glow in the dark


Maha Baiknya Allah, yang memperkenalkan dyn rasa dalam hati. Suka, duka, cita. Hingga jauh didalam hati ini ada rasa syukur yang teramat tak mungkin dituliskan satu per satu disini. Dyn masih terjaga di malam yang semakin larut menuju 14 dzulhijah 1432 H, mamah sudah berpesan : “ayo tertidur, esok jangan sampai sulit terbangun”. Yah, pola tidur dyn berubah! “iya mamah, tapi dyn belum ngantuk”. “lagi apa didepan layar besar itu dyn?”. “lagi bikin kebahagian untuk mamah”. “emang bisa?”. “bisa mah”. “ya udah terserah dyn saja, yang penting esok nggak ngambek karena adzan duluan terdengar dyn baru ngucek-ngucek mata”. yah.. diingetin lagi, dyn jadi sangat khawatir, jangan-jangan benar.. ah takut jika esok terulang, adzan terdengar – dyn ngucek mata – ngambek nggak mau minum susu, tapi 1 jam kemudian meminumnya dingin-dingin. Huh, manusia.. padahal sejak dikandungan sudah berjanji : “Allah adalah Tuhanku”, bersegera memenuhi panggilanNya adalah salsah satu cara dari sekian banyak cara yang bisa ditempuh untuk memenuhi janji kepada Allah, bahwa kita mendengarkan dan melaksanakan seruannya. Tapi entah ingat atau tidak, dyn pun terlupa, tapi Allah ingatkan lagi disuatu materi ketika mengaji. terus bergumam, “oh..”

setelah keputusan berpisah dengan anak-anak luar biasa hebatnya di sana, hmm.. rasanya seperti terputus satu roda kebahagiaan, tertatih, jomplang. Namun buru-buru metepis, bukan terputus, namun akan diteruskan dengan berinteraksi dengan yang lain, yang akan menguatkan roda-roda kebahagiaan di masa kehidupan selanjutnya. Tapi, malam ini dyn semakin sayang mereka, seperti ada suara-suara ajaib yang mengelilingi dyn, teringat dengan satrya – nadif – vanza yang mengantarkan si bunda-nya ke depan parkiran, menunggu setia sampai si bunda-nya siap mengendarai motornya, hingga tak henti mereka selalu mengulang pertanyaan dengan jawaban yang sama “bunda rumahnya dimana?” “di ciracas sayang”. Lalu, dengan rela hati mereka berlari mengikuti si bunda yang sudah menaiki beat merahnya perlahan meninggalkan mereka. “Dadah bunda, dadah bunda,,” terus sampai si bunda tak terlihat lagi di hari-hari selanjutnya. ini yang membuat si bunda belum berhasil menyusun bintang di kertas besar terakhir untuk mereka.

selanjutnya, dibeberapa hari setelahnya, dyn dipertemukan dengan bunda pelatih cake house yang tegar, yang dekat bagai sahabat, yang perhatian bagai mamah.. dengan mba Sinar Mentari yang dengan tulisannya dyn bagai terhipnotis, ikut masuk seperti hanyut di samudra luas, juga dengan si bungsu 1 yang bersamanya dyn akan menemukan kalimat ‘aku ngefans banget sama’ dalam ceritanya berkali-kali. Menjadikan sabtu itu seperti energi untuk tetap berjuang sesuai dengan pilihan terbaiknya, tentu dengan konsekuensi pilihan takdir.

Dengan sertamerta si bungsu 1 hadir di rabu yang hujan. Hujan.. ya, hujan. Bagi sebagian orang hujan adalah musibah, dimana rumah mereka dengan tiba-tiba kehadiran tamu yang tidak diundang dalam jumlah besar, bah.. yaa air bah, banjir. Mereka harus sibuk mencari tempat yang lebih tinggi, dan lebih sibuk lagi menyelamatkan harta benda untuk kehidupan setelah banjir. Patut disadari nyawa mereka terancam dengan berbagai penyakit, dan memberikan mereka pekerjaan tambahan dengan harus mengepel lebih lama. Tapi bagi dyn hujan itu pengingat, dimana Allah datangkan si bungsu 1 yang meminta web yayasannya dirapihkan, oh.. alamak, aku bertemu dengan CSS, java script, dll. Sambil sotoy melanda, coba menelusuri satu persatu kalimat bahasa abstrak yang dulu pernah di sumpah serapahi, karena dengan lantang bilang “..I’m design graphic minded not coding minded..”, kenalah aku mati kutu berhadapan dengan function, class, object, method, dan sebagainya dan terserahnya. Bisa merubah name of pages aja udah alhamdulillah wa syukurillah banget. Ngehapus icon yang sudah defaultnya, atau bisa ngelink-in suatu icon. Hwaa, entah kenapa jadi semakin tak sabar untuk cepat-cepat kuliah lagi bertemu dengan bahasa-bahasa sastra non public, just a owner language know what the means, and what for. Semoga awal desember menjadi awal untuk kehidupan yang lebih layak πŸ˜€

Esoknya di kamis, keduakalinya, eh.. kesekian kalinya dyn bergabung dengan ratuan, hmm.. ribuan, mungkin jutaan manusia, dan yah.. “aku ada didalamnya”, sungguh tragis mengalami ke sekian kalinya, saking bosan dengan retorika gedung megah dan dandanan super fantastic, mengampar di lantai sambil makan coki-coki lebih nikmat dari pada harus antri untuk menunjukan “saya lebih baik dari dia, atau dia tidak lebih baik dari saya”.. hah, pinsang aja deh!. Allah Maha Baiknya dyn dan si bungsu 1 terlarut dengan sibuk dalam kemegahan gedung itu dan mengabadikan diri kamera ponsel bungsu 1, entah apa yang ada dipikiran mereka berdua, dyn malah terkagum-kagum.. “lampunya keren yaa, bisa bikin kita keliatan cantik, glow, glow, glow.. semuanya cerah”, dan terheran-heran kenapa semua hasil jepretan membuat dyn nampak lebih putih 10x lipat, “lampunya boleh dipinjam nggak yaa? beli dimana sih? buat naruh didepan cermin, biar nggak ngeluh ini itu kalau lagi bercermin”. Sepulangnya, dyn merasa sangat dipermainkan oleh patung pancoran yang dimana dyn dan bungsu 1 harus berkali-kali memutarinya, sungguh ter-la-lu, kagum sih kagum tapi kalau terbingung-bingung dengan rutenya bikin tangan makin panas memegang kendali.

(lagi) ternyata hujan di rabu sore ini memberikan makna berbeda (lagi) untuk dyn, silaturahim ke rumah sabahat kampus membuat dagangan dyn terjual, yee..punya duit (lagi), pulang-pulang dapat hadiah gelang dari balikpapan :). Allah Maha Baiknya, memiliki cara tersendiri untuk menyenangi hambaNya, kuncinya : YAKIN. Yakin kalau Allah ada, dan tak perlu banyak tanya hal-hal diluar batas kemampuan berfikir manusia. Mana tau kalau si teman mau beli dagangan, ternyata Allah sudah buatkan skenarionya, dyn hanya diminta untuk mengendarai motor menuju cibinong, menyapa tuan rumah dengan baik, mengobrol dan bercerita tentang dyn dan si teman, lalu.. tring! keajaiban datang, yee!

Suara motor terhenti tepat disebalah kamar dyn membuat dyn bergegas mengintip keluar jendela kamar, owh.. tetangganya baru pulang, semalam ini.. dan itu karena kecintaannya pada keluarga, bekerja tak kenal terang atau gelap sang langit, yang pasti ada lampu yang membantunya mengetahui kalau jam kerjanya sudah tidak relevan, lampu jalanan menyala adalah bukti langit gelap dan manusia kembali pasrah kepada Tuhan atas usahanya di saat langit terang, menambah amalan baik atau memperbanyak timbangan dosa.

dyn jadi terpikir banyak hal.. ya, apa yang akan dilakukan esok. sudahlah..

alarm berbunyi, ya ampun.. sudah pukul 02.00 mari bergegas, bukannya kita butuh pengaduan? pengaduan dengan layanan paling ramah lingkungan dan keterjagaan rahasia level diatas level, pokoknya ada layanan gratis pengaduan, hanya pada Allah, ya pada Allah, maka itu cukup.

jangan sampai ngambek karena adzan terlebih dahulu mengumandang sedang kita masih ngucek-ngucek mata. Penuhi janji kita, maka Dia akan penuhi janjiNya, adil? jelas. mari berusaha.

eh, kenapa pakai “dyn” ,, ah, pada kenyataan aku – saya – gue = dyn.

mulai mengambil wudhu, balik ke kamar, dan aku rekam dalam-dalam perjalanan yang sudah ditempuh dan tak akan rela termakan malam..

dan dalam simpuhku, aku berharap tidak menjadi manusia yang tergolong lalai dalam memberikan yang terbaik, dan aku berharap tidak menjadi pecundang yang sembunyi di balik keapatisanku..

dini harinya 9 November 2011

-dyn-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s