keluh kesah yang meresahkan


Lagi-lagi, saya tuliskan pengalaman saya. Jadi maap-maap yaa, isi blog ini tuh yaa pengalaman saya, tapi semoga kita tetap cerdas menangkap hikmah yaa.

Jejaring sosial akhir-akhir ini makin di gandrungi penduduk dunia. Selain sebagai penghubung komunikasi jarak jauh dengan sanak sodara, berniaga, juga sebagai ajang aktualisasi diri *ini lho diri gue..* dan kadang aktualisasi diri itu yang berlebihan. Bikin saya males ngebacanya, tapi kebaca juga X_X

Saya menghindari sebisa mungkin, dan semampunya, untuk tidak berkeluh kesah tentang apapun di media sosial, termasuk di blog ini. Karena keluhan itu hanya sampah, dan nggak guna sama sekali.

Suatu hari, ada seorang kakak tinggat, yang status ввм™ -nya, twitter-nya, facebook-nya isinya keluhan semua, dan kadang pikiran jahat saya mulai bermain : “eh, itu pengen banget dikomentarin yak”

Eh, beberapa teman saya pun mengomentari, “dian, kakak itu kenapa sih, kok kalau update apapun isinya tentang keluh kesah melulu, sakit lah, ini lah, itu lah, aku kasian liat dia”. Hmm, saya pun sempat berfikir seperti itu, kasian. Apa tidak ada sedikit rongga kebahagiaan yang bisa dibagi-bagi?

Saya sering kali khawatir jika orang tersebut mengeluhkan sakit, kecewa, atau apalah. Itu akan terus terbawa ke tiap aktifitasnya, bukankah itu saya tidak enak?

Saya sempat mendapatkan pelatihan tentang manajemen emosi :
“bahwa sumber segala-galanya dalam tubuh ini adalah otak”

Semua pusat kendalinya di otak, makanya sering kali para motivator berkoar-koar untuk mendoktrin para pengikut seminar motivasi untuk mensugestikan diri sebagai orang yang hebat, sukses, bahagia, dan lain-lain. Karena, kendali otaklah yang akan menggerakan kita menuju yang kita impikan.

Namun, jika otak hanya diisi dengan sedih, kecewa, sakit hati, lemah, iri, sebel, marah, kita tidak akan pernah mengenal ada istilah lain yang bernama bahagia, senang, ceria, kuat, bisa, tangguh, dll.

Mengkhawatirkan banget nggak sih kondisi orang yang suka mengeluh? Akhirnya, demi memutuskan generasi pengeluh, saya memberanikan diri untuk meyakinkan kakak tingkat saya, untuk merubah semua status-statusnya menjadi status yang bermanfaat, berbagi kebahagian, dan lupakan kesedihan, lupakan rasa sakit, karena itu semua berkaitan dengan keinginan untuk berani menghadapi masa depan, atau terus menerus menyalahkan masa lalu yang nggak akan pernah kembali. Hah! Kekuatan dari mana itu,, berani sekali saya ini, tapi sungguh, ini dalam rangka saya sayang pada dirinya.

Suatu malam, saya sempat berkeluh di twitter, saat ngetweet itu memang merasakan hal tidak baik lebih dari badmood yang saya rasakan. Hingga akhirnya, saya dihujani mention secara tiba-tiba..

“Hey ian, lo kenapa? Tumben ngeluh”
“ian, kehabisan stok happy lo yak?”
“Dian, kamu kenapa? Coba istighfar dulu”

Duh, tiba-tiba saya merasa sangat bersalah, akhirnya saya mendelete tweet keluhan itu dan menjawab mention teman-teman dengan ceria lagi.

Akhlak manusia itu sepeti bulan, kita hanya bisa melihat sisi bulan yang menghadap ke bumi, kita hanya bisa melihat akhlaq manusia yang terlihat saja. Yang lainnya biar itu menjadi rahasia kita dengan Allah. Semoga yang tak terlihat itu menjadi ‘kewaspadaan’ kita.

Nah, yang masih berkeluh kesah, mau dilanjutkan atau move on? Saya mah milih jadi pribadi yang membahagiakan aja, insyaAllah, bantu-bantu yak..

“Jika sekiranya turun kepadamu suatu musibah yang dapat disiasati, janganlah merasa lemah. Jika sekiranya turun kepadamu musibah yang kamu tidak punya kemampuan untuk bertindak terhadapnya, janganlah berkeluh kesah dan berlindunglah kepada Allah Subhanaju wa Ta’ala dari hal itu” –Pesan Orang Persia (dalam buku : Membangun Keteguhan Seorang Muslim.

Iklan

4 pemikiran pada “keluh kesah yang meresahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s