Merajut Kembali Ikatan Hati Kita


Allah Azza Wa Jalla menciptakan manusia dengan fitrah yang sama, fitrah mulia, yaitu untuk beriman kepada-Nya.

Allah Azza Wa Jalla berfirman, ”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya, ketika itu, kami (Bani Adam) lengah terhadap
ini (keesaan Tuhan)’.” (QS [7]:172).

Penegasan itu menjadi potensi bagi setiap manusia, tanpa terkecuali, agar senantiasa mengasah fitrahnya. Barang siapa yang berusaha untuk mencapai hidayah-Nya, Allah akan memudahkannya. Sebaliknya, mereka yang hanya menerima saja dan enggan berusaha, ia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diusahakannya. Maka, beruntunglah mereka yang selalu mengasah fitrah keimanannya. Dengan bekal keimanan ini, setiap Mukmin dan Mukmin yang lain seharusnya memiliki ikatan batin yang kuat. Ini karena setiap Mukmin berjalan dalam satu jalan yang sama untuk meniti tujuan yang sama, yaitu mendapatkan keridhaan Allah Azza Wa Jalla.

Ikatan hati ini telah Rasulullah Sallallhu ‘alaihi wasallam gambarkan dalam sebuah hadis. ”Perumpamaan seorang Mukmin dan Mukmin yang lainnya dalam cinta dan kasih sayang mereka bagaikan tubuh yang satu. Apabila salah satu anggota tubuhnya ada yang sakit, seluruh tubuh yang lain merasa sakit dan demam.” (HR Muslim).

Kita pun diingatkan kepada generasi awal di masa para sahabat. Keyakinan yang mereka pegang menumbuhkan rasa saling mengasihi, tolong-menolong, dan berbagi antarsesama. Mereka menganggap Mukmin yang lainnya seperti saudara sendiri.

Kondisi tersebut tidak mustahil terjadi pada masa kini. Sebab, setiap Mukmin memiliki potensi yang sama untuk mewujudkan rasa kebersamaan. Tinggal bagaimana seseorang mampu mengasah hatinya dan mengaplikasikan keimanannya dengan sebenar-benarnya iman.

Iman mengandung tiga unsur, yaitu meyakini, melafalkan dengan lisan, dan mengamalkannya dengan kerja nyata. Tujuannya agar setiap Mukmin tidak hanya mementingkan diri sendiri, tapi mengharuskannya untuk berbaur saling menolong dan saling menasihati antarsesama dalam kebenaran.

Maka itu, ketika ada yang mengingatkan tindakan salah yang dilakukan, seharusnya terucap kata terima kasih, bukannya cacian atau balas dendam. Masukan sejatinya merupakan luapan rasa sayang yang muncul dari lubuk hati karena setiap Mukmin dan Mukmin lainnya adalah sehati dalam bingkai keimanan… Wallahu’alam Bishawab..

—–
Artikel ini dikutip dari suatu milis yang masuk ke email. Semoga bermanfaat yaa 🙂

dianyaa^^ | shining like a star.. ☆☆☆

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s