Mata Rantai Menulis


“Bukan karena organisasinya, tapi coba ditelaah kembali mata rantai fikrahnya” – statement seseorang setelah membaca buku tentang sejarah perjalanan organisasi massa di Indonesia, ia tuliskan dalam sebuah milis.

Hmm, menarik. Saya mulai mendapatkan pencerahan. Bahwa benar, jika buku adalah jendela dunia. Buku itu ada, jika ada yang menuliskannya. Siapa? Ya kita!! Mulailah menuliskan, minimal sejarah kehidupan kita. Kelak, itu akan menjadi cerita menarik untuk anak dan cucu kita, bahkan lebih dari itu, kita sebagai mata rantai sejarah, dari waktu yang terus berjalan.

Oke, saya memang bukan goodreader (insyaAllah belum), saya juga tak pernah membuat kalimat dalam suatu biografi bahwa saya ini readers. Namun, aktifitas membaca adalah aktifitas yang menjadi satu kesatuan dalam kehidupan setiap manusia.

Sejak kecil kita sudah berproses untuk membaca. Diperkenalkan tentang gambar-gambar, atau objek-objek yang terlihat oleh mata kecil kita saat diajak berjalan oleh ayah dan bunda. Yap!! Kita sudah membaca kawan. Membaca apa yang kita lihat, menceritakannya pada ayah dan bunda, menjawab pertanyaan mereka tentang apa yang kita lihat, walaupun kita belum tahu bagaimana menyusun kata demi kata yang terlontar dari bibir mungil kita, yang sedang belajar membaca melalui indera penglihatan, karunia yang terindah dari Tuhan yang Maha Melihat.

Hingga sampailah pada proses membaca tingkat lanjut,, mengenal huruf demi huruf, mengeja-nya satu per satu, juga menyusunnya menjadi suatu rangkaian kalimat. Tahap selanjutnya adalah proses bagaimana apa yang kita baca, dapat kita tuliskan dengan baik. Nah, poin ini yang akan saya cermati lebih dalam.

Bagi penulis blog seperti saya, aktifitas membaca blog orang lain, atau blogwalking adalah aktifitas yang mengasyikan. Membaca apa yang dituliskan seorang penulis blog lainnya, adalah sesuatu yang penting. Kita bisa mengobservasi seperti apa gaya menulis, atau sedikitlah kita tahu bagaimana kepribadian sehari-harinya, walaupun kita tak pernah bertemu atau mengenalnya lebih dahulu didunia nyata. Batas antara dunia maya dan dunia nyata adalah tulisan. Itu yang bisa saya simpulkan saat ini.

Membaca apa yang ditulis orang lain juga berpengaruh dengan gaya penulisan kita. Misal : mungkin kita ngefans dengan seseorang disebrang sana, begitu mengaguminya melalui tulisan-tulisannya. Walaupun secara kepribadian kita bertolakbelakang, karena ingin membuat suatu ketertarikan, kita seakan-akan seperti dia. Defense. Melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai atau bertolakbelakang demi suatu pencitraan. Begitu bukan ya? Coba anak psikologi koreksi. Hehe.. Atau bisa juga kita menjadi pengamat instan untuk mengklasifikasikan gaya penulisan. Ini tulisan humoris, serius, dan sebagainya. Disinilah ketertarikan dalam membaca terjadi, kita akan membaca tulisan yang kita butuhkan, karena tidak semua tulisan, meskipun sangat bagus tutur bahasanya, menarik untuk kita baca.

Begitu halnya dengan menulis. Gaya menulis kita akan dipengaruhi atas apa-apa yang kita baca, juga dipengaruhi dari kondisi diri kita. Satu yang ingin saya tekankan disini adalah membaca tulisan siapapun, apapun itu, janganlah sampai hilang identitas kita sebagai pembaca yang juga menulis. Menulislah dengan ringan, jangan menjadi beban, jangan sampai kita terlalu repot membandingkan diri kita dengan orang lain. Hingga, tulisan yang kita tulis tidak bermakna. Yaa, hambar. Biasa saja. Tentu kita punya “rasa” ini kan untuk coba mengamati, tulisan kita ini be”rasa” atau tidak, minimal saat kita membacanya kembali.

Saya sedang asyik-asyiknya membaca buku-buku sejarah. Saya sedang mengamati, bagaimana para penulis sejarah itu bisa dengan lugas, tegas, jujur dan sangat deskriptif. Mereka menuliskannya dengan sungguh-sungguh, serius. Ini sejarah, maka tak ada yang boleh melupakan sejarah. Apa yang dituliskannya itu pernah terjadi, ratusan bahkan puluhan ribu tahun yang lalu. Untuk apa? Untuk menjadi bekal agar kita bisa belajar dari sejarah, belajar agar kita bisa meneruskan atau memperbaiki yang belum sempat dilakukan orang lain di masa lalu. Mata rantai yang terus berkaitan satu dengan yang lainnya. Organisasi massa, suatu tempat, dan juga jalannya suatu pemerintahan pasti memiliki sejarah, dan sejarah itu terus berputar, maka dari itu menuliskan sejarah itu begitu sangat penting, karena dari sanalah, anak cucu kita akan belajar bagaimana kita menghadapi zaman yang sedang kita jalani saat ini dan mereka bisa mengambil hikmah dari apa yang mereka ketahui.

Membaca dan menulis, suatu satu kesatuan dalam kehidupan. Menulislah dengan “apa adanya”, bukan “ada apanya”.

Jika ada yang bilang “saya tidak bisa menulis”, bohong! Udah mahasiswa masa nggak bisa menulis, terus kalau ujian soalnya esai, gimana dong jawabnya? πŸ™‚

Kalau membandingkan dengan para penulis populer, kita tak akan pernah mau menulis, tapi menulislah karena kebutuhan. Kadang kala tidak semua ekspresi jiwa dalam kita ekspresikan langsung dengan gerak tubuh atau berbicara, tapi ternyata bisa diekspresikan melalui rangkaian kata-kata yang kita tuliskan. Adil bukan?

Menulis yang bijak menurut saya adalah menulis sesuai dengan tujuan ia menulis. Ingin menghibur pembaca, ingin berbagi pengetahuan, ingin menceritakan suatu pengalaman, ingin memberika motivasi/pengemangat, atau ingin merangkai suatu cerita nonfiksi. Sesuai dengan kebutuhan kita. Bukan ingin mendapati suatu puji-pujian, jika dapat, maka itu ada bonus karena kita berani menulis sedang banyak orang lain yang belum memulainya. ^^..

Menulis adalah mata rantai, penyambung sejarah untuk generasi selanjutnya.

Jakarta, 19
April ’12

..karna dengan kata, kita dapat mengubah dunia.. dari zaman kegelapan, hingga terang benderang.. InsyaAllah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s