Senin, hari ini.


Pagi.

Tengah malam, sekilas saya lihat hp, ada sms.. berita orang meninggal, terus tidur lagi. Bangun lagi, dan kali ini beneran nggak pake tidur lagi. Lihat hp lagi, banyak notification, ealah.. ini hp rajin banget sih nimbun notif. Diantara puluhan notif, ada sms yang masuk, masih dengan tema yang sama ‘berita orang meninggal’. Baca, belum ‘ngeh’, baca lagi.. setengah ‘ngeh’, baca lagi.. Ya Allah.. innalillahi wa inna illaihi roji’un.. Pak Jayaaaaaaaaaaaaa.

Haduh! Kenapa se-telat ini sih saya sadar dari masa-masa tertidur, kenapa lama banget nyambungnya gitu. Subuh itu bikin mendung tiba-tiba menghampiri kamar, Bapak itu.. ah, langsung teringat gaya duduk beliau saat ngajar Fisika di kelas X, pakaian beliau, saya ingat, hey.. saya murid beliau yang sangat mengingat dengan jelas gaya bicara dan gaya berjalannya. Huks, huks, bapak itu kan energik. Tidak bisa saya pungkiri, kalau saya punya kesan khusus dengan beliau, beliau yang suka banget ngebahas sesuatu yang membuat saya malu, kadang bikin saya takut kalau beliau ngajar fisika, bukan fisikanya.. bahasan lain tentang diri saya, tapi membuat saya merasa lebih PD ribuan kali, bahwa bersyukur dengan apa yang ada di diri kita itu lebih asyik dibandingkan terus ribet sama hal-hal sepele, dan hingga jadilah saya seperti ini, over PD *semoga bisa dikontrol yaa nona*.

Kaget, iyalah. Umur beliau masih cukup muda menurut saya, badannya bugar, namun.. kematian? Siapa yang bisa mengelak.

Siang.

Group di WhatApps dan BBM rame, ada apa lagi ini? Ibunda Pak HNW meninggal shubuh tadi. Aduh, saya lemes.. Takut, teringat ayah dan mamah dirumah, apa kabar mereka. Sebenarnya saya sangat semangat bekerja hari ini, saya sudah berjanji akan bekerja secara profesional dan rajin, eh.. kok yaa, pengen banget buru-buru pulang. Namun, saya tidak ingin membawa pekerjaan kerumah, saya coba tuntaskan, walaupun akhirnya dibawa pulang juga 😀  *gimana sih dian!*

Malam.

Adzan maghrib sudah berkumandang. Rumah yang jaraknya tidak lebih dari 5 meter ini dengan masjid, membuat kumandang adzan itu terasa begitu keras, seakan-akan menarik hamba-hamba Allah dengan cepat untuk segera berwudhu. Beberapa kali saya dengar si hp bunyi, dan saya tidak suka bunyian hp di saat adzan maghrib, bikin tergoyah niat yang tadinya udah lurus, eh jadi berbelok untuk scroll down dan scroll up, huh! Tapi karena dari nadanya itu tanda kalau ada SMS yang masuk, saya sempatkan dulu baca pesan singkat itu. Lagi dan lagi.. awal pesan yang bikin degupan jantung terasa lebih cepat : “Innalillahi wa inna illahi roji’un”. Kali ini kabar dari dari adik tingkat yang ibundanya baru saja menghadap Allah. Bener-bener tersungkur di kamar, bendungan air mata tentu sudah tak bisa tahan untuk melawan ego “hey, saya ini mujahidah yang tangguh dan tidak cengeng lho..”, oke.. memang lebih baik menangis.

Sesaat kemudian saya amati sosok ayah dan mamah, mereka masih bergerak lincah, ayah terburu-buru berangkat ke masjid, mamah masih sibuk dengan counter pulsa. Sambil berkata pelan, “ayah, mamah teruslah bergerak.. izinkan dian berbakti lebih baik lagi, janji atas rangkaian senyum untuk kalian belum aku tunaikan, teruslah bergerak”.

***

Hari ini, hmm.. teringat nasehat dari seorang mentor yang diambil dari ayat Al-Qur’an di Surah Al-Imrah ayat 200 : Ishbiru (Bersabarlah) – wa shoobiru (kuatkanlah kesabaran) – wa roobithu (tetap bersiap siaga) – waattaquullah (bertaqwalah kepada Allah). 4 lapisan yang harus ada dalam diri kita untuk siap menghadapi ujian apapun yang ada didepan mata. Hingga sampai pada suatu akhir : Agar kamu beruntung.

Suatu hari di beberapa tahun yang lalu, saat membereskan lemari mamah, saya menemukan kain panjang batik. Aha! Ini pasti untuk saya, pikir saat itu. Saya suka kain batik panjang untuk selimut tidur, karena memang hanya saya yang pakai itu dirumah. Tiba-tiba mamah bilang, “dian, kain batik panjang itu bukan untuk dian”, hah? Lha.. untuk siapa? Apa kesukaan saya memakai kain batik panjang untuk selimut tidur itu sudah menular ke orang-orang dirumah? Asyikk.. jadi trendcenter *plak!. Mamah meneruskan bicaranya, “itu untuk ayah dan mamah, kematian itu kan hal yang pasti datang, jadi biar kalian nanti nggak repot cari-cari kain panjang, penutup wajah, sama kain kafan, mamah udah siapin disitu semua”. Nyess! Aah, mamah.. apa harus se-dini ini dipersiapkan? Saat itu saya hanya tersenyum, padahal dalam hati pengen banget nangis, yah..

Coba cermati perkataan mamah saya “kematian itu kan hal yang pasti datang”, right, absolutely right! Hal yang paling pasti di dunia ini adalah K-E-M-A-T-I-A-N, saat ini kita semua sedang berjalan menuju kematian. Apakah kita sudah mempersiapkannya? Arrgghhh, teriak kenceng-kenceng minta ampun di tepi pantai juga nggak akan mempan kalau perintah dari Allah kepada malaikat izra’il sudah turun untuk segera mencabut nyawa seseorang. Benar jika banyak nasehat kepada manusia, untuk mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya. Karena kematian itu sesuatu yang pasti dan sudah tercatat. Kita sedang menunggu giliran. Masa-masa di dunia inilah yang akan menjadi sarana kita untuk mempersiapkan kematian. Baik atau buruknya kita kembali kepada Allah, yaa.. tergantung dengan persiapan kita.

Tidak penting seberapa banyak orang mengenal kita, yang penting adalah.. seberapa banyak orang yang mengambil kebermanfaatan dalam diri kita

Menjadi pribadi yang bermanfaat merupakan salah satu langkah mempersiapkan kematian dengan baik, agar kebermanfaatan diri bisa terus dirasakan, walaupun sudah meninggal, yaa.. amal jariyah.

Senin, hari ini pun ditutup dengan sebuah sms renungan yang datang dengan cukup mengagetkan : CUKUPLAH KEMATIAN MENJADI NASIHAT.

Jakarta, 21
Mei  ’12

Semoga Almarhum Bapak Jaya Kusmanyadi (Guru Fisika SMAN 58 Jakarta) ditempatkan pada posisi terbaik di sisi Allah. Untuk Ibunda Pak HNW, juga Ibunda Angga Ardiansyah (P3 TNM IPB ’46/Kaderisasi DKM Al-Ghifari 2010-2011) diterima seluruh amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan kekuatan untuk lebih bersabar lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s