Weekend dahsyat full happy :D


Oke, Bagi saya Bogor bukan kota yang asing, ia punya tempat tersendiri dalam kehidupan saya. Beberapa tahun saya tinggal disana, dan akhirnya balik lagi ke Jakarta, membuat saya tak pernah bosan untuk menghabiskan weekend disana, tiap kali ada kesempatan untuk berkunjung. Alhamdulillah..ย  saya menjejaki kaki disana sabtu-ahad 17-18 Desember 2011 lalu.. 2 hari disana rasanya sebentar banget, huks.. pengen banget selamanya tinggal disana <<– labil (saat tinggal di Bogor pengen ke Jakarta, pas udah di Jakarta pengen ke Bogor).

Sabtu siang saya sudah sampai di salah satu kosan teman saya yang baik banget, ramah lingkungan, dan tidak menuntut apapun dari saya (paggilan saja dia, Nay). Rencananya, saya akan menitipkan motor saya dan juga menginap gratis tanpa tanggungan apapun disana :mrgreen: . Srtelah shalat dzuhur, saya dan Nay berangkat menuju Kampus IPB Dermaga, untuk menghadiri suatu acara di Masjid Al-Hurriyah.

Keluar kosan menuju angkot, saya melalui jalan yang tampak tidak asing, oh yaa ampun.. ternyata saya ada Malabar (Norak!), dulu.. disepanjang jalan (kenangan) itu dulu saya bolak-balik mencari makan pagi-siang-malam, dan melakukan rutinitas kemahasiswaan (ngenet-fotokopi-beli jus-laundry-jumpa fans). Saya sangat rindu ketika malam-malam keluar menapaki jalanan Malabar yang basah bekas tetesan hujan mencari-cari Sate Padang si Uda, uhhh.. cemilan sebelum tidur.

Siang di dermaga udaranya seperti di Jakarta, panasnyoo. Hmm, kayaknnya Bogor kota lebih adem. Setelah selesai mengikuti acara Masjid Al-Hurriyah, saya dan Nay yang kelaparan sejak awal pemberangkatan, sudah tidak bisa menahan rasa lapar, 2 kaki kami langsung mencari sumber dimana banyak makanan terjual dengan tidak cuma-cuma, Bara. Yaa.. kami langsung menuju Bara. Bara itu bagaikan Malabar, banyak mahasiswa lalu-lalang dengan kepentingan dan urusan masing-masing, saya dan Nay sangat menikmati berjalan sore disana, hehe.. kayak baru pertama kali, biarin deh.. prinsip saya dan Nay adalah menikmati perjalanan kemanapun kaki kita melangkah, karena kita tidak tahu.. mungkin saja itu perjalanan terakhir. seremmm… #abaikan.

Hwaa.. malam minggu naik angkot dari dermaga ke Kota itu macet banget.. parah! Tapi tidak apa-apa saya jadi bisa ngobrol banyak dengan Nay, naluri perempuan muncul.. rumpi. Sampai di Kota, saya sempat mengunjungi seorang guru, hmm.. nyampe sana langsung di nasehati, dan saya terdiam seribu bahasa tanpa gerak tubuh yang menandakan saya hidup, kaku. “Saya sedang menyoroti tentang akhwat -perempuan- yang sering kali pulang malam, bukan berarti saya tidak pernah pulang malam, tapi.. karena saya begitu sering pulang malam dan tahu betapa sangat tidak baiknya jika perempuan pulang malam, berada diluar malam hari itu berbahaya ukhty. Jika tidak ada keperluan yang mendesak, atau ada agenda yang bisa kita handle di siang hari, untuk apa keluar malam, hindari sebisa mungkin”, ujar sang guru dengan smangat 45. Saya langsung liat jam ditangan kiri saya, oh.. sial.. saya terlupa kalau jam tangan saya memang tidak bergerak lagi jarumnya, hmm.. jam berapa sih, oh.. ternyata sudah jam 19.45, ini memang sudah malam, tapi kan belum masuk jam malam (ngeles) ~peace ๐Ÿ˜€ . Saya hanya manggut-manggut saja. “Terheran juga saya jika aktifitas seorang muslimah tertarbiyah kini tak beda dengan perempuan yang tidak faham dengan dosa ber-ghibah, kumpul-kumpul nggak jelas membicarakan aib-aib oranglain, saya sangat prihatin”. Hummp, pikiran saya melayang-layang, tadi sama Nay ngobrolin apa aja yaa? ah.. lupa aja deh, semoga tidak ber-ghibah. Ini beneran nyindir banget, plak! nggak apa-apa, biar dapat suntikan ‘kesadaran dan berubah’. Banyak banget sebenarnya yang beliau sampaikan, sebagai oleh-oleh dari kunjungan saya ke sana, dan beliau selalu seperti itu, itu yang saya suka, pembicaraan lugas yang tegas untuk seorang dian sebagai bekal melanjutkan kehidupan esok.

Di ahad pagi, saya dan Nay sudah bersiap untuk di jemput salah satu karyawan dimana saya dan Nay akan membantu mengisi pelathian disana. Saya dan Nay sempat menikmati Jalan Padjajaran dari depan McD, pagi yang cerah, sejuk dan sibuk. Banyak yang sepedaan, ah pengen. Sejujurnya saya tidak tahu dimana tempat pelatihannya, karena dijemput yaa santai aja, pikir saya kami akan ke Balai atau pusdiklat, seperti pelatihan sebelumnya. setelah kurang lebih 10 menit duduk-duduk santai di depan McD, Mas Bambang dengan innova berplat merah menungu kami didepan jalan Lodaya, Mas Bambang bukan orang asing bagi kami, kami sudah sangat mengenalnya. “Mas pelatihannya dimana sih?”, tanya dian. “Di telaga Cikeas”, mas bambang. “Yang arah cimahpar itu yaa mas?”, nay. “Iya benar, udah pernah kesana?”, tanya mas bambang. “Dulu aku pernah kesana pas masa-masa kuliah”, ujar nay. Wah.. si nay ternyata pengetahuan tentang Bogornya melebihi aku, hmm.. kapan dia kesana. Oh, tenyata Nay pernah bikin project di SMP 1 Sukaraja. Jalan menuju Telaga Cikeas, seperti mau ke puncak, naik turun gitu, adem banget.. ups, ternyata efek adem itu karena AC di mobil, duh.. dian.ย  Eh tapi bener lho, saya berkunjung dulu ke salah satu perumahan milik mertua mas Bambang untuk menjemput anak-istri-dan adik-adik ipar mas bambang.. udaranya sejuk banget, adem. Selama saya tinggal di Bogor, malah belum pernah datang ke daerah itu. Pikiran saya masih menerka-nerka, seperti apa sih Telaga Cikeas, dari cerita mas bambang sepertinya seru banget tempat itu. Oke, bersabar dian.. beberapa menit lagi sampai disana, simpan dulu penasarannya.

Masuk juga ke kawasanย  Telaga Cikeas, wowww…ย amazing place! saya sangat menginginkan berada disini, tempat yang selalu saya imajinasikan. Kesan pertama saat nyampe sana : seperti berada di film MY HEART, haha LOL. Seakan-akan saya lupa, kalau tujuan saya kesana adalah membantu mengisi pelatihan, bukan bertamasya.. tapi saya seperti anak yang tidak pernah diajak jalan-jalan oleh orangtuanya, loncat-loncat tak sabar untuk menyusuri semua fasilitas disana.

Saya sangat menyesal tidak bawa kamera digital, view-nya oke banget. Ini beberapa sisi dari Telaga Cikeas yang saya abadikan melalui kamera hape yang berukuran 2 MP :

kayak film MY HEART yaa, yaa kan? iya doong. Tenang banget. Di tengah-tengah Telaga ada Pendopo yang nyaman.

Saya dan Nay naik sampan mengitari Telaga Cikeas, dan melakukan perjanjian persahabatan di bawah jembatan gantung, hehe.. dengan pengetahuan yang minim bagaimana mengendarai sampan, saya dan Nay sempat berputar-putar saja di tengah-tengah Telaga, panik sih tapi senang.. ๐Ÿ˜€

Cuaca yang sejuk dan tenang, menurut saya ini tempat yang tepat untuk melakukan meditasi.

Ini pendopo teratai, tuh.. dikelilingi tanaman teratai, pas datang bunga teratainya sedang mekar.. cantik banget, tapi karena ini fotonya diambil pas sudah siang, jadi menguncup deh..

Itu saya dan Nay ditengah-tengah Telaga Cikeas saat menaiki sampan, seru!

Saya baru tahu lho, ternyata itu pohon “minyak kayu putih”. Pas memetik daunnya, dan pas dibelah daunnya, aromanya persis seperti minyak kayu putih. Nambah pengetahuan atau telat mengetahui yaa? ah, yang penting sekarang udah tahu.

Masih banyak view yang keren-keren disana, fasilitas-fasilitasnya juga oke banget. Ada kolam renang, musholla di pendopo terbuka, rumah-rumah kayu tempat penginapan yang saat saya masuki menginspirasi saya untuk desain rumah saya disuatu hari nanti, ada arena outbond (saya sempat nyoba, tapi hanya satu arena aja.. yang lainnya saya belum berani), yang bikin saya penasaran adalah KILLING FIELD, tempat apa itu ya? lapangan pembunuhan? hmm.. saya tidak berani mendekati tempat itu, karena sudah dipanggil-panggil untuk segera pulang.

Pas pulang mampir dulu ke PSK. hah PSK? tunggu-tunggu bukan PSK yang itu yaa.. (yang mana ian? yang itu deh, sensor).. tenyata Pusat Sate Kiloan di daerah Sentul, haha.. plis deh, namanya aneh-aneh aja. Saya yang tidak terlalu suka sate, selain sate padang, karena lapar yang tidak bisa ditahan lagi, akhirnya dengan lahap saya menikmati sate kambing, sop kambing, gulai kambing, dan es teh manis, mantabz! Bener-bener perbaikan gizi. Makasih trantirannya ๐Ÿ˜€

Menuju Bogor Kota saya ikut dalam rombongan Pak Berlin, salah satu manager disana. Selama perjalanan melewati sentul yang asri itu, saya dan teman-teman (muda) dapat kuliah gratis : tentang manajemen komunikasi dan komunikasi efektif. Hwaaa.. dahsyat deh Pak Berlin, nggak sungkan berbagi ilmu untuk memikat para hadirin jika kita sebagai pembicara disuatu acara agar suasana tidak membosankan. (Lagi) terimakasih Bapak.. *membungkukan badan, senyum lebar* :mrgreen:

Selesailah, perjalanan 2 hari saya di Bogor. Bener-bener bikin saya bahagia ๐Ÿ˜€ , bertemu banyak orang-orang keren. Semoga tetap bisa menjaga hubungan baik kepada orang-orang yang disekitar kita, karena mungkin saja dari merekalah dukungan untuk sukses dunia akhirat terus menopang perjalanan panjang kita.

Happy for your journey everywhere, and make your stories about it.

Jakarta, 19 Desember 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s