#prayforgaza


Jum’at, 16 November 2012

Setiap hari jum’at, saya memiliki jadwal mengajar yang lumayan full. Salah satunya saya mengajarkan mata pelajaran Character Building. Tema pekan ini tentang : tanggungjawab. Namun, sebenarnya saya masih bersedih hati, berita tentang penyerangan roket Israel terhadap rakyat di Gaza, masih saja terngiang-ngian di kepala saja. Jiwa saya masih geram, hati tentu tak menerima. Okey, di ruang kelas ini saya tidak ingin geram seorang diri, disini ada anak-anak yang harus tahu kondisi saudaranya yang (mungkin) masih bersekolah seperti mereka, yang (mungkin) juga sedang menghafal surah QS. At-Thariq, yang (mungkin) masih suka memakan permen bersamaan dengan ingus yang naik-turun, yang juga suka bermain main bola, atau yang juga suka menggambar rocket.

Tapi anak-anak disini perlu tahu, saudaranya disana belum tentu memiliki ayah dan bunda yang masih hidup, belum tentu memiliki rumah besar yang ada AC-nya, belum tentu memiliki buku gambar dan spidol untuk menggambar rumah-rumahan atau pemandangan indah, belum tentu bisa tidur nyeyak, belum tentu bisa berangkat ke sekolah dengan nyaman, dan belum tentu mereka bisa bermain bola dengan riang, karena disana mereka bermain dengan batu-batu kecil yang dilemparkan ke tank-tank Israel.

Saat itu juga saya memutuskan, untuk memberikan info terupdate tentang kondisi saudara-saudara di Gaza, masih bersangkutan dengan tema : tanggungjawab terhadap saudara se-iman. Saya sudah siapkan beberapa video tentang GazaUnderAttack yang terjadi di malam tahun baru hijriah lalu.

“Anak-anak, ayo kita duduk di lantai membentuk lingkaran, Bu Dian akan bercerita tentang saudara-saudara kita di Gaza”, saya berbicara agak lantang di depan kelas.

anak-anak berlarian duduk di lantai, sambil bertanya-tanya, “Ibu, ada apa di Gaza?” “Bu, Gaza dimana bu?” “Bu, Gaza yang di Palestina kan bu” “Bu, Gaza rumahnya dimana?” #doeeeeng!!

Diawal, saya memberikan pertanyaan “Ada yang tahu Gaza itu dimana?” , anak-anak ribut, mereka berebut menjawab dan berharap saya memintanya untuk menjawab. Saya dengarkan dulu jawaban-jawaban mereka. Hingga ada yang menjawab : “Gaza itu salah satu kota di Palestina, saudara-saudara kita banyak yang terbunuh disana karena diserang kaum yahudi Israel yang jahat. Aku diceritain ummi sebelum tidur tentang Gaza” waaaah, setelah banyak jawaban ngelantur, ada juga yang jawabannya bener gini.

Saya memulai cerita tentang serangan roket Israel yang diluncurkan pada malam tahun baru hijriah, disaat umat Islam sedang melakukan muhasabah menuju perbaikan diri, lalu roket-roket itu menghantam mobil Komandam Umum HAMAS : Ahmad Al-Jabbari, hingga beliau menghadap Allah (Semoga Allah berikan syahid pada beliau). Terus saya ceritakan, bahwa korbannya lebih banyak anak-anak, ibu-ibu, dan lanjut usia. Korban bertambah banyak, juga yang luka-luka. Serangan ini serangan yang tidak boleh didiamkan saja, seluruh dunia harus mengecam, karena kaum Yahudi Israel ini tidak akan pernah puas. Sedang kita harus terus membela Palestina sampai kemerdekaan yang nyata untuk warga Palestina didapatkan. Sambil terus bercerita, dengan membandingi kondisi yang nyaman tentram sentosa di Indonesia, bahwa kondisi di Gaza sana sangat mengerikan dengan ancaman roket-roket Israel yang kapan saja bisa menyerang mereka.

Saya melihat satu per satu anak murid saya, menangis sesenggukan. Mereka ikut mengecam sikap Israel yang seperti tak punya hati, oh bukan.. mereka tak pernah mengenal apa arti saudara. Saya memutar video-video serangan Israel terhadap Palestina, juga beberapa video saat roket Israel membunuh banyak anak-anak balita.

Anak-anak makin menangis sesenggukan. “Nak, semoga tangismu menandakan bahwa hati-hati kalian masih bersih, masih bisa merasakan empati”. Saya melihat Najwa (8 tahun), wajahnya sangat merah, ia menangis paling deras. Beberapa pertanyaan terlontar dari mulut mungil anak-anak. Mereka banyak menanyakan kenapa Israel terus menyerang Palestina, hingga ada yang memberikan pernyataan : “Bu, kita harus menolong teman-teman di Gaza, bu, aku mau ke Gaza doong bu” (Haekal, 8 Tahun).

Diakhir, saya memimpin do’a untuk rakyat-rakyat Palestina di Gaza yang sedang mengalami kedzoliman dari Israel. Tangisan anak-anak menghiasi do’a siang itu, saya merasakan kedamaian, karena dengan berdo’a dan dana yang saat ini baru bisa kami bantu untuk saudara-saudara di Gaza.

Selesai berdo’a, Najwa masih saja menangis kejer, saya memeluknya erat, ia bilang : “aku benci Israel bu, karena Israel bikin aku menangis terus menerus melihat pembunuhan di Palestina”. Sambil saya usap air matanya : “Nak, Allah beserta malaikatnya tidak akan berdiam diri. Kita harus terus membantu saudara kita dengan do’a dan harta kita”.

Saya mengajak anak-anak agar do’a untuk Palestina tak pernah terlupa, disetiap sujud-sujud shalat mereka. #prayforgaza.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s