di balik foto yang kupegang. Aku tercekat, bersamaan dengan kedatangan Rina. Ia merebut paksa foto dalam genggamanku.

“Sejak kapan kau suka melihat barangku tanpa izin?!”

“Maaf…” aku tertunduk merasa bersalah.

“Sudahlah… ini masa lalu.” Ia melempar lembaran foto itu ke lantai, ia berusaha menunjukkan tidak ada apa-apa meski aku dapat melihat tatapan nanar di matanya.

Selasa dini hari, kudengar sayup tilawah dari balik dinding kamar Aldisa. Akhir-akhir ini, aku memang lebih sering mendengar adik kelasku itu membaca mushaf. Aku juga jadi sering mendengar gemericik air keran ketika sepertiga malam tiba.  Malam ini aku tergugah untuk ikut terbangun dan mendirikan qiyamul lail yang kini sangat jarang kulakukan.

Aku menangis tanpa bisa berkata apa-apa setelah menghabiskan dua rakaatku. Aku terlampau malu mengutarakan resah dan sedihku, setelah semua yang aku lakukan selama ini. Wajah-wajah teman seperjuanganku di DKM berkelebat, bergantian satu-satu. Aku semakin sendu. Terlebih jika mengingat Rina, saat aku tanpa sengaja melihat fotonya masa SMA dimana akhirnya aku tahu asal muasal kebencian Rina pada aktivis.

Ia salah satu korban kekecewaan, kecewa pada jama’ah manusia dalam kumpulan rohis. Ia terlalu berharap anak rohis itu sempurna, tidak melakukan kesalahan sekecil apapun. Namun ia lupa, kalau anak rohis hanyalah kumpulan manusia, kadang khilaf dan alpa. Akhirnya ia memilih lepas dari komunitas keislaman dimana pun karena kekecewaan itu, sampai saat ini.

Lalu, bayangan saat awal aku memperoleh hidayah terekam jelas.

“Berbahagialah wahai orang asing.. berbahagialah wahai orang asing..” sabda itu terdengar begitu menyejukkan kala itu, saat rok bahan panjang menjadi benda tabu digunakan oleh gadis seusiaku, saat aku beringsutan mencari kaos kaki walau hanya untuk membeli bakso di depan rumah. “Dien ini datang dalam keadaan asing, ditolak bahkan di negeri kelahirnnya.” mataku berkaca, lagi.. sabda ini terasa begitu mententramkan dikala perubahan cara dudukku saat dibonceng motor diprotes adikku, saat jilbabku yg memanjang menimbulkan tanda tanya sanak saudaraku. Diselidiki isi pengajianku, siapa teman-temanku, apa buku bacaanku. Lalu saat isu bom mengguncang media tanah air, dimana ibu dan ayah selalu disuguhi berita teroris dengan tampilan islami. Ponselku tiap hari berdering,ditanya ini dan itu. “Berbahagialah wahai orang asing..” sabda itu kembali melembutkan hatiku, sampai kedua orang tuaku akhirnya mengerti dengan pilihanku di jalan ini.

Tangisku pecah sampai pada rekaman jejakku tiba di episode kelalaianku diserang virus merah jambu, memilih lepas dan akhirnya kembali ke masa jahiliyah. Mataku yang masih sembab memastikan jarum jam dindingku, pukul 04.00 dini hari.  Kuraih ponselku, kutekan nomor yang masih sangat lekat diingatanku.

“Assalammu’alaikum..” sapaan suara yang sangat kukenal menjawab di seberang sana. Aku masih tak kuasa berkata. “Assalammu’alaikum, maaf ini siapa?” tanyanya lagi. Ini akibat aku memutuskan untuk berganti nomor saat itu. Pastilah Aini tidak tahu nomorku.

Aku menangis sesungukan, “Ain…” ujarku parau.

Ia terdiam. Entah ikut hanyut dalam tangisku atau penasaran menebak siapa pemilik suara iseng yang menelponnya dini hari.

“A..yu…” tebaknya terbata agak ragu. “Kaukah?” tanyanya lagi.

“Aku ingin kembali…” ujarku tercekat menahan sesak yang memuncak

—————

dianyaa^^ | shining like a star.. ☆☆☆

kembalikan padaNya


Tentang semua hal yang terjadi, dan yang belum terjadi. Kembalikan padaNya, hanya padaNya.

Sang pemberi takdir, semua takdir itu terbaik. Namun, sering kali kita hanya melihat sisi yang berbeda hingga nampak buruk.

Apapun itu, mari ikhlas-se-ikhlas-ikhlas-nya. Menerimanya dengan penuh antusias setiap takdir yang menghampiri proses kehidupan, itu lebih baik 🙂

Mari tersenyum, mari berbahagia, mari sambut takdir-takdir terbaik dariNya.

Karena kita hambaNya, mari kembali kepadaNya. 😀

..Kini saya tahu, apa maksud Allah atas takdir kehidupan saya, (lagi-lagi) saya diminta untuk belajar : belajar agar tidak menjadi hamba yang kufur nikmat, belajar agar menjadi hamba yang lebih teguh dalam menjalani perintah dan menjauhi laranganNya!..

Jakarta, 24 Juli 2011

dianyaa^^ | shining like a star.. ☆☆☆