Visual Spasial


Sejak kecil, semasa saya diperkenalkan dengan Taman Kanak-Kanak sepertinya saya selalu dikelilingi dengan yang namanya kertas putih sepanjang A4 yang biasa kita sebut buku gambar, krayon mulai yang berisi 12 warna sampai yang isinya 36 warna, pencil warna atau pencil air luna, cat air, cat minyak, kanvas, bahkan cat tembok pun sempat jadi bahan eksperimen saya dalam mempadu padankan warna. Guru di TK. Rose tempat saya menghabiskan umur 5 tahun lah yang menemukan bakat saya dalam menggambar, tapi apa benar saya berbakat menggambar? hmm, saya penah mengalami kepusingan saat saya akan berlomba gambar tingkat Taman Kanak-Kanak. Dibimbing membuat gambar 2 ondel-ondel laki-laki dan perempuan yang ditengah-tengahnya ada Monas, dengan pelengkap gambar inti : ada 2 pohon di sisi kanan dan kiri, tong sampah berwarna biru, awan, burung, batu, dan rumput. Entah, apakah dengan tingkat kesulitan begitu tinggi (menurut saya), cocok untuk anak TK yang lebih senang bermain ayunan sama Arimbi dari pada harus mengulang berkali-kali membentuk kepala ondel-ondel dengan bulatan sempurna tanpa menggunakan media bantuan apapun.

Padahal saya lihat ulan (panggilan singkat dari wulan, teman saya yang juga ikut lomba gambar) yang diminta gambar pantai dengan laut birunya lengkap dengan perahu yang menurut saya lebih simpel, karena hanya menggunakan gerakan tangan lurus membuat garis dan lengkungan dikit untuk membuat ombak, rasanya iri sekali saya liat dia, warna yang digunakan juga cukup simpel. Saya sempat merengek, dian : “mah.. bikin gambarnya kayak ulan aja deh..”, mamah : “kata bu guru nggak boleh sama, bikin ondel-ondel aja”, dian : “(manyun).. dian nggak bisa bikin kepala ondel-ondel.. salah melulu, mamah : ya udah latihan lagi, huft.. rasanya percuma saja saya merengek seperti apapun, saya tetap akan menggikuti lomba gambar dengan tema : ONDEL-ONDEL. Suatu hari saya di minta Bu Dewi untuk ke kantor guru disaat yang lain sedang belajar dikelas, ternyata saya diminta latihan bikin kepala ondel-ondel. Kertas HVS A4 sudah siap banyak diatas meja, krayon sudah disajikan, dan saya gemeteran. Saya coba buat bulatan kepala ondel-ondel, salah, bikin lagi, kurang pas, coba lagi, salah juga, muntah aja deh. Saya tidak boleh bermain dulu pas istirahat, sampai teman-teman pulang.. huks, sedihnyoo. Alhamdulillah mamah datang, mau jemput saya katanya, ngajak beli krayon 36 warna, yeay! mamah bagai dewi fortuna bagi saya saat itu, pengen banget buru-buru meninggal kertas putih itu dan krayon hitam untuk bikin kepala ondel-ondel. Terus mamah ngobrol sama Bu Dewi, sependengaran sayaBu Dewi minta saya banyak latihan bikin kepala ondel-ondel dengan bulatan sempurna, sejajar dengan tinggi monasnya, seperti yang Bu Dewi contohkan, tapi biarinlah.. saya mumet, eh anak kecil kenal kata-kata mumet nggak yah? hehe.

Efek dapat krayon baru, membuat saya semangat latihan membentuk kepala ondel-ondel dengan sempurna, ah.. tak tahu itu sempurna atau tidak, tapi menurut saya udah bagus, biarin deh diomelin juga. Maaf Bu Dewi. Tibalah lomba menggambar, selesai saya menggambar dan mewarnai, hasil karya ondel-ondel itu saya kasih ke dua pengawas saat itu, ibu-ibu yang ngobrol terus selama saya gambar, berisik. Eh, pas ngumpulin mereka ketawa-ketawa liat gambar saya, hmm.. entah kenapa saya merasa dilecehkan, duh.. kenapa sekecil itu saya sudah sensitif yaa.. biarin deh, dalam hati.. Bu Dewi, kenapa dian gambar ondel-ondel sih.. kan diketawain”. Saat itu saya tak terpikirkan menang atau kalah, yang penting saya udah berusaha bikin ondel-ondel dengan bulatan sempurna dan membuat monas yang sejak itu saya sanggat menyukai simbol Kota Jakarta. Ternyata saya bisa menyumbangkan Piala Juara 1 Lomba Menggambar, huhuhu piala pertama saya :’) , terimakasih Bu Dewi atas bimbingannya, ternyata menjadi Juara itu tidak mudah, harus latihan terus menerus, walaupun kadang bikin kepala sakit. Semoga Ibu sehat wal afiat sampai sekarang.

Nah, waktu SD kelas 2 saya mendapatkan tugas menggambar sepatu kita masing-masing, hahaha lucu yaa.. ngapain coba di gambar-gambar. Ya sudahlah. Saya ingat sekali sepatu saya berwarna putih dengan garis biru dan 2 lekatan. Saya minta bantuan mamah bikin sepatu itu gimana, sampai saya coba jejerkan 2 sepatu saya itu di atas meja, saya liat-liat dari berbagai sisi, saya belum juga bisa memulai menggambar sepatu itu. Mamah coba bantu, tapi entah kenapa saya tidak puas dengan hasil yang mamah buat, dian : “bukan seperti itu mamah, harus keliatan gini, gambar sepatunya dari samping, tapi keliatan kalau disampingnya juga ada sepatu lagi”, mamah : “hadeh.. mamah nggak tau ian, dian kerjain aja sendiri deh”, ih.. saya mau nangis saat itu, karena besok harus dikumpulkan, malam semakin larut dan saya mengantuk. Namun dalam keadaan terdesak itu saya jadi mengeluarkan seluruh potensi saya, hingga jadilah gambar 2 sepati yang dijajarkan, saya menggambarnya dari sudut sisi sepatu, biar merek dan bentuknya bisa keliatan jelas. hehe.. ternyata saya harus merasa terdesak dulu baru bisa ngerjain, kebiasaan buruk yang sudah terbiasa sejak kecil.

Saat SMP, saya mendapatkan pelajaran SENI RUPA, waahh.. saya sangat suka, belajar gambar perspektif, bikin maket, dll. Saya mulai memahami kalau saya lebih suka bermain dengan spidol di tiap buku pelajaran saya yang hitam putih, agar lebih keliatan berwarna, mencoret-coret kalimat penting dengan stabilo, atau menulis di buku dengan panah-panah atau membuat lingkatan dan kotak hal-hal yang menjadi informasi tambahan.

Saat SMA, karena tuntutan profesi sebagai sekertaris, saya banyak berhubungan dengan proposal, dll. Saya mulai belajar bagaimana mempercantik proposal dengan menambahkan gambar-gambar buatan sendiri. Saat itu baru menguasai office aja, walaupun hanya pakai word, proposal harus tetap cantik, jadilah saya berkenalan dengan clipart dan teman-temannya. Eh, saya dapat soffware : Ulead Photo Impact (seingat saya). Didalam software tersebut sudah banyak artistic media yang ready. Tinggal edit sikit, nambahin text, jadilah header atau footer yang lucu-lucu, software itu menjadi andalan saya kalau bikin-bikin pamflet, atau proposal, dengan harapan dari proposal itu ngucur duit sebanyak-banyaknya. Hehe.. :mrgreen: Proposal yang paling saya suka saat itu proposal Rihlah Keputrian, yang meminta dana dari sekolah Rp.200.000. Pas ngasih proposal saya sudah agak takut nggak dikasih dana secepatnya, eh si Bapak Guru yang Noni itu cuma nanya-nanya.. “ini gimana cara buat proposalnya? bagus..”.. yeyeyeye! hore, ups alhamdulillah, jadilah saya mengobrol bagaimana proses pembuatan proposal, si Bapak langsung ngasih dana, katanya kalau kurang bilang aja lagi. Proposalnya dibawa beliau, nunjukin ke guru-guru, hahaha 😀 berhasil. Tuh, betapa nilai jual proposal itu ditentukan dari kemasannya.. saya belajar lagi.

Masuk ke dunia kampus, yang sangat saya perhatikan adalah pamflet, spanduk, stiker, mading, dll. Saya penasaran siapa yang bikin semua itu. Saya ingin bisa. Saya dikenalkan dengan seorang kakak tinggal yang ternyata jago banget design. Dia mengajarkan saya disela-sela rapat, software yang dia gunakan : CorelDraw, saat itu masih versi X2. Wah, pas saya coba install di kompi saya yang RAMnya hanya 128 MB, ternyata bikin kompi saya lemot sangat. Tak apa, saya pokoknya harus bisa, walupun harus banyak menimbun kesabaran karena kompi saya yang sangat lambat. Kakak tersebut memberikan saya latihan-latihan, beberapa kali pertemuan belajar desian menggunakan corel dengan dirinya dan selanjutnya saya belajar sendiri. Woah,, sodara-sodari saya dengan progresif menguasai beberapa tools yang ada di coreldraw. Suka, sangat suka.. proposal perdana yang saya layout adalah acara KARTINI FAIR milik departemen Keputrian DKM Al-Ghifari. hehe.. 🙂 setelah itu banyak orang yang ngasih hadiah buku tentang teknik-teknik desain di coreldraw, memberikan tutorial, dan saya lebih tertarik membaca tentang buku coreldraw di Gramedia.

Sejak saat itu, saya mulai mendalami coreldraw, semua hal bisa saya lakukan di coreldraw, membuat buku kenangan, membuat media publikasi, layouting proposal, logo, icon, scrapbook grafis, dan sebagainya. Kayaknya nggak tertarik menggunakan software desain grafis lainnya. Kelebihan coreldraw adalah menghasilkan gambar vektor, simpelnya, kalau ukurannya diperbesar gambarnya tidak pecah. Beda dengan Photoshop yang menghaslkan gambar bitmap yang jika diperbesar gambarnya akan pecah. Itu salah satu alasan yang saya suka dari coreldraw. Selebihnya, karena memang saya terlalu fanatik sama coreldraw, jadi rada apatis ama software design grafis lainnya. Padalah kalau saya menguasai software design grafis lainnya, nilai jual karya saya akan lebih besar, dan saya akan menambah lebih banyak skill saya tersebut, demi menunjang karier yang lebih bagus lagi.

Ini design yang saya buat menggunakan coreldraw X4, saat saya sedang berstress-ria menghadapi Tugas Akhir, dan sedang asyiknya ngeBlog :

Dari rangkaian cerita saya tersebut saya baru menyadari kalau ternyata tipe kecerdasan saya adalah : VISUAL SPASIAL.

Kecerdasan Visual Spasial adalah kecerdasan gambar dan visualisasi, Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam kepala seseorang atau mencitrakannya dalam bentuk dua atau tiga dimensi.

– dikutip dari dunia anak cerdas

untuk mengetahui kecerdasan itu, kita harus merunutkan kisah kita sejak kecil. Jika kita bisa mengetahui, menyadari dan memfokuskan kecerdasan kita saat masa golden age (0 – 6 tahun), insyaAllah nggak ada tuh yang namanya anak bodoh, semuanya cerdas, dan nggak ada kisah yang namanya salah jurusan, seperti saya ini.. huhuhu menyedihkan.

Ciri-ciri anak dengan potensi kecerdasan ini (dunia anak cerdas):

  1. Mampu/mudah tertarik dengan melihat gambar, bentuk, warna, ruang, benda dengan mudah >> (hmm.. iya banget)
  2. Mudah mengingat letak benda dan lokasi  (objek dengan ruang) >> (wah, kalau yang ini saya ragu, saya pelupa euy)
  3. Memiliki daya imajinasi yang tinggi, mampu membayangkan sesuatu yang tidak dilihat >> (nah maka dari itu saya lebih suka membaca novel yang akan saya visualisasikan ceritanya sesuai dengan imajinasi saya, biasanya novel yang di Film kan, nggak saya sukai, seringkali berbeda dengan imajinasi saya, hehe)
  4. Memiliki kelebihan dalam menyesuaikan sesuatu menjadi serasi >> (dapat predikat MISS MATCHING dikampus, menjadi salahsatu kekhasan anak visual spasial)
  5. Senang mendesain sesuatu/menggambar dan melakukan permainan dengan komputer >> (gw banget neh, nggak bisa jauh-jauh dari laptop, buka coreldraw, gambar ini itu. Tapi saya nggak suka games)
  6. Hasil gambarnya biasanya cukup bagus dan senang membaca peta >> (wah bagus atau tidak itu saya serahkan pada penikmat hasil karya, tapi kalau untuk membaca peta, saya nyerah, angkat tangan tinggi-tingi 😦 , walaupun saat SD pernah dapat juara mencari negara di Bola Dunia, saya rasa partner saya saat lomba itu yang lebih memiliki andil paling besar dalam kemenangan)

Stimulasi untuk melejitkan potensi anak dalam kecerdasan visual-spasial (dunia anak cerdas) :

  1. Sering diajak bepergian dan minta mereka untuk memperhatikan lokasi sebuah  tempat, letak toko, dll.
  2. Minta mereka menceritakan bagaimana cara mencapai sebuah tempat (misalnya ke rumah nenek).
  3. Perbanyak kegiatan menggambar, mulai dari gambar dua dimensi lalu tingkakatkan ke tiga dimensi.
  4. Perkenalkan dengan alat-alat bantu belajar berupa tiga dimensi, misalnya anatomi tubuh atau kerangka binatang.
  5. Permainan semacam rubik juga dapat membantu meningkatkan kecerdasa visual visual spasial juga kecerdasan logika matematika.
  6. Kegiatan mencari jejak kelompok selain meningkatkan visual spasial, juga bisa meningkatkan beberapa kecerdasan lain seperti kecerdasan naturalis, kecerdasan logika matematika dan interpersonal.
  7. Buku-buku yang cocok untuknya adalah jenis buku bergambar menarik apa saja berkaikan dnegan ilmu pengetahuan, daerah wisata, bangunan-bangunan bersejarah, tempat-tempat terkenal, tofografi, tubuh, peta dunia, dll.

Contoh karier dengan kecerdasan visual spasial antara lain: seniman, pemahat, pamatung, penemu, desainer grafis/interior/eksterior, animator, arsitek, guru, seni, ilustrator, insinyur sipil, fotografer, wartawan foto, perencana tata kota, penata toko, dll

Tulisan yang saya Bold and red colour text, itu merupakan profesi yang ingin saya geluti, saya sudah pernah menjadi Bunda guru di PAUD Juara dan saya akan mengajar balita lagi dalam waktu dekat (harus! saya tidak bisa lepas dari dunia nak-anak), saat ini sedang menjadi desainer grafis untuk suatu perusahaan juga dalam bentuk usaha saya dibidang jasa, selanjutnya saya akan menjadi desain interior untuk penataan cafe, milik seorang teman. Bismillah, do’akan yaa.. agar berkah, lanjar jaya, sehat sentosa, makmur sejahtera 🙂

“Didunia ini, tidak ada yang namanya anak bodoh, setiap manusia memiliki keunikan sendiri, memiliki kecerdasan masing-masing, yang jika diketahui, sadari dan difokusi.. maka ia akan jadi pribadi luar biasa bermanfaat, bukan saja untuk dirinya, tapi juga untuk tiap jengkal bumi ia berpijak” – Dian Fitriah, November 2011.

Kalau teman-teman masuk dalam kecerdasan apa?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s