kultwit @malakmalakmal tentang #Gender


01. Wacana kesetaraan  #Gender kembali mengemukan setelah RUU-nya diusung kembali.

02. RUU itu bernama RUU Keadilan dan Kesetaraan #Gender. Pengusungnya siapa lagi kalau bukan feminis-liberal.

03. Masyarakat Indonesia, termasuk umat Muslim, banyak yang terkecoh dengan istilah ‘kesetaraan #Gender’ ini.

04. Oleh karena itu, kita perlu memahami dengan baik wacana #Gender ini.

05.  #Gender berbeda dengan jenis kelamin. Jenis kelamin dibedakan oleh organ tubuh dan fungsi biologis. Sudah jelas.

Baca lebih lanjut

Iklan

Deux C’est Mardi


New Catattan hati seorang Bunda Guru

———————–

Selasa di beberapa minggu yang lalu, tidak ada yang beda dari sebelumnya. Di Selasa maka saya akan mendedikasikan secara penuh untuk mengajar. Saat itu yang berbeda adalah saya akan pulang lebih awal, karena kondisi tubuh sedang kurang fit. Pagi dimulai dengan belajar tahsin, seperti biasa anak-anak berkelompok menuju guru yang akan mengkoreksi bacaan qur’an mereka. Begitupun dengan saya, saya khusus mendampingi anak yang akan saya koreksi dan mengajarkannya rangkaikan huruf-huruf hijaiyah di buku tahsin Utsmani untuk anak-anak.

Baca lebih lanjut

Mata Rantai Menulis


“Bukan karena organisasinya, tapi coba ditelaah kembali mata rantai fikrahnya” – statement seseorang setelah membaca buku tentang sejarah perjalanan organisasi massa di Indonesia, ia tuliskan dalam sebuah milis.

Hmm, menarik. Saya mulai mendapatkan pencerahan. Bahwa benar, jika buku adalah jendela dunia. Buku itu ada, jika ada yang menuliskannya. Siapa? Ya kita!! Mulailah menuliskan, minimal sejarah kehidupan kita. Kelak, itu akan menjadi cerita menarik untuk anak dan cucu kita, bahkan lebih dari itu, kita sebagai mata rantai sejarah, dari waktu yang terus berjalan.

Baca lebih lanjut

SELAMAT PAGI INDONESIA!!


Selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.

aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam
kerja yang sederhana;

bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.

selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;

kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.

seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.

aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng
kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit,

o anak jaman yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu

wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perepuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.

Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
terasa benar : aku tak lain milikmu

-Sapardi Djoko Damono-

Basis
Thn. XV – 4
Januari 1965