Jaga.. tetaplah.. dijaga!


lagi blogwalking.. eh, nemu artikel lama yang saya posting dalam web alumni rohis SMA (web lama juga ini). Pas di cek-cek, ternyata belum ada di blog WP ini, okelah kita repost.. semoga bermanfaat yaa silent readers, kita sama-sama saling berbagi pengalaman, karena pengalaman adalah guru terbaik ^^

Bismillahirrohmanirrohim..

Kita semua kenal dengan yang namanya Facebook kan, yaa.. situs jejaring sosial yang katanya, dapat menghubungkan dan berbagi dengan orang-orang dalam kehidupan kita. Benar, saya sangat setuju.. saya pun sudah merasakan.. berkomunikasi dengan banyak teman saya yang sudah lama sangat tidak berkomunikasi. Indah bukan menyambung silaturahim..? bahagia sekali jika kita bisa mengetahui bagaimana kehidupannya kini walaupun hanya sekedar membaca apa yang dia tulis dan apa yang dikirimkan oleh temannya.

Tapi.. kadang kala, Facebook nggak berfungsi sebagai temapat berbagi dan menghubungkan kepada orang-orang dalam kehidupan kita. Malah kadang dari facebook bisa membuat hubungan kita renggang atau silaturahim putus. Kenapa coba? karena apa yang kita tulis berkemungkinan bisa ‘menentramkan’ hati yang baca atau ‘menyakitkan’ hati yang baca. Okelah, klo ternyata apa yang kita tulis bisa membuat orang-orang yang baca menjadi tentram, menambah pengetahuan, atau.. sedikit merenung. Beda klo ternyata apa yang kita tulis membuat orang-orang yang baca menjadi marah, kesal, dongkol, bahkan benci.. bagaimana dong?

Dalam dunia maya yang luas ini, kenapa saya bilang luas.. kita bisa menjelahi tanpa harus pusing tentang jarak atau mahalnya ongkos jika kita harus menemui langsung, dari belahan bumi manapun, jika terkoneksi dengan internet maka tidak lagi ada batas. Itulah kecanggihan teknologi di abad ini, hebat bukan?

Lagi-lagi ngomongon FB, silahkan saja kaitkan dengan media jejaring sosial yang lain jika diperlukan. Saya mau berbagi pengalaman dan cerita.. jejaring sosial ini memang se-akan-akan membuat kita bebas ngoceh, bebas menuliskan apa aja yang ada dalam pikiran kita.. tapi akan jadi beda jika ternyata media ini malah membuat kita menangis, sedih, marah atau yang lainnya. Bukan hanya menyakitkan untuk diri sendiri tapi mungkin saja jadi banyak pandangan-pandangan negatif yang seharusnya bisa diklarifikasi.

Oke kita mulai dengan kasus pertama :

ini pengalaman ‘murni’ milik saya.. suatu hari ada note dari seorang kakak tingkat yang membicarakan tentang suatu acara rutin di masjid kampus, sambil sedikit menyindir perempuan-perempuan angkatan saya yang katanya tidak hadir dalam acara tersebut dan juga menyindir banyaknya usroh-usroh yang diadakan sore itu sehingga tidak bisa mengikuti acara rutin tersebut. Yaa.. tak saya pungkiri, memang saat itu ada masalah yang kita saling punya prasangka dan tak di bicarakan untuk -sekedar- klarifikasi. Jadi saat komen, awal-awalnya kami masih bisa tetap menjaga.. hingga sepertinya malah emosi yang keluar melalui kata-kata yang tercantum dalam komen-komen yang terlontar dalam note tersebut. Dan, akhirnya saya memutuskan untuk menghapus semua komen yang saya tulis, karena respon-respon yang sudah membuat saya sakit hati -mungkin saja kakak tingkat saya itu juga merasakan hal yang sama seperti saya, tapi saya tidak tahu pastinya-. Sore harinya, saya langsung berjalan cepat ke warnet sepulang dari kuliah.. sampai rasanya saya tak kuat menahan butiran air mata menetes dan tubuh gemeteran. Saya putuskan untuk menghapus akun FB, ah.. rasanya tidak ada manfaat bagi saya FB itu, hanya membuat saya merenggang hubungan silaturahim dengan kakak tingkat saya.

Namun, alhamdulillah begitu baiknya Allah pada saya.. Allah memberikan waktu untuk saya menenangkan diri dan mencoba membangun pikiran-pikiran positif dalam keadaan yang tidak baik itu, saya coba untuk memaafkan dan melupakan tentang semua hal yang telah terjadi di note itu. Saya pun yakin, kakak tingkat saya juga melakukan hal yang sama. Kami pun, berdamai untuk saling memaafkan. Dan saya ber-FB-ria lagi sampai sekarang.. :)

Kasus kedua :

masih tentang FB yaa.. tapi bukan note. Ini tentang ‘apa yang anda pikirkan?’… hihi, tau kan klo di FB berbahasa Indonesia, kalimat itu akan kita dapati di beranda atau profil kita untuk menulis sesuatu,, entah apa saja itu. Dan dimulailah dengan kalimat yang rada ambigu oleh teman di kontak FB saya.. hmm, saya lupa bagaimana persisnya kalimat itu. Pokoknya apa yang ia tulis menimbulkan banyak komen yang bejibun. Saya hanya mengamati saja saat itu apa-apa yang tulis dalam komen tersebut. Jujur, saya risih.. sangat risih, karena dalam komen tersebut isinya seperti mengolok-olok si yang punya FB dengan seorang yang lain, wallahu’alam apa yang terjadi.. tapi semua memojokan tentang hubungan ‘rasa’ antara laki-laki dan perempuan. Hemat saya, apa pantas kita mengolok-olok tentang ‘rasa’ yang -mungkin saja- belum saatnya dimunculkan ke permukaan bagi seorang lajang yang faham dengan agama? saat itu, rasanya saya kasian sekali dengan pemilik FB tersebut, karena seperti terkuak semua aibnya, saya yang notabene tidak tahu apa-apa yang terjadi.. jadi mengetahui -walaupun hanya sedikit praduga-. Saya berfikir-fikir bagaimana perasaan mereka yang diolok-oloki.. pasti sedih, dan perempuan yang dituju -mungkin saja- menangis membaca hal tersebut. Tidak lama kemudian apa yang tulis oleh pemilik FB hingga menimbulkan banyak komen iseng itu dihapus. Ia mencoba mengingatkan di tulisan berikutnya.

Kasus ketiga :

masih tentang tulisan ‘apa yang anda pikirkan?’.. entah apa yang dimaksud si empunya FB dari kalimat-kalimatnya. Hingga lagi-lagi, banyak komen yang hinggap *halah..kayak binatang yang bersayap saja*. Walaupun tuh komen berasal dari orang-orang terdekatnya dan yang komen juga itu-itu juga.. ternyata mengungkapkan secara fulgar hal-hal yang masih samar. Yah.. lagi-lagi saya yang tidak tahu jadi tahu *nyesel, beneran dah*. Masih tentang ‘rasa’ yang dialami oleh lajang laki-laki terhadap lajang perempuan. Dan, si lajang perempuan yang membaca komen-komen yang menyebutkan namanya itu.. mengalami rasa sedih -entah malu, sebal atau marah- pokoknya hal tersebut membuat dia menutup akun FBnya. Ah, jadi inget keadaan saya dulu, walaupun berbeda kasus. Tapi saya rasa tujuan dia menutup aku -hampir- sama seperti saya.

Begitulah.. oke kita bahas yuk! Saya teringat dengan kalimatullah :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl : 125)

Betapa indahnya ayat tersebut yaa..

Kasus pertama, kedua belah pihak dalam keadaan diselimuti emosi, hingga terus-menerus mencari pembelaan untuk saling menunjukan siapa yang lebih salah dari siapa (sungguh, saya tidak suka keadaan tersebut saat itu, semoga Allah mengampuni saya). Kasus kedua dan ketiga hampir sama, mengolok-olok dalam rangka ‘bercanda’ tapi sayang sepertinya bercandanya berlebihan. Jika mau menasehati saya rasa tidak perlu sampai diumbar-umbar banyak hal yang kita ketahui tentang dirinya yang -mungkin saja- salah atau tak sepaham dengan argumentasi kita. Kita semua pernah melakukan salah kan? tapi.. selama nafas masih berhembus, selama jantung terus berdetak.. selama kita masih dikatakan hidup.. maka, besar kemungkinan kita akan bertobat atau mengakui kesalahan yang kita perbuat.. toh, hidayah hanya milik Allah SWT semata. Kita sebagai manusia jangan sekali-kali memasuki daerah hidayah.. karena tugas kita sebagai penghantar.

Yah.. yang namanya ketertarikan antara laki-laki dan perempuan itu fitrah, yang tak lazim bagi aktifis dakwah adalah mengotori aktifitasnya dengan ‘selayaknya’ pacaran orang-orang ammah yang tak tahu akan batasan-batasan hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan pernikahan. Hal inilah yang menjadi polemik besar dalam kalangan para da’i/da’iyah. Namun para shalihin dan shalihat.. toh Allah menyuruh kita untuk berdakwah dengan hikmah dan pengajaran yang baik, seperti halnya Rasulullah SAW yang bersikap lemah lembut dalam berdakwah. Da’i juga manusia, da’i juga bisa sakit hati. Kita tidak boleh lupa klo da’i itu mengalami semua hal tentang ke-fitrah-an seorang manusia. Sebagai sahabat dalam dakwah, kita terikat dengan ukhuwah. Kita mempunyai kewajiban untuk saling ber “..tawaa shoubil haq, wa tawaa shoubis shobr” -saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran-. Jika, sudah kita terapkan itu, tapi tidak ada perubahan yang terjadi setelahnya, teruslah lakukan lagi, hingga sampailah kita pada tawakal kita.. bahwa Allah pemilik hidayah, Dialah yang akan membolak-balikan hati.. untuk eksekusi, maka biarlah Allah saja yang melakukan. Kebersamaan dia yang -masih- dalam dakwah sangat berpotensi untuk mendapatkan energi-energi terbaik dalam diri seorang sahabatnya yang lain.. semoga saja, penjagaan yang dilakukan sedikit demi sedikit mengembalikan dia dalam koridor kebaikan yang tak terkotori.

Jaga, yaa tetaplah jaga diri kita, jaga diri saudara-saudari kita.. dimana-pun kita berada di dunia maya atau nyata, maka selayaknya kita wajib menjaga kemuliaan dan kehormatan diri. karena kita da’i.. yang lebih dahulu mendapatkan hidayah Allah untuk menyeru pada kebaikan, berupayalah sekuat mungkin -walaupun sulit- untuk tetap menjaga lisan-perbuatan-dan pola fikir kita. Karena kita tidak tahu dari perkataan/perbuatan yang mana yang membuat seseorang sakit hati. Selalu ada pilihan saat kita bicara dengan seseorang. Pilihan untuk menenangkan pandangan kita, atau menenangkan hatinya.

Hati-hati, tetap berjaga-jaga.. kecenderungan hati antara laki-laki lajang dan perempuan lajang itu -mungkin saja- dalam keadaan biasa, tapi karena sering kali kita meng-olok-olok-nya eh.. mereka malah saling kepikiran hingga berlanjut layaknya seorang yang pacaran. Nah lho, apakah itu bukan atas diri kitab terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan?

Dalam tiap benturan antara kita dan sesama, selalu ada pilihan; untuk memenangkan kebenaran atau memenangkan hati lawan bicara kita. Jiwa tak bisa takluk oleh hujjah. Hawa nafsu sulit tunduk pada argumentasi. Tetapi begitu hati tersentuh oleh pesona akhlak, tanpa ditunjuki pun dia akan mencari hujjahnya sendiri untuk menginsyafi kebenaran. (Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. Fillah)

semoga bermanfaat, mohon maaf jika banyak ke-silap-an kata yang terujar, dengan adanya artikel ini, saya khususkan untuk diri saya pribadi untuk bisa menjaga lisan atau perbuatan di banyaknya media jejaring sosial yang saya ikuti.

(klo dalam istilah saya : nyampah aja!).

saya mengajak -secara bersama sama– kepada shalihin-shalihat dalam KARISMA mari kita berdekap, DALAM DEKAPAN UKHUWAH, tetap menjaga sikap juga lisan kita di dunia nyata atau duni maya dan saling mengingatkan dengan cara yang baik :).. bahagia memiliki kalian semua..

3 Desember 2010,
dhayhenitudian
Alumni SMAN 58 Jakarta
angkatan 2007
..menulislah dengan hati, karena akan tersentuh oleh hati..
semoga Allah meridhoi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s