ten(tara)


Tentara, jangan bunuh temanku..
Aku memang tak tahu siapa dia, lebih pastinya lagi aku belum berkenalan dengannya, belum tahu apa makanan kesukaannya, belum tahu bagaimana perasaannya saat hujan turun. Tapi secara tiba-tiba saja aku peduli dengan dirinya, seakan-akan aku adalah sahabat terdekatnya, yang dengannya menghabiskan waktu bermain yang ada. Itu karena apa, karena ternyata ada pengikat yang lebih kuat dari sekedar berkenalan secara langsung, aku dan dia se-agama. Kami saudara se-iman. Itu saja yang aku ketahui, dan cukup memperjelas perasaan setiba-tiba tadi.

Tentara, untuk apa?
Malam ini selera makanku memburuk (lagi), sebangun tidur aku lapar, tak tak kunjung juga mau menyentuh hidangan yang tersedia. Memang bukan daging ayam, steak, kepiting rebus, pecel lele, nasi kebuli, sate padang atau baso tapi kerang dan sayur bayam, itu yang aku lihat. Aku hanya teringat, ada begitu banyak orang yang tersebar dibelahan bumi ini, mereka memiliki selera makan yang baik, namun tidak ada hidangan apapun yang bisa mereka makan, dikarenakan ketidakadaan uang untuk membeli, dikarenakan tidak adanya stok makanan yang sampai didaerahnya, atau dikarenakan krisis ekonomi akut yang bersarang sampai kekeronggoan rakyat. Berkali-kali aku paksakan diri untuk mengambil piring untuk mewadahi nasi-kerang-sayur bayam hingga masuk kedalam mulut sampai ke organ-organ percernaan.

TV pun menjadi teman yang setia malam ini menunggu aku selesai makan. Dengan baik hati TV menyajikan banyak berita, hingga aku tertegun, akan ada 2500 tentara Amerika yang akan ditaruh di kepulauan darwin, Australia. Untuk apa? Berdalih dengan alasan untuk mengawasi agresi China. Eh, tapi kenapa di darwin? Itu hanya sekian kilometer dari Indonesia, lebih tepatnya dekat dengan Papua. Ada apa ini? Aku yang dengan mudah khawatir, berfikir seperti ini.. Jangan-jangan mau menggretak Indonesia karena ada aset penting bin berharga dalam berkontribusi besar untuk pembangunan Amerika, sedang sangan kecil kontribusinya untuk Indonesia, bernama Freeport. Ah, alamak.. motif yang mudah ditebak bagi orang awam seperti aku.

Amerika, Jangan ikut campur!
Entah kebaikan hati untuk menjadi Polisi Dunia itu kebaikan yang tepat atau tidak untukmu amrik, sedang kutahu ternyata kamu lebih banyak mengacaukan negara-negara sahabatku. Sebut saja : Irak, Afganistan, Somalia, dan masih banyak yang lainnya.. Dengan senjata super canggih, dengan kemampuan terbaik para tentaramu. Istilah ‘senggol bacok’ di Indonesia seakan-akan bisa merepresentasikan gayamu menjadi Polisi Dunia di negara-negara sahabat, dengan istilah ‘Lawan Tembak’. Tidak ada banding!

Tentara, engkau bukan robot, engkau manusia.
Tentara, engkau beragama kan?
punya Tuhan, setidaknya engkau punya cinta.
Aku hanya ingin kemanusiaanmu bisa melebihi garis normal..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s