Apa yang penting dari sem…


Apa yang penting dari semua kebersamaan?
Tidak sekedar sebuah rasa kita punya sahabat.
Tapi yang terpenting dari tiap kebersamaan adalah sebuah pertanyaan apakah kebersamaan selalu membuat kita termotivasi untuk mengingat Allah?
Apakah tiap kebersamaan dapat memotivasi untuk lebih banyak memberi energi berbuat kebaikan di jalan Allah?
karena menjadi sahabat bukan sekedar orang yang selalu bersamamu tapi ia yang selalu mendorongmu saat engkau berada di jalan kebaikan dan ia yang pertama menarikmu saat engkau akan tergelincir.
Karena sahabat adalah mereka yang saat engkau melihatnya, mengingatnya, ia mengingatkanmu pada Allah.

repost : Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta


Berikut ini postingan menarik yang bisa menginspirasi kita semua untuk selalu bekerja keras dengan hati untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik. Sekedar share. Oh ya artikel ini saya dapat dari salah satu tautan di Facebook , yang kemudian saya pos ke blog untuk berbagi dan mengisnpirasi kita semua.

Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia. Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta

Baca lebih lanjut

bintang kecil di bumi.


Hari ini,
Kita buka jendela hati kita
dan mengintip keluar sana..
Untuk melihat rintik hujan
bertemu dengan sang matahari..
Membentuk pelangi,
sedikit keceriaan
Membuat kegembiraan besar.

***********

Lihatlah mereka,
Seperti tetesan embun yang segar..
Berdekapan dilembaran daun..
Hadiah dari syurga.

Merentangkan dan berputar..
Tergelincir dan meluncur..
Seperti mutiara yang lembut,
Bercahaya dengan tertawa.

Jangn biarkan kita kehilangan ini..
Bintang kecil di bumi.

Seperti sinar matahari di musim dingin..
Memandikan taman dengan emas..
Membuang kegelapan dari hati kita..
Dan menghangatkan kita pada pusatnya.

Jangan biarkan kita kehilangan ini..
Bintang kecil di bumi.

seperti tidur yang terperangkap kelopak mata,
dimana mimpi yang manis memenuhi..
..dan dalam mimpi seorang peri hidup..

seperti sumber warna..
seperti kupu-kupu di atas bunga yang mekar..
seperti cinta yang tidak egois.

Mereka menggelorakan gelombang harapan..
mereka memulai mimpi..
dan kesenangan yang abadi..

Jangan biarkan kita kehilangan ini..
bintang kecil di bumi.

Di malam yang sangat gelap pekat..
..mereka duduk seperti nyala api
yang salah mengartikan kesuraman.

seperti keharuman kebun buah
yang memenuhi udara.

seperti kaledioskop warna yang sangat banyak..
seperti bunga yang menggapai matahari..
..seperti catatan sebuah suling
di belukar yang sepi.

Mereka menghirup udara yang segar..
..ketukan dan musik kehidupan..

Jangan biarkan kita kehilangan ini..
bintang kecil di bumi.

seperti perasaan kehidupan seorang tetangga..
..seperti kuncup, memutuskan untuk mekar..
..seperti angin sepoi-sepoi,
tertangkap di telapak tanganmu..
mereka diberkahi para orangtua..

Jangan biarkan kita kehilangan ini..
bintang kecil di bumi.

***********

Baca lebih lanjut

Al-Ghifari, masjid tak berkubah. (3)


Kenapa Kawan?

Aku punya pundak yang lebar
maka kau bisa rebahkan
kepalamu yang lelah

Tapi aku tidak punya mata yang cemerlang,
telinga yang tiada peka,
hati yang tiada penuh merasa
Hingga tahu kapan kau lelah
untuk siapkan pundakku

Tangan dan jari-jariku kuat
meranngkulmu pun bisa, mengangkatmu apa lagi
Bahkan menahan lukamu
agar darahnya berhenti, aku sanggup
atau menyapu air matamu, aku siap

Tapi aku tidak punya mata yang cemerlang,
telinga yang tiada peka,
hati yang tiada penuh merasa
Sampai bisa faham jelas
rasa sakitmu,
dan tanganku bersiaga untukmu

Jangan berbisik pada angin
Karena kisahmu hanya sampai
pada tarian rumput-rumput, atau daun kering
berguguran

Peluhmu takkan jelas di mataku
Risaumu takkan berirama ditelingaku
Gundahmu takkan terpatri dihatiku

Aku tidak punya mata yang cemerlang,
telinga yang tiada peka,
hati yang tiada penuh merasa

Meski kakiku kuat menopang,
atau berdiri lama di sampingmu
berjalan beriringan, samakan langkahmu
Rasanya tiada mungkin
Aku bisa berlari pada arahmu

sekencang, sejauh aku mampu
Karena tiada sampai padaku,
kisahmu

Ini senyumku,
yang hanya bisa ku siapkan untukmu
melebar tanpa syarat
berpesan tak tersurat
Akan aku berikan
pada setiap waktu-waktu
kau butuh aku, namun aku
tak tahu apa butuhmu

——————————
Muhammad Zahidun,
Bogor, 16 Januari 2012

Al-Ghifari, masjid tak berkubah. (2)


Ini Jawabku, Untukmu

Ah, tiada kan mungkin
bisa putarkan roda
Genggaman ini tak cukup hebat
mencengkeram sisi-sisinya
dan menariknya hingga memutarkan roda
pada porosnya

Aku apa?
Barang satu amanah kau embankan
rasanya mulai tertatih, rintih meng-elukan
kecilnya daya topang

Belum dua kau tantang,
agaknya akan mulai melepas
rajutan-rajutan penguat raga
ku punya

Terkadang kau pinta lagi
lebihnya dari ku
Maka aku bertanya,
benarkah, sanggupkah aku?

Aku bukan topeng amanah,
jadi izinkan aku
pada apa adanya aku!

Maka biar kami jawab,
dan semoga Allah menghangatkan hati kita

Maka pada roda yang kami inginkan berputar,
bukan tanpa jari-jari di tengahnya
bukan roda sekeras batu adanya

Kami hanya meminta satu,
ulurkan tanganmu, dan ikhlaslah
Perputarannya tiada kan meminta
kelelahanmu sendiri, kekutanmu sendiri
Akan ada kami menariknya,
bersamamu

Maka amanahmu
Tiada hanya satu, dua, tiga, bahkan sepuluh
bukan padamu saja kami tumpahkannya
Karena ragamu butuh pendampingnya,
dan kami pendampingmu

Maka kau benar orangnya,
kau sanggup adanya

Karena ingatlah,
pada hari ketika kau datang pada kami
Kami tidak memintamu menunjukkan wajahmu
Kau yang memberikannya

Tiada topeng pada hari itu,
dan bukan pula topeng pada hari ini

Kau yang tunjukkan,
bukan kami yang pilihkan

———————-
Muhammad Zahidun,
Bogor, 16 Januari 2012

Al-Ghifari, masjid tak berkubah. (1)


RENGKUH

 
Tiada berkubah pada kepalanya
Namun tiada hilang keutuhannya
Bersahaja nan gagah
Sederhana nan kokoh

Masuklah, lihatlah betapa sejarah
telah tertata dengan rapi pada sisi-sisi dindingnya
Ada guratan-guratan perjuangan,
mulai saat ia terbangun
oleh tangan-tangan kuat yang menyelami amalnya

Hingga hari ini, saat setiap pemuda
melukis harapan untuk tercapainya kemuliaan Islam

dan, semoga keridhaan Allah padanya

Jendelanya, senang bisikan
ketenangan alam
untuk dinginkan hati,
tentramkan jiwa-jiwa
Kala diperdengarkan kalimat Allah
dengan lembut syahdunya

dan, semoga keikhlasan mengirinya

Lihatlah atapnya
Warnanya menggambarkan kebahagiaan
pada setiap letihnya perjuangan

Tiangnya mengisyaratkan
betapa kuatnya ukhuwah dibinanya

dan, semoga Allah menyatukannya

Mungkin, pada setiap lantai dinginnya
terlihat retak dan goresan
Bisa jadi sebab melemahnya, karena waktu
Melemah karena sebab lelahnya terinjak,
Wallahua’lam

Tapi, semoga tidak berlama
begitu adanya

Semoga tiada terhempas
dalam lamanya retak
dan bersegera perbaiki dan tutupi jejak retaknya,
Insya Allah

Ada kalanya, mengenang kembali kisahnya
pada setiap dindingnya, jendela yang tak berkain,
atap dan tiangnya,
lalu, pada setiap bisikan dingin lantainya

Untuk hirup lagi semangatnya
Rengkuh lagi cintanya
Gapai lagi kekuatannya

Karena,, Al Ghifari Selalu di hati..

Karya :
Muhammad Zahidun,
Bogor, 15 Januari 2012


Sayang sekali, saya tak melihat ekspresinya membacakan tiap bait puisi ini kemarin.

Saya rindu tiap undakan lantai di Al-Ghifari, tiap sudutnya, tiap ubin yang terpasang..
Pada kain hijau, pada kayu coklat besar pemisah, pada hangatnya persahabatan yang terbina.
Sungguh Al-Ghifari menjadi saksi semua, namun sayang ia hanya diam membisu.

Untuk yang berjuang di Al-Ghifari, saya merindukan kalian. T.T