Aisyah Kecil


“Ammah.. aku mandi.. ammah, aku mandi” teriak anak perempuan berumur 2 tahun dari dalam kamar mandi yang terbuka. Saya yang baru saja tiba di kamar suatu wisma daerah Cibubur tersenyum-senyum melihat ada balita kegirangan bermain shower didalam kamar mandi, langsung saja saya mendekatinya.

“Namanya siapa? Waah, seneng sekali bermain air yaa.. ayo mandinya cepetan, main sama ammah yuk” namanya Aisyah, saya tahu dari umi-nya yang sedang memegang tubuh Aisyah yang tak bisa diem. Ceria sekali Aisyah ini saya suka melihatnya. Saya yakin balita ini mudah berinteraksi dengan orang lain, dan saya akan menyiapkan waktu bermain dengannya 😀

“Aisyah, ammah pergi dulu yaa, nanti kita bermain”, saya pamit mau ke aula tempat dimana Acievement Motivation Training untuk kelas 6 diadakan. Sambil bermain shower, aisyah melambai-lambaikan tangannya ke saya. Aah, nggak sabar bermain dengan bocah ini.

Setelah beberapa lama di aula, aisyah datang dengan uminya, ia langsung berlarian menuju saya, sambil berteriak “ammah ian.. ammah ian” woow! Anak ini sudah tahu nama saya, bahahaa.. ini pasti dikasih tahu uminya. Dengan cepat Aisyah menempel ke saya, duduk dipangkuan saya, sambil minta di ajak bercanda. Eh anak ini lucu sekali, selalu bilang “lagi..” dan tertawa seru saat saya mengangkatnya lebih tinggi. Asyiik, dapat mainan baru disini, haha.

Teman- teman yang mau bermain dengan Aisyah pun kudu memajukan bibir beberapa centi kedepan, aisyah menolak dan tetap ingin bersama saya. Maap yaa man –teman. :p

Saat bermain dengan Aisyah, saya jadi teringat murid kecil, saat saya mengajar di PAUD Juara. Miripp deh, namanya Najma, tapi Najma tidak seceria Aisyah, Najma lebih pemalu, dan pendiam.

Rasanya saya rela kehilangan beberapa waktu saya untuk tetap bermain saat itu, bercengkrama dengan anak-anak itu seperti lupa kalau orang dewasa itu punya beban hidup, hidup ini keras nak! Haha. Kelak nanti kau akan mengerti. Dan Aisyah kecil hanya mengerti kalau hidup itu penuh dengan keceriaan : bermain air dengan shower, berlarian di rerumputan, di angkat tubuhnya ke udara, tapi tidak untuk digigit serangga. 😀

Saya harus ke wisma bersama dengan murid-murid yang lain, lalu kembali lagi ke aula. Setibanya saya di aula, saya melihat Aisyah merengek-rengek. Aisyah langsung meminta untuk digendong, owh.. ternyata aisyah digigit serangga saat bermain di rerumputan. Kasian aisyah, kulitnya jadi merah-merah. Ia bilang : “atit kakinya” sambil memeluk saya kencang.

Saat mengendong dan memeluk Aisyah, ada rasa gimana gitu, kenapa anak ini maunya bersama saya? Sedang ia tak mau bersama uminya. Lucu, kadang anak-anak itu sesuka hati saja. 😀

Menggendong Aisyah itu seperti memutar kembali ingatan dengan murid-murid kecil saya dulu. Kalau mereka menangis, saya mengendong dan memeluknya. Rinduuu, sangat rindu.. sudah seperti apa mereka? Aha! Tentu semakin cerdas 🙂

Semakin tak sabar memiliki anak dari rahim sendiri, haha #abaikan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s