Let me stand on my feet!


Aduh.. mohon maaf judulnya rada ribet yee, pada ngerti nggak neh? Hehe.. maksud aye adalah.. Muslimah berwirausaha?? Why Not (Ini bukan arti judul diatas). Nah itu dia yang ingin saya bahas pada postingan kali ini. Bismillah, semoga matanya nggak kriyep-kriyep karna saya akan banyak membahas hal-hal yang bikin teman-teman ingin segera menyelesaikan baca artikel ini, go out cari ide untuk usaha.

Sejak 1400 tahun lalu, kiprah muslimah dalam beriwrausaha sudah dicontohkan oleh ibu umat ini, yaitu Khadijah Binti Khuwalid, istri Nabi Muhammad SAW. Beliau berwirausaha dalam hal perniagaan dengan orang yang terpercaya. Beliau memilih orang yang amanah, yaiutu Muhammad “Al-Amin” SAW. sebagai mitra bisnisnya. Nabi Muhammad pernah bersabda, “Aku tidak pernah melihat orang yang memberikan upah yang lebih baik daripada Khadijah. Ketika aku dan rekanku tiba, kami mendapatkan bingkisan makanan yang ia sediakan bagi kami” selama bekerjasama dengan Muhammad keuntungannya berlipat ganda, akhirnya Khadijah memilih Muhammad sebagai pendampingnya, so sweet yaa.. 😀

Rasulullah SAW. bersabda :

“Sebaik-baik usaha seorang adalah usaha dengan tenaganya sendiri. Dan setiap jual beli adalah baik (HR. Ahmad, Tabrani, Hakim)

Kita sebagai seorang muslimah tentu tidak bisa seterusnya menggantungkan pemasukan dari belas kasih orang lain, baik itu dari orang tua, kerabat, maupun teman, Eit.. ada yang lupa dari suami cuy…, tapi ini bagi yang udah bersuami. Nah, bagi muslimah, keinginan untuk tidak bergantung pada orang lain tentu menjadi pemicu baginya untuk memiliki penghasilan sendiri terlepas dari tanggungan orang lain. Ini fitrah bagi setiap manusia untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Let me stand on my feet.

Bagi muslimah sebelum memulai usaha, kita meminta izin dulu kepada orang tua atau suami bagi yang sudah menikah. Bicarakan baik-baik perihal usaha yang akan kita jalankan, syukur-syukur diizinkan, kalau nggak diizinkan, biarin aja.. eh.. nggak gitu, yaa.. kita berlapang dana dan tetap bersikap arif untuk menunda usaha yang akan kita bangun. Yang jadi pertanyaan, apakah arif seperti itu (?)

A. MENJADI PENGUSAHA

Pengusaha itu beda coy ama yang jadi pegawai. Jelas dong.. namanya saja udah beda. Andaikan kita adalah pegawainya, biasanya yang terpikir adalah hal-hal atau pekerjaan apa saja yang harus kita lakukan untuk si Bos ini. Berbeda jika kita sebagai pengusaha, kita berfikir bagaimana caranya mendapat keuntungan agar perusahaan ini dapat survive atau malah tumbuh pesat.. Namun, ingatlah.. untuk mendapatkan uang, kita tidak selalu harus memiliki uang. Seperti halnya saya yang berwirausaha, tanpa modal, apaaa? TANPA MODAL teman-teman. Saya akan bercerita sedikit kenapa bisa tanpa modal.. eh, tapi.. nanti aja deh.. (dasar dian nyebelin) di postingan berikutnya aja yaa saya akan bahas tujuan saya berwirausaha dan apa GOAL dari wirausaha saya, kalau dibahas disini nanti teman-teman ngantuk bacanya. Hehe..

B. MENJALANKAN USAHA

1. Mulailah dengan ide

Banyak muslimah yang memulai wirausaha dengan membuat jilbab sekali pakai, membuat pakaian muslimah, perabotan rumah tangga, catering, jualan jus, dll. Nah.. memulai dengan ide itu penting banget, liat siapa kawan-kawan kita, siapa yang paling dekat dengan kita, dan juga perhatikan jaringan terkuat kita ada dimana? Ibu-ibu? Pelajar? Mahasiswa/i? anak-anak? Pegawai? Kalau kita sudah tahu kekuatan jaringan kita dimana, maka mulailah mencari ide, apa yang mereka butuhkan, dan bisa kita penuhi.
Lalu, usahakan ide usaha kita itu bisa dilaksanakan dengan sederhana. Sesuaikan ide dengan modal yang kita miliki, jika tidak punya modal, cobalah untuk menjadi makelar bisnis alias reseller. Namun, bila ide kita perlu modal besar dari yang kita miliki sekarang, kita dapat mencari partner bisnis untuk membantu kekurangan. Misal dari orang tua, kerabat, bank syari’ah, dll.

2. Memilih Usaha

Memilih usaha itu seperti memilih jodoh, ups.. maaf-maaf.. maksudnya seperti memilih jalan hidup :p. Sesuaikan dengan potensi, kemampuan, dan pengetahuan kita mengenai bisnis yang akan diterjuni. Pilihlah usaha yang cocok dengan kemampuan. Paling enak sih kalau usaha sesuai dengan hobi kita, akan lebih enjoy ngejalaninnya.

Oya girls, jangan pernah anggap remeh usaha kita, sepanjang usaha kita halal dan diniatkan untuk beribadah kepada-Nya, maka lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Kalau di film “Negeri 5 Menara” Bukan yang tajam, tapi yang bersungguh-sungguh, MAN JADDA WA JADDA.

3. Perlu strategi dalam usaha

a. Keberanian Mengelola Resiko

Ingat teman-teman, keberanian berbeda denga nekat. Nekat itu melakukan sesuatu tanpa ada pertimbangannya alias sruduk sana sruduk sini sehingga yang didapat hanya capaiannya saja. Keberanian mengelola resiko berarti kita berani menghadapi berbagai tantangan, seperti kita menhadapai ujian sekolah.

Memulai suatu usaha seperti belajarnya seekor burung  yang mau terbang pertama kali. JATUH? YAA BANGUN LAGI (kayak iklan apa yaa? hehe). Jadi, keberanian tidak hanya berhadapan dengan risiko, tapi juga keberanian untuk menjalaninya dengan kesabaran.

Oh iya, buatlah Business Plan, mulai dari biaya produksi sampai pada pemasarannya. Sebenarnya saya paling malas banget bikin beginian, mengandai-andai, rada mumet, tapi ini harus dibuat, kudu, wajib, agar kita tahu cashflow bisnis dan keuntungan kita nanti (ini saya dapat dari seorang sahabat untuk membuat perencanaan produksi, untuk kita mengambil keputusan harga jual ke pasar berapa).

 b. Kemampuan membatasi selera berkonsumsi

Ini neh, kudu berhati-hati. Biasanya disaat banyak uang, semakin penuh pikiran kita untuk menghabiskan uang itu. Contoh saya, diawal saya berwirausaha, karena saya berfikir keuntungan saya lumayan untuk bisa membahagiakan diri sendiri beli ini itu, akhirnya sempat terhasut dengan banyaknya dagangan onlineshop yang membuat saya tertarik, jadilah saya wirausaha yang konsumtif (nasib.. nasib) bukannya tidak boleh, tapi titik tekan disini tidak berlebihan. Saya malah ikutan belanja online, beberapa produk, walaupun pas barangnya udah nyampe, kadang suka saya jual lagi, cuma laper mata ternyata cuy. Jangan sampai seperti itu yaa, dan Alhamdulillah saat ini saya sudah nge-rem secara permanen untuk tidak berlebih-lebihan, ingat sama anak yang kebutuhan susunya makin meningkat (hah? Udah punya anak ian? insyaAllah nanti.. haha).

Pokoknya batasilah selera konsumtif kita. Dengan demikian, kita bisa meningkatkan keuntungan usaha. Oh ya satu lagi, bila kita ingin keberkahan dengan uang hasil usaha halal kita maka salurkanlah dengan SEDEKAH, sekali lagi SEDEKAH saudara-saudari, dengan mengeluarkan sebagian harta kita, nggak akan bikin kita miskin kok, malah bakalan ditambah, akan terus ditambah, insyaAllah, yakin deh.. 😀

 c. Peguasaan yang baik pada usaha sendiri

Mengusasi apa yang kita jalani itu penting banget, biar nggak dibilang OMDO (Omong Doang). Untuk memahaminya, kita kudu rajin mengakses berbagai informasi baik dari buku maupun dari pihak-pihak terkait. Banyak lho pengusaha yang udah sukses (insyaAllah sukses akhirat juga), yang mau sharing atau berbagi ilmunya dengan para pengusaha-pengusaha yang sedang berkembang. Nggak ada alasan bagi seorang pengusaha nggak ada waktu untuk belajar karena kesibukan, kita harus belajar mamen.. Era Global yang terus berubah ini menuntut pengusaha sukses untuk terus belajar dan mengakses informasi dalam mengambil keputusan-keputusan akurat. Nah, kalau lagi ngenet jangan hanya buka Facebook-Twitter-Plurk atau social media aja yang dipantengin, tapi sedkit-sedkit tak apalah kalau ternyata domain onlineshop kita disana, tapi coba search jurnal-jurnal, literature atau web yang nambah pengetahuan kita tentang strategi bisnis dan lainnya.

 d. Pupuk kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan kita

Produk kita akan dibeli oleh konsumen jika ia percaya dengan peusahaan kita. Yakin deh.. selama hubungan kita baik dengan para konsumen, insyaAllah merekapun akan mengapreasi usaha kita. Jangan pernah menganggap remeh keluhan dari konsumen, keluhan-keluhan yang datang menghampiri kita akan membuat kita lebih baik lagi dalam melayani konsumen. Memupuk kepercayaan juga tidak hanya pada konsumen saja juga kepada supplier. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah faktor keuangan. Bayar tunggakan segera kepada supplier. Hal ini dapat meningkatkan kredibilitas kita pada mereka.

Suatu masa, saya pernah kehilangan 2 box coklat besar, yang isinya ada sekitar 1000 coklat, dan saya mengalami kerugian sekitar Rp.700.000. Saat itu saya sangat takut sekali, aduh.. gimana coba, masih kuliah belum punya penghasilan, masih jadi beban keluarga, juga masih jadi beban Negara. Uang sebesar itu dari mana saya harus menggantinya ke supplier? Kadang saya mengeluh, “Ya Allah kenapa semuda ini beban hidup saya begitu berat” (sumpah deh, ini keluhan yang sangat lebay dan tidak boleh diikuti). Saya melarikan diri, ups.. maksudnya menghindar dari supplier, tapi sungguh.. hati tidak tenang, semua pikiran terganggu. Akhirnya beberapa tahun setelahnya saya memberanikan diri untuk berkata jujur dan mengembalikan uangnya. Saya yakin supplier itu pun kecewa dengan sikap saya, kenapa tidak bicara jujur saja saat kehilangan box tersebut. Syukur Alhamdulillah, terlepaslah saya dari hitung tersebut, jangan sampai lagi terjadi ya Allah, ampuni.. ampuni hamba.

e. Pengawasan terpadu pada usaha kita

Mustahil suatu usaha yang terencana, tanpa ada pengawasan. Awasi semua manajemen, sistem, reseller, dan produksi. Harus ada pengawasan agar perencanaan berjalan lancar.

4. Kembali pada diri sendiri

Kembali pada diri sendiri bukan berarti pasrah, tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, kita akan bersemangat bekerja disertai doa pada Allah SWT yang meguasai pembendaharaan, baik di dunia maupun di akhirat. Kembali pada diri kita sendiri, apakah kita membaca artikel ini hanya untuk mendapatkannya, itu pun tidak jelek. Namun, lebih baik lagi bila mencoba terjun menikmati lautan wirausaha. Tidak ada jeleknya kok, sepanjang itu diniatkan untuk beribadah pada-Nya. Nggak masalah sambil jadi pegawai, juga berwirausaha, karena belum tentu selamanya kita bisa jadi pegawai. Wahai muslimah, nantinya pun kita akan berkeluarga, mengurus anak, dll, akan lebih nyamaN jika kita bekerja dirumah. Ini hanya saran dari saya saja, kembali lagi pada diri sendiri 🙂

KEMAMPUAN BERWIRAUSAHA

1. Communication skill

Komunikasi adalah suatu proses pemberian informasi dari seorang sender (pengirim) kepada receiver (penerima) melalui suatumedia sehingga diharapkan terjadi umpan balik (feedback). Berkomunikasi dengan sebaik mungkin dengan konsumen dan supplier atau dengan investor merupakan modal utama menanamkan hubungan silaturahim yang baik ^^

2. Learning skill

Belajar merupakan suatu proses berpindahnya kita dari satu titik ke titik yang lebih baik. Seorang pembelajar adalah seorang reformer yang selalu menginginkan adanya perubahan pada yang lebih baik.

3. Thingking Skill

Kemampuan berfikir adalah modal utama dalam sumber daya manusia (SDM). Biasanya kita tuh malas beud berfikir, kayaknya udah mendarah daging beginian mah. Berfikir adalah sumber daya terhebat ketiga setalah Iman dan Islam yang bersemanyam di dalam hati. Jadi pikiran itu bagian dari kebiasaan kita karena seorang pengusaha akan bekerja dengan lebih banyak berfikir.

Nah segitu dulu artikelny yak, kenapa Muslimah (harus) berwirausaha, selain kita bisa hidup secara mandiri, kita tidak menjadi beban keluarga, suami ataupun beban Negara, hehe :D. membantu perekonomian keluarga dan suami akan membuat hidupa lebih bahagia dan harmonis, karena tentu dengan hasil kerja cerdas yang kita lakukan itu, membuahkan hasil untuk menyenangkan hati mereka. Oh.. enaknya ^^

Jakarta, 3
April ’12

Ternyata ngetik artikel sepanjang ini pegel juga yaa, padahal saya hanya merangkum saja dari beberapa sumber yang saya baca. Gimana para penulis novel yang tebel-tebel itu yaa, ah.. mereka diciptakan untuk jadi orang hebat sanggup mengetik sebanyak itu dan berfikir alur cerita yang menggugah hati. Maaf bagi pembaca yang matanya udah kriyep-kriyep..

Wahai muslimah, artikel ini saya tunjukan padamu, yaa padamu.. yang tak pernah lelah mencari keridhoan Allah dari semua aktifitas yang kalian lakukan. Aku juga muslimah, aku juga berwirausaha.. yuk, mari mulai membuka pintu rezeki, seperti yang sahabat-sahabat Rasul contohkan, berwirausaha.. salam smangat dan sukses dunia akhirat wahai muslimah ^^

Iklan

6 pemikiran pada “Let me stand on my feet!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s