BANGKIT dan Lejitkan Potensi


Sebelumnya, saya mau kasih info kalau artikel kali ini panjangan banget, kayak bikin paper. Nikmati aja yak, dilarang ngeluh lho.. udah dibaca aja yak! semoga bermanfaat manusia-manusia sukses dunia akhirat 🙂

**************

Pernah mengalami gagal? Setiap manusia pasti pernah mengalami kegagalan. Saya? Juga pernah. Tapi santai aja para calon manusia sukses. Gagal mah biasa. Yang bertahan untuk terus berproses sukses itu yang luar biasa.

Saat awal masuk kuliah di IPB, tingkat 1 diwajibkan seluruh mahasiswa mendapatkan matrikulasi, atau tahap persiapan belajar. Saya jurusan Teknik Komputer, mendapatkan mata kuliah matrikulasi Fisika dan Dasar Pemrograman. Oke, awal-awal masuk kuliah itu bener-bener semangat banget, obsesi untuk berprestasi, menjadi mahasiswa terbaik, dapat nilai yang tinggi, tujuan yang saya tulis besar-besar pada ROAD MAP TO SUCCESS di dinding kamar kosan saya. Menjalani hari demi hari matrikulasi, mengenal mata kuliah Dasar Pemrograman yang dosennya asyik banget, juga belajar fisika yang aplikatif, saat matrikulasi saya baru menyukai yang namanya praktikum fisika, kelompok saya orang-orang keren semua, mereka bisa membuat saya betah bekerjasama dengan mereka.

Lanjut yaa, modul kuliah dasar pemrograman seakan-akan menjadi kitab suci ke 2 setelah Al-qur’an, hehe.. nggak gitu-gitu amat sih. Dengan bangganya, saya merasa akan menjadi seorang programmer keren yang baik hati dan suka mengajar, hoho. Latihan demi latihan saya lakukan, hingga saat UTS matrikulasi, Alhamdulillah saya mendapatkan nilai terbaik, ucapan selamat dari dosen membuat saya melayang-layang, kayak layangan. Senang banget. Mulai PD kalau mengajarkan teman-teman berbagai barisan kode-kode pemrograman menggunakan Bahasa C. Sampai pada saat menjelang UAS, saya belajar bersama teman-teman, ada Bab akhir yang saya kurang pahami, terus saya diminta untuk mengSMS dosen menanyakan hal tersebut. Lama banget tidak ada balasan, maklum dosen mah kan sibuk, saya dan teman-teman pahami itu. Malamnya saat saya sedang belajar untuk UAS besok, Pak Dosen menelpon, menjelaskan sampai saya paham apa maksudnya, subhanallah Bapak Dosen itu, semoga Allah berikan keberkahan ilmu ya Pak. Hasilnya pun memuaskan Nilai A saya dapatkan.

Lalu, disemester berikutnya, saya merasa kehilangan sosok Dosen yang cara mengajarnya asyik banget itu, saya coba foKus belajar pemrograman, yah.. namun memang kemampuan dan beban hidup makin meningkat (cuih,,), rasanya susah banget tuh paham sama pelajaran pemrograman lanjut. Kalau praktikum malah lebih sering chat ama teman-teman satu kelas praktikum menggunakan system yang ada, padahal nggak ada akses internet, tapi dasar anak TEKOM mah, segala cara dilakukan. Saya merasa sangat gagal nilai-nilai saya makin menurun, seperti menjadi seorang programmer bukan passion atau panggilan jiwa saya. Mencari terus dan terus, sebenarnya saya ini mau jadi apa sih? Anak muda yang rada suram masa depannya saat itu bener-bener nggak tau apa yang menjadi panggilan jiwanya. Saya terus bertanya pada Allah, “Allah, anak muda dihadapanMu ini akan menjadi apa kelak? Mohon arahkan keahlian hamba dalam kuliah ini ya Allah..”, di Masjid Al-Ghifari saya adukan semua, huks, sedih.. sedih banget.. masa iya aktivis, nilainya bobrok-bobrok.

Perlahan satu per satu pencerahan saya dapatkan. Saya mulai mendalami corel draw, walaupun belum dapat mata kuliah multimedia, Alhamdulillah.. ada yang mau mengajarkan saya dan saya pun antusias untuk terus belajar mendesign. Oh, ternyata memang passion saya mendesign, kalau falashback ke zaman muda dulu, saya memang ingin menjadi design interior, tata ruang kota, juga master publishing. Apresiasi dari teman-teman mulai berdatangannya, “ih.. dhayhen keren banget designnya”, “ah..biasa aja, masih belajar” sok malu-malu gitu deh saya. Saya rada norak tapi tetap keren, kalau udah Bosen praktikum, saya malah buka software coreldraw dan gambar ini itu, eh, teman-teman yang dibelakang dan kanan-kiri malah pada ngeliatin saya.. norak dikitlah. Padahal mah nggak bagus-bagus amat, tapi lumayan buat nambah skill dan bantu bikin publikasi di lembaga dakwah kampus. Saat itu saya hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat, jika tidak bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi dibidang akademik, semoga ada kesempatan untuk menjadi menjadi mahasiswa berprestasi bidang non-akademik. Eh, suatu malam saya diminta hadir dalam wawancara calon mahasiswa berprestasi non-akademik bidang Sosial, mimpi apa yaa semalam? kok bisa masuk nominasi, sedang begitu banyak orang yang berkontribusi lebih optimal dikampus. Alhamdulillah di acara Award Kampus, saya terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi non-akademik bidang sosial ke 2. Ngarepnya sih juara 1, tapi itu nggak jadi masalah, yang saya pikirkan saat itu, bagaimana tetap berkontribusi dimanapun dan kapanmu, bermanfaat itu saja.

Selain itu ternyata saya pun menyukai aktifitas mengajar, bagi saya mengajar itu seperti mengalirkan air, terus berjalan menelusuri aliran, hingga bermuara pada lautan yang luas. Proses mengajar sangat panjang, dianalogikan dengan air, karena air adalah kebutuhan manusia, mengajarkan itu kebutuhan, dan aliran air itu maksudnya ilmu yang diajarkan akan panjang manfaatnya, prosesnya berkuadrat, berlipat-lipat karena akan terus disambung oleh peserta didik. Saya menyukai mengajar anak-anak usia dini, mereka cikal bakal manusia-manusia sukses masa depan yang sejak dini harus dibina dengan kebaikan akhlak dan keyakinan akan TuhanNya. Jadilaah saat ini saya seorang Guru, Designer Grafis, juga seorang pengusaha, insyaAllah ^^

Cerita diatas, bukan maksud saya untuk riya’ atau bersombong, namun saya ingin berbagi kisah semoga bisa mengambil hikmah. Saya yakin, teman-teman pun punya kisah yang lebih inspiratif dari apa yang saya ceritakan, maka.. berbagilah, dengan cara apapun.

Seperti halnya Siti Hajar, isterinya Nabi Ibrahim yang berlari dari bukit sofa ke bukit marwah sambil terus berdo’a kepada Allah, sebanyak 7x Siti Hajar bolak balik, demi mendapatkan air untuk anaknya yang sudah kehausan. Akhirnya diproses yang ke 7, keluarlah air zam-zam. Jika proses yang ke 7 belum keluarpun saya yakin Siti Hajar akan tetap berlari ke 8 , 9, 10, hingga seterusnya. Tandanya apa? Ini kesungguhan, mujahadah. Beliau bersunguh-sungguh berusaha untuk mendapatkan air, bersabar dengan proses.

Bukan soal gagalnya, tapi seberapa kuat kita berusaha – Ippho Santosa

Titik terendah (kegagalan) yang kita hadapi mungkin itu adalah titik tertinggi yang kita hadapi. Seperti saat sujud, dalam shalat sujudlah dimana posisi paling dekat kita kepada Allah. Ada info yang saya ketahui dari suatu acara TV, Ka’Bah posisinya paling rendah dari sekitar, namun ternyata Ka’bah paling mulia, paling tinggi. Disaat kita gagal dalam posisi paling rendahlah kita akan merasa paling dekat dengan Allah untuk memohon ampun, memohon do’a, mencurah segala keluh dan kesah, dekat dengan keluarga, sahabat, dan lain-lain. Ah, kenapa manusia seringkali baru menyadarkan diri disaat-saat paling rendah. Sekarang kita coba ubah : TITIK TERENDAH = TITIK TERTINGGI, maka BANGKIT!!

Albert Einstein berkata : Kalau kita melakukan hal yang sama, dan menginginkan hasil yang beda, maka hal itu SINTING!

Bener tuh, masa iya usaha sama pengen dapat hasil yang beda? Usaha harus beda, biar dapat hasil yang beda juga, semakin kuat berusaha, semakin maksimal hasilnya. Bukan kerja keras, tapi kerja cerdas!

SUKSES = SUKa berproSES

Lakukan semua proses hidup, lejitkan semua potensi yang kita punya, maksimalkan keahlian, dan jangan lupa BERUSAHA – SEDEKAH – BERIBADAH. Jika semua sudah dilakukan, namun belum juga mendapatkan hasil yang meljitkan, ada satu hal yang penting banget kita lakukan, BERSABAR 🙂

Kalau yakin dengan apa yang Allah janjikan, jangan hanya jadi pengamat, tapi kita harus larut bersama dengan Allah (Positive Believe – Reza M. Syarif)

sebelum mengakhiri artikel ini, yuk mari kita berdo’a :

Katakanlah: Ya Tuhan yang memiliki segala kekuasaan.Engkau berikan kekuasaan kepada barang siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari barang siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau muliakan barangsiapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa.
Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam, dan ”Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira.
[Qs. Al- Imran : 26-27]

Jakarta, 3
April ’12
artikel ini terinspirasi saat menyimak materi-materi di acara TV favorit saya : pintu rezeki dan wisata hati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s