on Eid day..


اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدِ

Taqabbalallahu minna wa minkum,
Shiyamana wa shiyamakum..
Ja’alanallahu minal a’idin wal faidzin.

Dian Fitriah dan keluarga mengucapkan :
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H”

dianyaa^^ | shining like a star.. ☆☆☆

#catatanDian | 1 dan 2


Menyapa sahabat-sahabat dengan #catatanDian.. Ini hanya sekedar catatan sederhana hasil dari refleksi jiwa yang tertuang dalam kalimat. Berawal dari inginnya selalu hadir dihadapan sahabat-sahabat nan jauh di mata, walaupun tak seutuhnya bisa bersama mereka, semoga dengan #catatanDian yang mampir ke dalam inbox mobilephone mereka.. bisa menghadirkan sosok dian diingatan mereka barang sekejap. Bismillah.. Semoga bisa continue program #catatanDian untuk menyapa sahabat dalam kalimat-kalimat sederhana.. Yang insyaAllah sama-sama saling tergugah tentang firmanNya.

#catatanDian | 1 :
Cobaan iman akan terus hadir sampai seorang hamba mengakhiri hidupnya.
“Apakah kalian akan dibiarkan mengatakan kami telah beriman, sementara belum diuji?”
al-ankabut:2

#catatanDian | 2 :
Jika semua aktifitas bukan untukNya, lalu untuk siapa?
“sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah karena Allah, Tuhan semesta Alam”

dianyaa^^ | shining like a star.. ☆☆☆

ramadhan bergegas, Syawal akan tiba..


Hari ini aku lihat RAMADHAN sedang berkemas-kemas… Lalu kusapa ia…“Hendak ke mana?” Dengan lembut ia berkata, “Aku harus pergi, mungkin JAUH & sangat LAMA. Tolong sampaikan pesanku untuk orang yang bernama MUKMIN sebentar lagi : SYAWAL akan tiba bersama FITRI, ajaklah SABAR dan HAQI untuk menemani dan mengisi hari-hati mereka. Jangan biarkan JAHIL dan BATHIL mengganggu. Biarkan ia berpegang pada ISTIQOMAH saat ia kelelahan dalam perjalanan menuju TAQWA, bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang, mintalah nasehat QUR’AN & SUNAH di setiap masalah yang dihadapi.. Sampaikan pula salam & terima kasih untuknya karena telah menyambutku dan menemaniku dengan suka cita dan melepas kepergianku dengan derai air mata.

😥 😥 😥

SMS-SMS salam idul fitri sudah berdatangan, ini tanda bahwa ramadhan segera bergegas pergi. Sudah malam ke 29, dan hati makin bergemuruh, sudahkah TAQWA itu dimiliki? ahh, sekali lagi itu rahasia Allah, tapi jika TAQWA itu sudah diraih.. Seharusnya ada hal yang berbeda dalam diri seorang hamba “Semakin teduh.. Semakin teguh.. Semakin taat atas perintahNya dan tak ada (lagi) keringanan terhadap sikap yang melanggarNya”

Allah yang Maha Baik,
Terima kasih Kau izinkan aku bertemu dengan Ramadhan tahun ini, dan sampaikanlah pada Ramadhan tahun depan.
Bimbing aku ya Rabb, sampai TAQWA itu ku raih.. Dengan sebenar-benarnya niat dan sesungguh-sungguhnya perjuangan.

Jakarta, 28 Agustus 2011
-ketika adzan maghrib berkumandang-

dianyaa^^ | shining like a star.. ☆☆☆

KJOH.. #1


*lagi buka multiply, liat postingan teman-teman di MP, saya menemukan artikelnya Scientia Afifah yang menurut saya cukup ‘tersentuh’, di enam terakhir di bulan mulia ini, agar tidak ada alasan lagi untuk tidak semakin tangguh, kokoh, bijaksana.

Cinta aktivis da’wah adalah cinta seorang hamba dengan spektrum yang luas. Ia melihat kehidupan dengan cinta. Setiap hari, ketika Allah berikan kesadaran dan memasukkannya  ke dalam perputaran kehidupan, ia menjalaninya dengan cinta. Apa yang membuat seorang menjadi resah dengan penyimpangan kehidupan. Apa yang menghalangi seorang dari tidur dan istirahat untuk mengurus urusan umat yang kompleks ini. Apa yang membuat seorang rela membelanjakan hartanya, meskipun ia sendiri tidak berharta lebih, untuk meringankan beban saudaranya. Semua itu adalah spektrum cinta aktivis da’wah.

Cinta aktivis da’wah adalah cinta yang lahir dari kerja keras menjaga rasa sayang Allah swt kepadanya. Ia membingkai kehidupannya dengan frame cinta yang hakiki. Masalah terbesarnya adalah jika Allah murka dengan semua rasa dan amalnya. Kebahagiaan terbesarnya adalah ketika Allah merahmati perasaan dan amalnya. Di dalam frame itulah ia menjalankan pentas kehidupannya. Maka ketika ia jatuh cinta, cinta itu membawanya kepada ketaatan. Cinta itu menghantarkannya kepada amalan-amalan yang membuat Allah semakin cinta kepadanya. Ketika ia jatuh cinta, cinta itu membentenginya dari perbuatan ingkar dan penyimpangan.

Cinta aktivis da’wah menghantarkannya kepada kehidupan yang berkah, dipenuhi rahmat. Ia mengijinkan perasaannya tumbuh dan berbunga hanya dalam bingkai ketaatan. Ketika cinta lawan jenis hadir dalam dirinya, maka itu pun tidak lepas dari komitmen menjaga hak-hak Allah di dalam cinta tersebut. Ia mempersembahkan cinta itu untuk orang yang memberinya jaminan cinta tersebut adalah berkah dan penuh rahmat. Ia menjalankan cinta tersebut dengan muraqabah yang ketat. Ia selalu yakin, Allah memberikan pendamping yang baik sesuai kualitas kebaikan dirinya.

Cinta aktivis da’wah bukanlah cinta dusta. Yang berlindung dengan pernyataan, “Allah tahu niat saya baik”, tapi kemudian melakukan penyimpangan amal. Bukan cinta yang bisu dari pernyataan taushiyah dan tuli dari bisikan kebaikan. Bukan cinta yang melenakan dan menjerumuskan kepada kehidupan yang meresahkan. Bukan cinta yang diobral dengan hiasan kemaksiatan dan sekedar mengejar sebuah tuntutan sosial. Cinta aktivis da’wah bukan cinta dalam ’30 hari mencari cinta’.

Cinta aktivis da’wah adalah cinta yang seterang matahari. Ia penuh dengan ketulusan dan bukan basa-basi. Ia jelas dengan perangkat yang tidak menyimpang dari statusnya sebagai hamba. Cintanya bukan sekedar kedekatan, melainkan juga tanggung jawab. Bukan sekedar romantika dunia, melainkan senandung mulia penduduk langit. Jelas, terang, dan tidak ada yang disembunyikan. Cinta aktivis da’wah tidak membutuhkan pertanyaan, ‘ada apa dengan cinta’.

Cinta aktivis da’wah ada dalam tingkatan ketaatan, Allah Sang Raja, Rasulullah Sang Kekasih, Perjuangan yang dirindukan, dan pasangan hidup yang menyejukkan pandangan, serta anak-anak yang shalih dan shalihah sebagai bunga dan buahnya. Cinta tulus, cinta murni, cinta yang hidup dan menghidupkan.

Jika anda aktivis da’wah, dan menjaga hak-hak sebagai hamba, maka JATUH CINTAlah dan SELAMAT MENJALANI CINTA. Semoga ALLAH memuliankan anda disebabkan cinta itu. Menghimpun anda dalam rahmat sebagai buah dari cinta itu. Dan melahirkan generasi kuat pewaris da’wah dengan cinta itu.

sumber: Majalah Al-Izzah, edisi 11/Th. 4/Jan 2005

dianyaa^^ | shining like a star.. ☆☆☆

do’a lailatul qadr..


Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’
(ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku)..
[HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad]

Tak tahu dimana lailatul qadr itu turun, tak ada salahnya do’a ini selalu dilafadzkan.. Disepanjang ramadhan, hingga akhir. Semoga masih ada kesempatan untuk meraihnya, pilihlah ya Rabb..

Merajut Kembali Ikatan Hati Kita


Allah Azza Wa Jalla menciptakan manusia dengan fitrah yang sama, fitrah mulia, yaitu untuk beriman kepada-Nya.

Allah Azza Wa Jalla berfirman, ”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya, ketika itu, kami (Bani Adam) lengah terhadap
ini (keesaan Tuhan)’.” (QS [7]:172).

Penegasan itu menjadi potensi bagi setiap manusia, tanpa terkecuali, agar senantiasa mengasah fitrahnya. Barang siapa yang berusaha untuk mencapai hidayah-Nya, Allah akan memudahkannya. Sebaliknya, mereka yang hanya menerima saja dan enggan berusaha, ia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diusahakannya. Maka, beruntunglah mereka yang selalu mengasah fitrah keimanannya. Dengan bekal keimanan ini, setiap Mukmin dan Mukmin yang lain seharusnya memiliki ikatan batin yang kuat. Ini karena setiap Mukmin berjalan dalam satu jalan yang sama untuk meniti tujuan yang sama, yaitu mendapatkan keridhaan Allah Azza Wa Jalla.

Ikatan hati ini telah Rasulullah Sallallhu ‘alaihi wasallam gambarkan dalam sebuah hadis. ”Perumpamaan seorang Mukmin dan Mukmin yang lainnya dalam cinta dan kasih sayang mereka bagaikan tubuh yang satu. Apabila salah satu anggota tubuhnya ada yang sakit, seluruh tubuh yang lain merasa sakit dan demam.” (HR Muslim).

Kita pun diingatkan kepada generasi awal di masa para sahabat. Keyakinan yang mereka pegang menumbuhkan rasa saling mengasihi, tolong-menolong, dan berbagi antarsesama. Mereka menganggap Mukmin yang lainnya seperti saudara sendiri.

Kondisi tersebut tidak mustahil terjadi pada masa kini. Sebab, setiap Mukmin memiliki potensi yang sama untuk mewujudkan rasa kebersamaan. Tinggal bagaimana seseorang mampu mengasah hatinya dan mengaplikasikan keimanannya dengan sebenar-benarnya iman.

Iman mengandung tiga unsur, yaitu meyakini, melafalkan dengan lisan, dan mengamalkannya dengan kerja nyata. Tujuannya agar setiap Mukmin tidak hanya mementingkan diri sendiri, tapi mengharuskannya untuk berbaur saling menolong dan saling menasihati antarsesama dalam kebenaran.

Maka itu, ketika ada yang mengingatkan tindakan salah yang dilakukan, seharusnya terucap kata terima kasih, bukannya cacian atau balas dendam. Masukan sejatinya merupakan luapan rasa sayang yang muncul dari lubuk hati karena setiap Mukmin dan Mukmin lainnya adalah sehati dalam bingkai keimanan… Wallahu’alam Bishawab..

—–
Artikel ini dikutip dari suatu milis yang masuk ke email. Semoga bermanfaat yaa 🙂

dianyaa^^ | shining like a star.. ☆☆☆