Deux C’est Mardi


New Catattan hati seorang Bunda Guru

———————–

Selasa di beberapa minggu yang lalu, tidak ada yang beda dari sebelumnya. Di Selasa maka saya akan mendedikasikan secara penuh untuk mengajar. Saat itu yang berbeda adalah saya akan pulang lebih awal, karena kondisi tubuh sedang kurang fit. Pagi dimulai dengan belajar tahsin, seperti biasa anak-anak berkelompok menuju guru yang akan mengkoreksi bacaan qur’an mereka. Begitupun dengan saya, saya khusus mendampingi anak yang akan saya koreksi dan mengajarkannya rangkaikan huruf-huruf hijaiyah di buku tahsin Utsmani untuk anak-anak.

Setelah setelah menyetorkan bacaan qur’an, anak-anak mulai ramai, ada yang mengobrol, ada yang menyelesaikan sarapannya,, dan saya pun ikutan sarapan.. hehe, ibu Guru yang tidak pernah sempat sarapan dirumah. Setelah serapan, saya melirik jam dinding, hmm.. masih lama masuk kepelajaran selanjutnya. Saya mengamati aktifitas kelas pagi itu, senang sekali dengar celotehan-celotehan anak-anak, ada saja yang mereka bahas.

Tiba-tiba ada 2 anak perempuan kelas 2 SDIT itu mendekati saya, sebut saja namanya Kaysa dan Amirah. Terjadilah percakapan seperti ini :

Kaysa dan Amirah : “Bu Dian, pernah nonton HAFALAN SHALAT DELISA bu?”, aduh.. mereka saling bersamaan menanyakan hal tersebut, lucu, berebutan bertanya.

Bu Dian yang kece : “Iya, Bu Dian sudah menonton sama sahabat-sahabat Bu Dian. Kenapa Kaysa dan Amirah?”

Kaysa : “Sedih banget yaa bu, saya nangis tau bu pas nonton”

Amirah : Iya sedih banget, saya juga nangis bu. Bu Dian nangis nggak?”

Bu Dian yang keren : “Hihi, Bu Dian juga sempat nangis, tapi kayaknya Bu Dian malah lebih banyak tertawanya deh”

Amirah : “Ih,, sedih tau bu, kok malah ketawa-ketawa?”

Bu Dian yang oks banget : “Iya pas nonton Bu Dian banyak komentar, sahabat Bu Dian yang disebelah Bu Dian, jadi ke ganggu, terus ketawa-tawa deh kita. Lagi pula ada yang hal aneh yang Bu Dian liat di Film itu”

Kaysa : “Hahaha.. Bu Dian neh, gangguin temannya Bu Dian aja. Apa Bu yang aneh?”

Bu Dian yang asik : “Liat nggak, kan ada Ustadznya delisa, aduh.. siapa yaa namanya, bu dian lupa. Pas tsunami itu harusnya ustadznya delisa juga jadi korban, kok tiba-tiba pas udah di penampungan, ustadznya datang seperti dari rantauan gitu. Bu Dian ketawa-tawa aja pas liat fenomena itu, aneh. Jadilah kita nggak sedih lagi, haha…”

Amirah dan Kaysa ikut tertawa bersama saya. Bel tanda masuk pelajaran dimulai sudah berbunyi. Ah,, rasanya masih ingin bercerita bersama mereka. Guru yang suka mengobrol, beginilah nasibnya.

Saat Istirahat, lagi-lagi Kaysa dan Amirah datang lagi menghampiri saya. Saya sudah siap untuk mendengarkan ocehan mereka, buru-buru saya membetulkan posisi duduk saya menghadap mereka.

Mereka masih bercerita tentang hal yang sama, yaitu tentang Film Hafalan Shalat Delisa. Mereka menonton itu bersama keluarga besar mereka. Dari cerita yang mereka tuturkan, saya tau bagaimana Kaysa dan Amirah bisa menonton film itu. Kaysa dibelikan orangtuanya DVD Film Hafalan Shalat Delisa, sehingga dia menontonnya dirumah, sampai hafal beberapa dialog yang menurun saya juga menjadi hal yang paling menarik dalam Film itu. Begitupun dengan Amirah, ia bercerita kalau menonton film itu dirumah bersama keluarga besarnya, orangtuanya menyulap ruang keluarga dirumahnya seperti bioskop, ada layar besar yang ditempelkan di tembok, lalu melalui bantuan infokus, tayangan film tersebut ditembakan dari laptop ke layar besar didinding rumahnya. Mendengar mereka bercerita nggak ada habisnya, terus-terusan, seperti tak ada habis bahan cerita yang mereka tuturkan kepada saya saat itu. Saya hanya senyum-senyum saja, dan sesekali tertawa-tawa liat ekspresi mereka yang agak kecapean berbicara tapi tetap mau terus bercerita.

Hal tersebut mengingatkan saya pada Buku Totto-Chan. Yaa, disalah satu Bab-nya bercerita betapa antusiasnya Totto-Chan saat pertama kali bertemu Kepala Sekolah Tomoe Gakuen, ia berjam-jam bercerita kepada Kepala Sekolah barunya itu. Anak-anak memang selalu punya cerita yang tak pernah habis, begitu pikir saya. Karena saat dewasa nanti, anak-anak itu mulai mebagi-bagi mana cerita yang bisa diceitakan ke oranglain, mana yang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa tahu, atau mungkin hanya ia saja yang tahu sebuah cerita, begitu kedewasaan, bijak dan tepat dalam berbagi, namun bukan berarti membatasi diri. 🙂

Kaysa : “Bu Dian saya paling suka pas Delisa bilang gini bu : Delisa mencintai umi karena Allah

Amirah : “Iya bu, pas Delisa bilang gitu, Abinya Delisa cemburu. Bilang gini : Ya kan sekarang adanya abi, bilang untuk abi juga. Terus delisa bilang : Delisa mencintai abi karena Allah. Eh, abinya dipeluk sama Delisa”

Kaysa dan Amirah : “karena sekarang ada Bu Dian, jadi bilangnya gini : Kaysa dan Amirah mencintai Bu Dian karena Allah

Aaaaaaaa…. so sweet.. lemes, pengen banget terbang sampai kejedot atap, terus jatoh. Saya senyum-senyum mereka bilang gitu, pengen banget memeluk mereka. Tapi dengan dodolnya saya malah, melakukan ekspresi tubuh yang nggak banget, dan mengacaukan niat saya untuk membalas ucapan mereka sambil memeluk. Dikarenakan rok saya tersangkut bangku dan saya terjatuh beneran dari bangku, hah.. jadilah saya malah ditertawai. Ya Salam… malu-maluin banget, tapi dengan keahlian ngeles yang saya punya, saya meminta Amirah dan Kaysa mendekat, sambil duduk dilantai, saya bisikan ketelinga mereka : “Bu Dian mencinta Amirah, Kaysa dan semua teman-teman disini karena Allah, jadilah murid Bu Dian yang hebat yaa”. Yes, berhasil, berhasil, hore!!  Haha, mereka tersipu-sipu malu gitu. Sik.. Asik.

Setelah itu mereka bernyanyi saat Delisa mengenang Ibunya,

♫…Lembut kukenang, kasihmu ibu
di dalam hati ku kini menanggung rindu
kau tabur kasih seumur masa
bergetar syahdu, ooh di dalam nadiku.. ♫

Duh, merinding gimana gitu dengar nyanyian itu.. Mereka baru hafal sampai itu, saya meminta mereka untuk menuliskan lirik lagu tersebut, dan menyanyikan lagi didepan saya. Mereka berjanji esok harinya akan memberikan catattan lagu tersebut ke saya. Waah.. betapa bahagiannya saya. Namun sayang, setelah hari itu saya libur sepekan, karena kondisi kesehatan yang makin nggak oke, huft.

Selasa dipekan berikutnya, hari itu saya meniatkan diri untuk masuk, walaupun badan masih kurang enak, tapi mengajar sudah menjadi aktifitas yang mendarah daging, mamah mengingatkan saya, untuk segera masuk, beliau bilang : mengajar itu kewajiban dian, segera penuhi. Betul, saya punya tanggungjawab akan profesi ini, jangan sampai merugikan orang lain.

Saat sudah sampai kelas, Kaysa menghampiri saya, dan bertanya : “Bu Dian kok tidak masuk-masuk sih kemarin?”, kaysa. “Iya maaf yaa, ibu sakit thypus, usus ibu sedang luka. Oh ya mana catattan lagu ibu delisa itu?”, ini Bu Dian yang manis. “Kemarin-kemarin saya bawa terus catattan-nya bu, tapi  Bu Dian tidak masuk-masuk, hari ini saya tidak bawa, tidak tahu kalau Bu Dian masuk”, nampak wajah kekecewaan kaysa. Maaf yaa nak, aduh.. rasanya bersalah sekali saya. “Besok dibawa yaa, semoga Allah berikan kesahatan pada Ibu, jadi besok kita bertemu lagi”, ujar Bu Dian nggak yakin karena tubuhnya sudah mulai lemas dan demam lagi. Begitupun dengan Amirah, ia bercerita juga kalau catattan lagu Ibu itu sudah ia tulis rapi dan akan diberikan kepada Gurunya ini, namun sayang seribu sayang, Ibu gurunya tak nampak dihari-hari berikutnya. Saya hanya tersenyum saja. Berdo’a dalam hati : “Allah, sehatkanlah tubuh hamba, agar esok hamba bisa bertemu mereka lagi, tidak mengecewakan mereka karena sudah capai-capai menyalin lirik lagu Ibu Delisa”.

Ternyata, esoknya saya tak masuk lagi, thypusnya kambuh. Yap, saya kepikiran bagaimana ekspresi Amirah dan Kaysa mengetahui mereka tak melihat lagi sosok Gurunya dihari esok. Pikiran saya berkecamuk, antara bedrest dan juga tanggungjawab saya sebagai seorang pendidik, namun lebih penting lagi, janji saya untuk masuk dan melihat lirik lagi Ibu yang Amirah dan Kaysa tuliskan, huks, huks, huks. Rasanya pengen guling-guling dirumput, sebeeeel. Tapi yaa, gimana lagi. Allah berikan saya waktu untuk nanti bisa menatap mereka lebih lama lagi. Maafkan Ibu ya nak, maafkan.

Akhirnya, saya penasaran, dan coba googling lagu Ibu di sountrack Film Hafalan Shalat Delisa. Yap, dapet.. langsung download, dan menyalin seluruh liriknya.. aaaaaaaaaaahhhhhhh, Bu Dian kangen sama kalian, kangen sekali. Tunggu Bu Dian yaaa, pasti kalian juga kangen Bu Dian.. (Dih! padahal belum tentu anak-anak kangen, Bu Dian ini)

♫….Lembut kukenang, kasihmu ibu
di dalam hati ku kini menanggung rindu
kau tabur kasih seumur masa
bergetar syahdu, ooh di dalam nadiku

9 bulan ku dalam rahimmu
bersusah payah, oh ibu jaga diriku
sakit dan lelah tak kau hiraukan
demi diriku, oh ibu buah hatimu

tiada ku mampu, membalas jasamu
hanyalah do’a oh di setiap waktu
oh ibu tak henti kuharapkan do’amu (2x)
mengalir di setiap nafasku (2x)

ibuuuuuuuuuuuuuu……….. (3x)

Lembut kukenang, kasihmu ibu
di dalam hati ku kini menanggung rindu
engkau tabur kasih seumur masa
bergetar syahdu oh di dalam nadiku

indah bercanda denganmu ibu
di dalam hati ku kini slalu merindu
sakit dan lelah tak kau hiraukan
demi diriku, oh ibu buah hatimu

tiada ku mampu, membalas jasamu
hanyalah doa oh di setiap waktu
oh ibu tak henti kuharapkan doamu (2x)
mengalir di setiap nafasku (2x
ibuuuuuuuuuu…….. (3x)

“Allahummaghfirlii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”…. ♫

dihari Selasa juga
Jakarta, 25
April ‘2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s