Al-Ghifari, masjid tak berkubah. (3)


Kenapa Kawan?

Aku punya pundak yang lebar
maka kau bisa rebahkan
kepalamu yang lelah

Tapi aku tidak punya mata yang cemerlang,
telinga yang tiada peka,
hati yang tiada penuh merasa
Hingga tahu kapan kau lelah
untuk siapkan pundakku

Tangan dan jari-jariku kuat
meranngkulmu pun bisa, mengangkatmu apa lagi
Bahkan menahan lukamu
agar darahnya berhenti, aku sanggup
atau menyapu air matamu, aku siap

Tapi aku tidak punya mata yang cemerlang,
telinga yang tiada peka,
hati yang tiada penuh merasa
Sampai bisa faham jelas
rasa sakitmu,
dan tanganku bersiaga untukmu

Jangan berbisik pada angin
Karena kisahmu hanya sampai
pada tarian rumput-rumput, atau daun kering
berguguran

Peluhmu takkan jelas di mataku
Risaumu takkan berirama ditelingaku
Gundahmu takkan terpatri dihatiku

Aku tidak punya mata yang cemerlang,
telinga yang tiada peka,
hati yang tiada penuh merasa

Meski kakiku kuat menopang,
atau berdiri lama di sampingmu
berjalan beriringan, samakan langkahmu
Rasanya tiada mungkin
Aku bisa berlari pada arahmu

sekencang, sejauh aku mampu
Karena tiada sampai padaku,
kisahmu

Ini senyumku,
yang hanya bisa ku siapkan untukmu
melebar tanpa syarat
berpesan tak tersurat
Akan aku berikan
pada setiap waktu-waktu
kau butuh aku, namun aku
tak tahu apa butuhmu

——————————
Muhammad Zahidun,
Bogor, 16 Januari 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s