MP-ASI

Sekitar 78 hari lagi, di tanggal 14 Februari, Hanina akan menghadapi MP-ASI perdananya. Sebagai bundanya Hanina, sejak saat ini saya udah mulai deg2an, bagaimana nanti memulainya, sukses nggak yaa, hanina mau ga yaa, dan semua kekhawatiran seorang dian yang cupu banget dalam dunia permasakan.

Tapi, saya yang hamba Allah penuh kekurangan ini, ingin juga memberikan gizi yang terbaik untuk Hanina, juga untuk keluarga saya. Hobi sih baca (katanya) makanya nyari buku MP-ASI, banyakin browsing menu2 awal MP-ASI, simpen dulu buat jadi bank resep MP – ASI. Banyak nanya ini itu ke yang pengalaman. Harapan terbesar saya : bisa mengaplikasin ilmu yang udah saya ketahui.

Berharap banget bisa nguasai dapur, melakukan banyak eksperimen, sampai detik ini saya masih cupu, semoga makin terlatih.

Jika suatu hari nanti saya mulai bekerja diluar rumah, di hari pertama Hanina MP-ASI, harus saya yang meracik semua makanan dan mendampingi Hanina sampai makanannya habis :))

*terbayang2 akan masa itu nanti, oke my daugther, we can do anything together*

Btw, dian jual buku ini lho.. buku “bikin MP-ASI dari menu keluarga”. Harganya 45.000 aja 😉

View on Path


“No gadgeting, while mothering”

slogan yang diusung emak2 di group, kayaknya belum berlaku buat gue yang semua kerjaan terkontrol dari gadget. Khususnya Hp dan Tab.

Lagi berusaha banget selama hanina melek, ga megang gadget, dan balesin semua chat customer – upload foto – rekap administrasi @tokodifa dll disaat hanina tidur.

Nah, begini neh, nyambi gendong hanina yang udah tertidur, sambil mondar mandir balesin chat customer, cek readystok, dan kirim rekap transfer.

Makanya bener banget kalau seorang ibu itu multitasking, kerjain ini itu dalam satu waktu. Karena seorang ibu yang dirumah maupun yang berkarir itu kerjaanya bejibun,, bun,, bun. Aaah~ tuh kan gue ngerasain kan.. and i love it!

View on Path


Nabung ASIP lagi..

Alhamdulillah, seneng banget ini, Hanina bobo bisa pumping satu tempat dapat 100ml. Yeay, i did it!

Setelah lama nggak pumping, tadi bersihin lagi botol kaca untuk ASIP, masih ada waktu buat nabung ASIP buat kondisi2 darurat, dan persiapan untuk masuk kerja bila lamaran sayandi apply.

Cita-cita kasih ASI ekslusif memang harus diperjuangkan, karena menjalaninya memang cukup tantangan kalau nggak sungguh-sungguh mau memberikan ASI ekslusif. Mulai dari omongan2 orang lain, mitos ini itu. Hingga meyakinkan diri “MENYUSUILAH DENGAN KERAS KEPALA”. Sehingga apapun tantangannya bisa dilewati, ahiiy.

Bunda ingin memberikan ASI ke Hanina selama 2 tahun, walaupun nanti di 6 bulan akan MPASI, harapannya untuk susu Hanina nggak perlu sufor. Jika tidak memungkinkan, Bunda lebih memilih susu kambing untuk bayi sebagai pengganti ASI. Itu hanya opsi-opsi aja. Pokoknya Bunda yakin.. pasti bisa memberikan ASI ke Hanina selama 2 tahun.
Bismillah.. doakan yaa :))

“Air Susu Ibu adalah hadiah yang sangat berharga yang dapat diberikan pada bayi.. Dalam keadaan miskin mungkin hadiah satu-satunya.. Dalam keadaan sakit mungkin merupakan hadiah yang menyelamatkan jiwanya.” (UNICEF)

Love,
Hanina&Bunda

View on Path


Narsis, eksis! Mulai mengenali wajahnya..

Ceritanya, ayahbunda Hanina udah kehabisan ide mau ngajak main apalagi disaat mati listrik yang lumayan lama, sedangkan Hanina udah bosen dengan mainan cilukba, gelitik2, ngobrol2, mainan bibir dan suara2 yg keluar dr mulut. Hingga akhirnya bunda punya ide, aha!!

Ngeluarin hp dan menonton video2 hanina sekaligus foto2 yang ada di hp bunda. Hanina yg tdnya udah mulai nangis2 manja, jadi diem dan antusias liat wajahnua yang imoet2 itu ada dilayar hp milik bundanya.

Ditampilkan semua foto dan video hanina, sampai hanina kakinya ga bisa diem naik2 keatas, ketawa2, mulutnya ampe maju2. Sampaikan pada kelelahan ayahbundanya yg pegel megangin hp. Ya udah kan ya, dimatiin itu hp. Apa yang terjadi? Hanina nangis kejeeeer >.<

Akhirnya, hp bunda di nyalain lagi dan memutarkan video Hanina, dia diem dong, sambil ketawa2 lagi dan kakinya diangkat2 tanda kegirangan.

Ngeliat situasi ini, ayahbundanya malah ngerjain hanina, videonya di hentikan dan hanina nangis, dinyalakan lagi dan hanina diem, terus begitu, sampai hanina nangis kejer, ayahbundanya malah ketawa terbahak2.

Oke sip, nemu cara menghentikan tangis hanina dengan memperlihatkan videonya.

Eh, ternyata hanina malah ketagihan. Dia antusias bgt klo ada foto2 dan videonya. Dan pernah suatu malam, saya memperlihatkan kipas yang ada gambar2 kartunnya. Niatnya buag kapasin Hanina biar nggak kepanasan, malah saya haru memegangi kipas tersebut di depan wajahnya.. sampai dia terlelap.. 2 jam pegangin kipas.. -_-" makasih nak, tangan bunda pegel2.

Sekarang agak kapok nampilin foto dan video hanina, dikeluarkan jika dalam kondisi tertentu aja.. hehe

Ini tahapan perkembangan anak lagi : mulai memperhatikan benda yang ada disekelilinyanya.

Tapi terlepas dr itu, nebak2 boleh ya.. kayaknya Hanina visual spasial, kayak emaknya. :p Wallahu'alam.

Love,
Hanina&Bunda

View on Path


Imunisasi.

Apa yang ada dalam pikiranmu tentang imunisasi?
Sejak dulu, hal ini sering kali diperdebatkan. Iya sering banget.

Ada kelompok yang antivaksi, ada yang provaksin.

Saya mencoba mempelajari kedua kelompok itu, sejak saya masih gadis belia, polos, belum berencana menikah, cuman kepikiran ntar anak saya mirip siapa ya.. *dan yak, ternyata setelah punya anak, dominan ayahnya* pukpukpuk.

Saat ikut seminar prokontra imunisasi, dr tiap narasumber hanya memaparkan manfaat – kandungan dan kenapa ada yg tidak mau di imunisasi. Saya menanti2 jawaban tegas, “Jadi harus diimunisasi nggak neh bocah2 imut itu?”, namun.. endingnya : “bagi kami, anak diikutsertakan dalam program imunisasi atau tidak itu dikembalikan lagi kepada orangtuanya”.

Yaaah, kecewa dong saya. Maksudnya tuh.. bilang IYA harus diimunisasi, atau TIDAK diimunisasi. Gitu aja.

Tapi, makin kesini saya makin belajar, sambil terus berdoa “Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu”.. dan yak, saya memutuskan untuk imunisasi Hanina Shofwatun Nisa binti Gatot Prasetyo Hadi bin Djumelan.

Terlepas dari banyaknya komentar dr pihak kontra, saya memohon kepada Allah, “ini ikhtiar kami (orangtua dari Hanina), mengupayakan yang terbaik untuk Hanina, maka kami memohon agar Engkau berikan kesehatan untuk Hanina dengan terus menjaganya dan melindunginya dr berbagai virus bakteri dan kuman yang membandel” 😀

Teruntuk ayahbunda,
Jangan sampai anak menjadi korban dari tiap keputusan kita sebagai orangtua yang kurang antusias untuk belajar memahami sesuatu. Diimunisasi atau tidak, teruslah memberikan yang terbaik untuk buah hati kita. Banyak berdoa, banyak bertanya, banyak membaca, banyak belajarrrrrr… karena menjadi orangtua itu adalah proses panjang dalam belajar dan menerapkan ilmu yang selama ini kita punya.

Yuk ah, hentikan hujatan2 kepada yang pro ataupun kontra.. tapi mengedukASI pemahaman itu harus.

Love,
Hanina&Bunda
Kali ini.. sama Ayah juga.

View on Path